Kamis, 23 Agustus 2018

Bukan Si Fulan atau Si Fulan

بسم الله وألحمد لله. الصلاة و السلام على رصول الله. وبعد
Di hari ini, kita telah melihat begitu banyak manusia yang berbicara, sedangkan mereka tidak memiliki ilmu terhadapnya, pada dua hal:
1. Perkara agama yang mulia ini.
2. Kisruh politik.
Dua hal yang sekarang ini paling mudah mengundang ghibah dan fitnah.

Mereka atau kita mungkin sering mengatakan. Si Fulan sok alim, si Fulan suka mengkafirkan. Ulama Fulan begini, ulama Fulan begitu. Padahal merasakan kesemutan saat duduk di majelis ilmu saja kita tidak pernah.
Atau mengatakan, pejabat Fulan begini dan pejabat Fulan begitu. Padahal nama-nama menteri saja kita tidak hafal.

Saudaraku, bukankah di hari kiamat kelak kita tidak ditanya tentang si Fulan? Bukankah Nabi Shallahu 'alaihi wa salam mengatakan,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba di hari kiamat sehingga dia ditanya, untuk apa di habiskan umurnya, bagaimana ilmunya dia amalkan, tentang hartanya darimana dan untuk apa dia belanjakan dan tubuhnya untuk apa ia gunakan." [1]

Tak ada pertanyaan kenapa Fulan? Kenapa Fulan?

Maka daripada itu, kami mengajak kepada diri kami pribadi dan teman-teman sekalian untuk berbicara sesuatu yang kita ilmui saja. Bukankah Nabi Shallahu 'alaihi wa salam telah mengatakan,

《من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت》

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata baik atau diam." [2]

اللهم صلي على محمد وعلى آله و صحبه أجمعين
وبالله التوفيق
•••
Di tengah kegembiraan persiapan walimah seorang kawan & keinginan untuk segera menyusul. Biidznillah.
Palembang, 6 Dzulhijjah 1439 H | 07:31 WIB
Ilham
•••
Footnote:
[1] HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) - Dikutip dari www.muslim.or.id
[2] HR. Al-Bukhari

Rabu, 27 Juni 2018

Harapan untuk Pemimpin dan Diriku (Rakyat)

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji hambanya, siapa yang paling bagus dalam beramal. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang telah Dia berikan sehingga kita mampu mengerjakan amal-amal Sholeh. Semoga Allah terima amal kita dan diganti dengan pahala dari sisi-Nya.

Sholawat dan Taslim semoga selalu tercurahkan untuk hamba kekasih kita. Nabi yang agung Muhammad -Shallahu 'alaihi wa salam-. Karena berkat wahyu yang Allah titipkan kepada beliau sebagai mukjizat terbesar, kita mampu berhijrah dari alam Jahiliyyah menuju kemulian Al-Islam. Semoga Sholawat itu bersambung kepada keluarga beliau dan para sahabat -Ridwahullahu 'alaihim ajma'in-.

اللهم صل و سلم على نبينا محمد وعلى اله والصحابه أجمعين

Jagat sosial media tentulah ramai dengan foto-foto jari kelingking sebagian dari saudara kita yang baru saja menyalurkan hak suara mereka pada Pilkada serentak hari ini, 27 Juni 2018.

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, tentang houum mengikuti demokrasi. Ada yang mengatakan haram secara mutlak -karena tidak berasal dari islam- dan ada yang membolehkan untuk menghindari Mudhorat yang lebih besar. Sebagaimana yang difatwakan oleh Dewan Perhimpunan Fatwa Al-Irsyad pimpinan Dr. Firanda Andirja, MA, bolehnya menyalurkan hak suara dengan syarat-syarat yang dibenarkan.

Untuk lebih jelasnya silahkan teman-teman seklian baca disini.

Kami pun cenderung mengikuti fatwa tersebut karena kefakiran dalam berilmu. Tetapi jika dalam kondisi kami tidak mengenal calon yang ada, kami lebih cenderung untuk tidak menggunakan hak suara. Baik, itu semua adalah pilihan Anda sendiri, untuk mengikuti fatwa yang lebih menenangkan hati. Ndak usah ribut-ribut ya.

Apa yang hendak kami sampaikan ialah, sebuah harapan dari rakyat biasa yang fakir ilmu kepada Allah yang maha luas ilmu-Nya, untuk pemimpin kami.

Semoga Allah jadikan dari Pilkada serentak tahun ini, pemimpin-pemimpin yang bertakwa, amanah dan mengindahkan syariat islam. Serta Allah lahirkan saat ini dan seterusnya, pemimpin-pemimpin terbaik dari kalangan Mukminin. Sehingga Allah jadikan Indonesia Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur (negeri yang baik dengan Rabb yang maha pengampun).

Kemudian sebuah ajakan kepada saudara-saudariku di seluruh penjuru Indonesia, mari kita doakan pemimpin kita. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Fudhail bin Iyadh, "Jika aku mempunyai satu doa yang mustajab, maka akan digunakan untuk mendoakan pemimpin."
Sesorang bertanya, "Kenapa begitu, wahai imam?"
Beliau -Rahimahullah- menjawab, "Karena jika kugunakan untukku, maka kebaikan itu hanya untuk diriku. Tetapi jika kugunakan untuk pemimpinku, maka kebaikan itu untuk seluruh rakyat dan negeri." MasyaAllah, sebuah nasihat emas dari Salaf kita.

Maka hendaknya, saudaraku, janganlah menyibukkan diri kita dengan membuka aib-aib pemimpin. Menjelek-jelekkannya baik di dunia nyata maupun di media sosial. Sadarkan kita bahwa itu sudah termasuk Ghibah? Dosa yang begitu menjijikkan seperti memakan bangkai saudara sendiri? Maka kami berlindung kepada Allah dari perbuatan ini.

Al-Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair mencantumkan berkhianat kepada pemimpin sebagai dosa besar ke-40. Beliau menyampaikan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Fitan, Bab Qoul An-Nabi,

"من كره من اميره شئا فليسبر, فإنه من خرج من السلطان شبرا مات ميتة جاهليه"

"Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar. Karena barangsiapa yang keluar dari keataan kepada pemimpin (sejauh sejengkal sekalipun, lalu dia mati), maka dia mati dalam keadaan Jahiliyah."

Kami bukan ingin menghukumi orang-orang yang menghina pemimpin mati dalam keadaan Jahiliyyah karena ini perkara yang perlu cabang-cabang pendalilan lain. Adapun yang hendak kami sampaikan ialah, hendaknya kita bersabar.

Tentu banyak sekali ayat Al-Quran yang mengatakan "Taatilah Allah & Rasul-Nya serta pemimpin diantara kalian..." begitu juga dengan Hadits nabi, "Barangsiapa menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya." (Riwayat At-Tirmizi)

Biarlahkan ulama yang faqih tentang agama ini untuk menasihati pemimpin. Itu pun dengan cara yang hikmah untuk menjaga kerhormatannya. Bagaimana dengan kita yang tidak berilmu? Lantas menghujat, menghina dan bergampang-gampangan dalam menekan tombol Share dari laman-laman media yang tidak bertanggung jawab akan diri kita kelak dihadapan Allah. Perkara Ghibah ini berat, saudaraku.

Kami pun mungkin bukan orang yang suci dari Ghibah. Tetapi sebaiknya mulailah kita berlepas dari dari perkara ini.

Ingatkan dengan Hadits Nabi yang mengatakan tentang orang yang bangkrut? Orang yang begitu banyak amal kebajikannya, tetapi habis karena diberikan kepada orang yang telah di-Ghibah, kemudian ia dilemparkan kepada neraka? Wa Naudzubillah.

Kami memang bukan orang yang suci. Kami hanya peduli kepada saudara-saudari kami yang sering sekali bermusuhan, berdebat di media sosial dengan melemparkan hinaan demi hinaan.

Sadarilah, pemimpin kita itu punya tuhan sebagaimana kita punya tuhan yang sama. Jika mereka Dzalim, mereka akan dihukum. Sebagaimana jika kita Dzalim terhadapnya kita juga akan dihukum. Tunaikan hak kita sebagai rakyat, maka kita akan mendapat pahala sekalipun mereka (pemimpin) tidak menunaikan kewajibannya terhadap kita. Dan tentu mereka akan dihukum. Allah maha adil saudaraku, dipundak para pemimpin kita sudah ada malaikat yang mencatat. Tidak terlewat satu huruf dari lisannya, kecuali akan termaktub dalam catatan amalnya.

Semoga kita semua dapat menjadi rakyat yang bijak.
Semoga Allah berikan kepada kita pemimpin yang terbaik dari kalangan umat ini.

اللهم صل و سلم على نبينا محمد

وألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
---




Footnote:
- Kami menyampaikan dalil dari yang pernah didengar dari guru kami. InsyaAllah Shahih. Silahkan dicek kembali kebenarannya dan ingatkan jika ada yang keliru.

Sumber Gambar:
https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjmkuORjPTbAhVXWX0KHSADC0cQjRx6BAgBEAU&url=http%3A%2F%2Fstyle.tribunnews.com%2F2016%2F11%2F03%2Fldii-larang-atributnya-dibawa-bawa-saat-demo-4-november-ini-alasannya%3Fpage%3D2&psig=AOvVaw3zLFsRcXlp-GAGvvGnwTkM&ust=1530197502486099

Minggu, 06 Mei 2018

Inikah Ramdhan Terakhirku?

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين. الصلاة و السلام على نبي الكريم



Berkata Al Imam Hasan Al-Basri -Rahimahullah-,

يا إبن ادم انما انت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

"Wahai anak ada. Tidaklah kehidupan kalian melainkan adalah sebagaian dari waktu. Ketika setiap hari waktu pergi, maka pergi pula sebagian dirimu."

Beliau -Rahimahullah- hendak menyampaikan kepada kita hakikat kehidupan ini. Kehidupan yang sejatinya setiap langkah kita, merupakan perjalanan menuju kepada Rabbul 'aalamiin. Walau kita tak tahu, kapan waktu itu akan tiba.

Berkata Allah -Tabaraka wa ta'aala-,

"وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ..."

"... Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal." (QS. Luqman:34)

Ramadhan, tamu Agung kita, -InsyaAllah- kurang 10 hari hingga kita menjumpainya. Selama bumi ini belum Allah hempaskan dengan hempasan yang dahsyat, maka selama itu Ramadhan akan datang. Tapi tak ada jaminan kita masih ada. Maka tak heran jika para ulama salaf begitu perhatian terhadap hal ini. Merupakan kerugian besar, jika mereka tak menjumpai Ramadhan.

Berkata Imam Ibnu Rajab Al-Hambali -Rahimahullah- dalam kitabnya Lathaif Al-Ma'arif,

"Dulu para salaf berdoa selama enam bulan sebelum Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan. Kemudian selama enam bulan setelah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amalan mereka selama Ramadhan."

Adapun diantara doa yang sering diucapkan para ulama salaf adalah,

"اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ وَ سَلِّمْ لِي رَمَضَانَ وَ تَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلَا"

"Ya Allah, sampaikanlah aku ke Ramadhan dan sampaikanlah Ramadhan kepadaku dan terimalah amalanku di bulan Ramadhan."

Bukan enam kali, bukan enam jam, bukan enam hari. Tetapi enam bulan, saudaraku. Menunjukkan betapa mereka, para ahli ilmu dan ibadah, mempersiapkan diri dan menyambut tamu agung yang datang dengan jutaan kemuliaan. Apa saja kemulian itu?

1. Bulan diturunkan Al-Quran


Sebagaimana difirmankan oleh Allah -Tabaraka wa ta'ala-:



"... ۚ شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ"


"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil), ..." (QS. Al-Baqarah:185)

Dan perlu kita ketahui, tidak sesuatu itu bersama Al-Quran, kecuali ia menjadi yang terbaik. Nabi yang diwahyukan kepadanya Al-Quran, maka Muhammad -Shalallahu 'alaihi wa salam- menjadi sebaik-baik makhluk. Umat yang telah dijadikan untuknya Al-Quran sebagai petunjuk, maka merekalah Kuntum Khoiru Ummah. Dan bulan, yang diturunkan di dalamnya Al-Quran, menjadi sebaik-baik bulan yang Allah jadikan awal hingga akhirnya dipenuhi Rahmat, Maghfirah dan pembebasan dari api neraka.


2. 1 Malam yang Lebih Baik dari 1000 Bulan

"إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْر{ِ1} وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ{2} لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌۭ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍۢ{3}"

"(1) Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam Qadr. (2) Dan tahukah kamu apa malam Qadr itu? (3) Malam Qadr itu lebih baik dari seribu bulan."

Adapun malam, yang diturunkan di dalamnya Al-Quran, menjadi sebaik-baik malam yang bahkan lebih baik dari 1000 bulan.

Dalam Hadits yang sangat Masyhur diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah -Shallahu 'alaihi wa salam- bersabda:

"من قام ليلة القدر ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه"

"Barangsiapa yang mengerjakan Shalat di malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan karena mengharap Ridho Allah, maka dosa-dosanya yang terdahulu diampuni."

Maka wajar jika dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah, bahwa Nabi -Shallahu 'alaihi wa salam- pernah bersabda:

"فيه ليلة خير من الف شهر, من حرم خيرها فقد حرم ..."

".... Padanya (Bulan Ramadhan) terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikan, maka ia tidak mendapatkannya."

3. Dibuka Pintu Surga dan Ditutup Pintu Neraka

Nabi -Shallahu 'alaihi wa salam bersabda-:

"إذا كان أول ليلة من رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن, وغلفت ابواب النار فلم يفتح منها باب, وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب, وينادي مناد: يا باغي الخير أقبل, ويا باغي الشر أقصر. ولله عتقاء من النار وذالك كل ليلة"

"Pada malam pertama di bulan Ramadhan setan-setan dan pembesar-pembesar jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun pintunya yang dibuka, sementara pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pun pintu yang ditutup, lalu seorang peyeru berseru, "Hai pencari kebaikan, datanglah dan hai pencari keburukan, berhentilah!" Allah mengampuni orang-orang yang terbebas dari neraka, dan itu terjadi pada setiap malam."

4. Diampuni dari Dosa yang Telah Lalu

Dalam Hadits yang sudah sangat kita hafal, Nabi -Shallahu 'alaihi wa salam- pernah bersabda:
"من صام رمضان إيمان واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه"

"Barangsiapa berpuasa di bulan Ramdhan dengan keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Dan,
"من قام رمضان إيمان واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه"

"Barangsiapa sholat (qiyamul lail) di bulan Ramadhan dengan imanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Maka, saudaraku, apa yang lebih kita butuhkan dari ampunan?

Tentu kita semua berharap dapat bertemu dengan Ramadhan yang terus akan datang, tetapi sesungguhnya usia kitalah mungkin tidak sampai. Maka di antara nasihat pada ulama ialah, jadikan Ramadhan yang kita dapati, seolah-olah Ramadhan terkahir kita. Sebagaimana bila seseorang yang sholat, kemudian dia mengetahui bahwa setelah sholat dia akan mati, maka sholatnya tersebut sudah pasti sholat terbaik yang ia kerjakan semasa hidup.

Maka daripada itu, mari -semoga Allah sampaikan kita pada Ramadhan- dapati Ramadhan kita dan gigit dengan geraham. Karena boleh jadi, tahun ini adalah Ramadhan terkahir kita.

Wallahu ta'ala a'lam.

Sumber Tulisan:
- Disarikan dari Tabligh Akbar "Ramadhan Terkahirku" oleh Ust. Rizal Yuliar Putrananda di Masjid Jami' Makkah Surabaya (Sabtu, 28 April 2018)

Sumber Gambar:
- http://sidomi.com/wp-content/uploads/2014/06/kurma-640x320.jpg