Sabtu, 29 September 2018

Jagalah Allah


بسم الله الحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى أله و صحبه أجمعين

Segala puja dan puji syukur kepada Allah -subhanahu wa ta'ala- atas nikmat yang telah Dia berikan kepada saya dan pembaca semua. Dan salah satu nikmat itu ialah berupa pertolongan dari Allah kepada saya pribadi sehingga dapat menulis hal yang semoga dapat menjadikan setiap kata yang teman-teman baca, menjadi pemberat timbangan amal saya. Dan semoga Allah menjadikan sampainya teman-teman semua ke tulisan ini, adalah suatu kebaikan yang akan dipetik dan menjadi ladang pahala, baik bagi yang menulis dan membaca,

Sholawat serta salam, rasa rindu dan kecintaan dari kita, semoga Allah sampaikan kepada hamba kekasihnya, Muhammad bin Abdillah -shallahu 'alaihi wa salam-. Semoga salam tersebut bersambung kepada para keluarga beliau, sahabat dan orang-orang yang berdiri tegak di atas sunnah yang agung.

Rasulullah -shallahu 'alaihi wa salam- pernah berpesan kepada Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dengan nasihat sebuah nasihat emas, bahwa beliau -shallahu 'alaihi wa salam- pernah mengajarkan kepada Ibnu Abbas beberapa untaian kalimat, di mana di antara kalimat tersebut ialah,

إحفظ الله, يحفظك... (الحديث)

"Jagalah Allah, maka Dia (Allah) akan menjagamu." [1]

Di antara hikmah yang dapat dipetik dari nasihat emas tersebut ialah, bahwasannya Allah tidak akan membiarkan hamba yang senantiasa menjaga agama Allah, menjaga syariat-Nya, menunaikan hak-hak Allah. Maka Allah tidak akan membiarkannya dalam kesusahan,

Dalam satu kesempatan, ada suatu pesan disampaikan oleh Al-Ustadz Al-Fadhl Dr. Arifin Badri -hafidzahullah-, yang mana pesan ini saya rasa baik untuk disampaikan kepada teman-teman pembaca sekalian. Yakni, beliau -hafidzahullah- berkata,

'Jangan terlalu sibuk mengkambinghitamkan orang yang mendzalimi kita, orang yang merampas hak kita. Tapi pikirkanlah, andai Allah menjaga kita, maka Allah tidak membiarkan kedzaliman atas kita dan Allah akan menjaga kita.' 


Kurang lebih begitu kata beliau.

Janganlah berkata, 'Ini karena si fulan, karena kedzaliman si fulan'. Katakanlah, 'Ini karena kita tidak menjaga Allah kemudian Allah tidak menjaga kita'. Bukankan sebesar apapun makar manusia, tidak akan mencelakakan kita jika Allah melindungi kita? Bukankah Allah sebaik-baik penjaga?

Ingatkan kita tentang doa yang dipanjatkan Nabi -shallahu 'alaihi wa salam- ketika perang Ahzab yang mana doa ini pernah dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim -'alaihi salam- ketika dilemparkan ke dalam api?

حسبنا الله ونعم الوكيل

'Cukuplah Allah bagi kami dan sebaik-baik penolong.'


Bahwasannya ribuan tetara Ahzab tidak mencelakakan Nabi -shallahu 'alaihi wa salam- dan para sahabat -ridwanullahu ajma'in-. Bahwasannya api tidak membakar tubuh Nabi Ibrahim- 'alaihi salam-. Karena tidaklah makar tesebut terhalang dari mereka kecuali atas penjagaan Allah -subhanahu wa ta'ala-.

Kemudian tentunya kita tahu kisah hijrah Nabi -shallahu 'alaihi wa salam- dan Abu Bakr Ash-Shidiq -radhiallahu anhu- ketika berada di buah tsur, ketika Quraisy mendapati jejak-jejak kaki mereka sampai ke atas goa kemudian Abu Bakr Ash-Shidiq berkata, 'Ya Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah, niscaya mereka akan melihat kita.' Kemudian Nabi shallahu 'alaihi wa salam menjawab, 'Wahai Abu Bakr, apa prasangkamu ketika ada dua orang sedangkan yang ketiganya adalah Allah?' [2]

Kemudian Allah -subhanahu wa ta'ala- abadikan kisah ini,

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ … (الأيه) (سورة التوبة:40)
"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. … (Al-Ayat)" 
(QS. At-Taubah:40)


Maka semoga Allah -subhanahu wa ta'ala- menjadikan kita hamba-hamba yang pandai menjaga agama-Nya, menjaga syariat dan hak-hak-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga kita pada ketakwaan dan jalan hidayah. Karena barangsiapa yang Allah berikan kepadanya hidayah, niscaya tidak ada orang bias menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang mampu memberikannya hidayah sedikit pun.

اللهم صل وسلم على نبينا محمد
والحمد لله رب العالمين
---
ٍSurabaya, 19 Muharrom 1440 H
Ilham

Footnote:
[1] HR. At-Tirmizi & Ahmad
[2] Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahmah Al-Mubarakfuri

Kamis, 23 Agustus 2018

Bukan Si Fulan atau Si Fulan

بسم الله وألحمد لله. الصلاة و السلام على رصول الله. وبعد
Di hari ini, kita telah melihat begitu banyak manusia yang berbicara, sedangkan mereka tidak memiliki ilmu terhadapnya, pada dua hal:
1. Perkara agama yang mulia ini.
2. Kisruh politik.
Dua hal yang sekarang ini paling mudah mengundang ghibah dan fitnah.

Mereka atau kita mungkin sering mengatakan. Si Fulan sok alim, si Fulan suka mengkafirkan. Ulama Fulan begini, ulama Fulan begitu. Padahal merasakan kesemutan saat duduk di majelis ilmu saja kita tidak pernah.
Atau mengatakan, pejabat Fulan begini dan pejabat Fulan begitu. Padahal nama-nama menteri saja kita tidak hafal.

Saudaraku, bukankah di hari kiamat kelak kita tidak ditanya tentang si Fulan? Bukankah Nabi Shallahu 'alaihi wa salam mengatakan,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba di hari kiamat sehingga dia ditanya, untuk apa di habiskan umurnya, bagaimana ilmunya dia amalkan, tentang hartanya darimana dan untuk apa dia belanjakan dan tubuhnya untuk apa ia gunakan." [1]

Tak ada pertanyaan kenapa Fulan? Kenapa Fulan?

Maka daripada itu, kami mengajak kepada diri kami pribadi dan teman-teman sekalian untuk berbicara sesuatu yang kita ilmui saja. Bukankah Nabi Shallahu 'alaihi wa salam telah mengatakan,

《من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت》

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata baik atau diam." [2]

اللهم صلي على محمد وعلى آله و صحبه أجمعين
وبالله التوفيق
•••
Di tengah kegembiraan persiapan walimah seorang kawan & keinginan untuk segera menyusul. Biidznillah.
Palembang, 6 Dzulhijjah 1439 H | 07:31 WIB
Ilham
•••
Footnote:
[1] HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) - Dikutip dari www.muslim.or.id
[2] HR. Al-Bukhari

Rabu, 27 Juni 2018

Harapan untuk Pemimpin dan Diriku (Rakyat)

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji hambanya, siapa yang paling bagus dalam beramal. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang telah Dia berikan sehingga kita mampu mengerjakan amal-amal Sholeh. Semoga Allah terima amal kita dan diganti dengan pahala dari sisi-Nya.

Sholawat dan Taslim semoga selalu tercurahkan untuk hamba kekasih kita. Nabi yang agung Muhammad -Shallahu 'alaihi wa salam-. Karena berkat wahyu yang Allah titipkan kepada beliau sebagai mukjizat terbesar, kita mampu berhijrah dari alam Jahiliyyah menuju kemulian Al-Islam. Semoga Sholawat itu bersambung kepada keluarga beliau dan para sahabat -Ridwahullahu 'alaihim ajma'in-.

اللهم صل و سلم على نبينا محمد وعلى اله والصحابه أجمعين

Jagat sosial media tentulah ramai dengan foto-foto jari kelingking sebagian dari saudara kita yang baru saja menyalurkan hak suara mereka pada Pilkada serentak hari ini, 27 Juni 2018.

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, tentang houum mengikuti demokrasi. Ada yang mengatakan haram secara mutlak -karena tidak berasal dari islam- dan ada yang membolehkan untuk menghindari Mudhorat yang lebih besar. Sebagaimana yang difatwakan oleh Dewan Perhimpunan Fatwa Al-Irsyad pimpinan Dr. Firanda Andirja, MA, bolehnya menyalurkan hak suara dengan syarat-syarat yang dibenarkan.

Untuk lebih jelasnya silahkan teman-teman seklian baca disini.

Kami pun cenderung mengikuti fatwa tersebut karena kefakiran dalam berilmu. Tetapi jika dalam kondisi kami tidak mengenal calon yang ada, kami lebih cenderung untuk tidak menggunakan hak suara. Baik, itu semua adalah pilihan Anda sendiri, untuk mengikuti fatwa yang lebih menenangkan hati. Ndak usah ribut-ribut ya.

Apa yang hendak kami sampaikan ialah, sebuah harapan dari rakyat biasa yang fakir ilmu kepada Allah yang maha luas ilmu-Nya, untuk pemimpin kami.

Semoga Allah jadikan dari Pilkada serentak tahun ini, pemimpin-pemimpin yang bertakwa, amanah dan mengindahkan syariat islam. Serta Allah lahirkan saat ini dan seterusnya, pemimpin-pemimpin terbaik dari kalangan Mukminin. Sehingga Allah jadikan Indonesia Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur (negeri yang baik dengan Rabb yang maha pengampun).

Kemudian sebuah ajakan kepada saudara-saudariku di seluruh penjuru Indonesia, mari kita doakan pemimpin kita. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Fudhail bin Iyadh, "Jika aku mempunyai satu doa yang mustajab, maka akan digunakan untuk mendoakan pemimpin."
Sesorang bertanya, "Kenapa begitu, wahai imam?"
Beliau -Rahimahullah- menjawab, "Karena jika kugunakan untukku, maka kebaikan itu hanya untuk diriku. Tetapi jika kugunakan untuk pemimpinku, maka kebaikan itu untuk seluruh rakyat dan negeri." MasyaAllah, sebuah nasihat emas dari Salaf kita.

Maka hendaknya, saudaraku, janganlah menyibukkan diri kita dengan membuka aib-aib pemimpin. Menjelek-jelekkannya baik di dunia nyata maupun di media sosial. Sadarkan kita bahwa itu sudah termasuk Ghibah? Dosa yang begitu menjijikkan seperti memakan bangkai saudara sendiri? Maka kami berlindung kepada Allah dari perbuatan ini.

Al-Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair mencantumkan berkhianat kepada pemimpin sebagai dosa besar ke-40. Beliau menyampaikan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Fitan, Bab Qoul An-Nabi,

"من كره من اميره شئا فليسبر, فإنه من خرج من السلطان شبرا مات ميتة جاهليه"

"Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar. Karena barangsiapa yang keluar dari keataan kepada pemimpin (sejauh sejengkal sekalipun, lalu dia mati), maka dia mati dalam keadaan Jahiliyah."

Kami bukan ingin menghukumi orang-orang yang menghina pemimpin mati dalam keadaan Jahiliyyah karena ini perkara yang perlu cabang-cabang pendalilan lain. Adapun yang hendak kami sampaikan ialah, hendaknya kita bersabar.

Tentu banyak sekali ayat Al-Quran yang mengatakan "Taatilah Allah & Rasul-Nya serta pemimpin diantara kalian..." begitu juga dengan Hadits nabi, "Barangsiapa menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya." (Riwayat At-Tirmizi)

Biarlahkan ulama yang faqih tentang agama ini untuk menasihati pemimpin. Itu pun dengan cara yang hikmah untuk menjaga kerhormatannya. Bagaimana dengan kita yang tidak berilmu? Lantas menghujat, menghina dan bergampang-gampangan dalam menekan tombol Share dari laman-laman media yang tidak bertanggung jawab akan diri kita kelak dihadapan Allah. Perkara Ghibah ini berat, saudaraku.

Kami pun mungkin bukan orang yang suci dari Ghibah. Tetapi sebaiknya mulailah kita berlepas dari dari perkara ini.

Ingatkan dengan Hadits Nabi yang mengatakan tentang orang yang bangkrut? Orang yang begitu banyak amal kebajikannya, tetapi habis karena diberikan kepada orang yang telah di-Ghibah, kemudian ia dilemparkan kepada neraka? Wa Naudzubillah.

Kami memang bukan orang yang suci. Kami hanya peduli kepada saudara-saudari kami yang sering sekali bermusuhan, berdebat di media sosial dengan melemparkan hinaan demi hinaan.

Sadarilah, pemimpin kita itu punya tuhan sebagaimana kita punya tuhan yang sama. Jika mereka Dzalim, mereka akan dihukum. Sebagaimana jika kita Dzalim terhadapnya kita juga akan dihukum. Tunaikan hak kita sebagai rakyat, maka kita akan mendapat pahala sekalipun mereka (pemimpin) tidak menunaikan kewajibannya terhadap kita. Dan tentu mereka akan dihukum. Allah maha adil saudaraku, dipundak para pemimpin kita sudah ada malaikat yang mencatat. Tidak terlewat satu huruf dari lisannya, kecuali akan termaktub dalam catatan amalnya.

Semoga kita semua dapat menjadi rakyat yang bijak.
Semoga Allah berikan kepada kita pemimpin yang terbaik dari kalangan umat ini.

اللهم صل و سلم على نبينا محمد

وألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
---




Footnote:
- Kami menyampaikan dalil dari yang pernah didengar dari guru kami. InsyaAllah Shahih. Silahkan dicek kembali kebenarannya dan ingatkan jika ada yang keliru.

Sumber Gambar:
https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjmkuORjPTbAhVXWX0KHSADC0cQjRx6BAgBEAU&url=http%3A%2F%2Fstyle.tribunnews.com%2F2016%2F11%2F03%2Fldii-larang-atributnya-dibawa-bawa-saat-demo-4-november-ini-alasannya%3Fpage%3D2&psig=AOvVaw3zLFsRcXlp-GAGvvGnwTkM&ust=1530197502486099