Jumat, 08 November 2019

Risalah Nubuwah #1: Mengharamkan Jasad dari Neraka

Bismillahirrahmanirrahiim


Hadits diriwayatkan dari Al-Bukhari No. 465, Muslim No. 33 dan Ahmad (4/44)

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka, barangsiapa yang mengatakan 'Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah' dan dengan hal tersebut dia mengharap wajah Allah."

Faidah Hadits:
1. Kemuliaan Tauhid dan sesungguhnya Tauhid itu membebaskan dari neraka dan menghapus dosa-dosa.
2. Tidak cukup iman itu hanya diikrarkan tanpa keyakinan.
3. Tidaklah cukup iman itu hanya keyakinan tanpa diikrarkan.
4. Pengharaman atas neraka bagi orang sempurna ketauhidannya.
5. Sesungguhnya barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa allahu, namun dia menyeru (beribadah) kepada selain Allah, maka kalimat tauhid itu tidak bermanfaat baginya.
6. Penisbatan wajah Allah Subhanahu wa ta'ala, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.
---
Sumber:
- Al-Mulakhos fi Syarhi Kitabit Tauhid - Syaikh Sholeh Fauzan (Hafidzahullahu ta'ala)

Selasa, 18 Juni 2019

Sabar Seluas Lautan



Seringkali pertolongan Allah tidak datang ketika keringat sedang bercucuran.

Terkadang ketika peluh demi peluh sudah terbasuh dan derai air mata telah mengering. Kita berada di persimpangan jalan yang semuanya seolah sempit buntu.
Kemudian kita bergumanam, 'Ya sudah pasrah saja'.

Justru ketika itulah pintu yang tertutup menjadi terbuka. Jalan yang sempit menjadi lapang.

Bukan karena Allah tak melihat usaha kita. Namun terkadang saat kita merasa kemampuan kita dapat mengatasi masalah, rasa ujub itu membuat lupa bahwa Masyi'ah Allah di atas Masyi'ah makhluk. Dan lepaslah tautan hati kita kepada Rabb.

Ketika kita sadar semua pintu justru semakin rapat dan jalan bertambah menyempit dan berbatu, barulah kita ingat kepada kepada yang selama ini membuka pintu-pintu dan melapangan segala sesuatu bagi kita.

Ketika itulah tawakal muncul dan hati kembali bertaut.

Bahwa kemampuan kita saja tidak cukup membuka jalan-jalan kemudahan. Karena usaha hanya sebatas mencari sebab, sedangkan Allahu 'ala kulli syaiin qodiir. Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu.

Bukankah Dia mengatakan,

فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا《٥》إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 《٦

"(5) Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. (6) Sesungguhnya beserta kesulitan ini ada kemudahan." [Sura Al-Sharh:5-6]

Maka sekuat apapun kemampuan kita, jangan lepaskan tautan hati kepada pemiliknya.

Bersabarkan atas kesulitan demi kesulitan. Fasbir shobron jamila. Bersabarlah dengan sabar yang indah. Bukankah ilmu-Nya, pengelihatan-Nya, penjagaan dan pertolongan-Nya ada pada orang-orang yang bersabar?

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِینَ《٤٦

"... Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar." (Surah Al-Anfal:46)

Maka tunggulah pertolongan Allah. Karena ia merupakan salah satu diantara ibadah
yang paling agung.

•••

Surabaya, 18 Juni 2019 | 01:25
Yang diajari memiliki sabar seluas lautan,
Abdurrahman.

Jumat, 14 Desember 2018

Kemudahan Menyertai Kesulitan


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين
وصلاة وسلام على نبي الكريم محمد وعلى اله واصحبه اجمعين

قل تعالي
Telah berfirman Allah Subhanahu Wata'aala,

فَإِنَ مَعَ العُسْرِ يُسْرًا《٥》إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا《٦》 (سورة الإنشراح)

Maka sesungguhnya berserta kesulitan ada kemudahan. Sesunggunya beserta kesulitan ada kemudahan.

Allah berfirman tentang (العسر) 'kesulitan' dalam bentuk Ma'rifat (dengan alif lam) atau telah ditentukan/diketahui. Sedangkan (يسرا) 'kemudahan' dalam bentuk Nakiroh (tanpa alif lam) yang bersifat umum/segala hal yang medatangkan kemudahan. Menandakan bahwa dalam setiap kesulitan terbuka segala macam kemudahan yang menyertainya. Kemudian Allah mengulangi firman-Nya pada ayat setelahnya untuk penekanan. Tidakkah kita percaya akan janji-Nya? Ketika datang suatu kesulitan, maka ketahuilah pertolongan Allah telah dekat. Wallahu a'lam.