Selasa, 18 Juni 2019

Sabar Seluas Lautan



Seringkali pertolongan Allah tidak datang ketika keringat sedang bercucuran.

Terkadang ketika peluh demi peluh sudah terbasuh dan derai air mata telah mengering. Kita berada di persimpangan jalan yang semuanya seolah sempit buntu.
Kemudian kita bergumanam, 'Ya sudah pasrah saja'.

Justru ketika itulah pintu yang tertutup menjadi terbuka. Jalan yang sempit menjadi lapang.

Bukan karena Allah tak melihat usaha kita. Namun terkadang saat kita merasa kemampuan kita dapat mengatasi masalah, rasa ujub itu membuat lupa bahwa Masyi'ah Allah di atas Masyi'ah makhluk. Dan lepaslah tautan hati kita kepada Rabb.

Ketika kita sadar semua pintu justru semakin rapat dan jalan bertambah menyempit dan berbatu, barulah kita ingat kepada kepada yang selama ini membuka pintu-pintu dan melapangan segala sesuatu bagi kita.

Ketika itulah tawakal muncul dan hati kembali bertaut.

Bahwa kemampuan kita saja tidak cukup membuka jalan-jalan kemudahan. Karena usaha hanya sebatas mencari sebab, sedangkan Allahu 'ala kulli syaiin qodiir. Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu.

Bukankah Dia mengatakan,

فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا《٥》إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا 《٦

"(5) Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. (6) Sesungguhnya beserta kesulitan ini ada kemudahan." [Sura Al-Sharh:5-6]

Maka sekuat apapun kemampuan kita, jangan lepaskan tautan hati kepada pemiliknya.

Bersabarkan atas kesulitan demi kesulitan. Fasbir shobron jamila. Bersabarlah dengan sabar yang indah. Bukankah ilmu-Nya, pengelihatan-Nya, penjagaan dan pertolongan-Nya ada pada orang-orang yang bersabar?

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِینَ《٤٦

"... Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar." (Surah Al-Anfal:46)

Maka tunggulah pertolongan Allah. Karena ia merupakan salah satu diantara ibadah
yang paling agung.

•••

Surabaya, 18 Juni 2019 | 01:25
Yang diajari memiliki sabar seluas lautan,
Abdurrahman.

Jumat, 14 Desember 2018

Kemudahan Menyertai Kesulitan


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين
وصلاة وسلام على نبي الكريم محمد وعلى اله واصحبه اجمعين

قل تعالي
Telah berfirman Allah Subhanahu Wata'aala,

فَإِنَ مَعَ العُسْرِ يُسْرًا《٥》إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا《٦》 (سورة الإنشراح)

Maka sesungguhnya berserta kesulitan ada kemudahan. Sesunggunya beserta kesulitan ada kemudahan.

Allah berfirman tentang (العسر) 'kesulitan' dalam bentuk Ma'rifat (dengan alif lam) atau telah ditentukan/diketahui. Sedangkan (يسرا) 'kemudahan' dalam bentuk Nakiroh (tanpa alif lam) yang bersifat umum/segala hal yang medatangkan kemudahan. Menandakan bahwa dalam setiap kesulitan terbuka segala macam kemudahan yang menyertainya. Kemudian Allah mengulangi firman-Nya pada ayat setelahnya untuk penekanan. Tidakkah kita percaya akan janji-Nya? Ketika datang suatu kesulitan, maka ketahuilah pertolongan Allah telah dekat. Wallahu a'lam.

Sabtu, 29 September 2018

Jagalah Allah


بسم الله الحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى أله و صحبه أجمعين

Segala puja dan puji syukur kepada Allah -subhanahu wa ta'ala- atas nikmat yang telah Dia berikan kepada saya dan pembaca semua. Dan salah satu nikmat itu ialah berupa pertolongan dari Allah kepada saya pribadi sehingga dapat menulis hal yang semoga dapat menjadikan setiap kata yang teman-teman baca, menjadi pemberat timbangan amal saya. Dan semoga Allah menjadikan sampainya teman-teman semua ke tulisan ini, adalah suatu kebaikan yang akan dipetik dan menjadi ladang pahala, baik bagi yang menulis dan membaca,

Sholawat serta salam, rasa rindu dan kecintaan dari kita, semoga Allah sampaikan kepada hamba kekasihnya, Muhammad bin Abdillah -shallahu 'alaihi wa salam-. Semoga salam tersebut bersambung kepada para keluarga beliau, sahabat dan orang-orang yang berdiri tegak di atas sunnah yang agung.

Rasulullah -shallahu 'alaihi wa salam- pernah berpesan kepada Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dengan nasihat sebuah nasihat emas, bahwa beliau -shallahu 'alaihi wa salam- pernah mengajarkan kepada Ibnu Abbas beberapa untaian kalimat, di mana di antara kalimat tersebut ialah,

إحفظ الله, يحفظك... (الحديث)

"Jagalah Allah, maka Dia (Allah) akan menjagamu." [1]

Di antara hikmah yang dapat dipetik dari nasihat emas tersebut ialah, bahwasannya Allah tidak akan membiarkan hamba yang senantiasa menjaga agama Allah, menjaga syariat-Nya, menunaikan hak-hak Allah. Maka Allah tidak akan membiarkannya dalam kesusahan,

Dalam satu kesempatan, ada suatu pesan disampaikan oleh Al-Ustadz Al-Fadhl Dr. Arifin Badri -hafidzahullah-, yang mana pesan ini saya rasa baik untuk disampaikan kepada teman-teman pembaca sekalian. Yakni, beliau -hafidzahullah- berkata,

'Jangan terlalu sibuk mengkambinghitamkan orang yang mendzalimi kita, orang yang merampas hak kita. Tapi pikirkanlah, andai Allah menjaga kita, maka Allah tidak membiarkan kedzaliman atas kita dan Allah akan menjaga kita.' 


Kurang lebih begitu kata beliau.

Janganlah berkata, 'Ini karena si fulan, karena kedzaliman si fulan'. Katakanlah, 'Ini karena kita tidak menjaga Allah kemudian Allah tidak menjaga kita'. Bukankan sebesar apapun makar manusia, tidak akan mencelakakan kita jika Allah melindungi kita? Bukankah Allah sebaik-baik penjaga?

Ingatkan kita tentang doa yang dipanjatkan Nabi -shallahu 'alaihi wa salam- ketika perang Ahzab yang mana doa ini pernah dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim -'alaihi salam- ketika dilemparkan ke dalam api?

حسبنا الله ونعم الوكيل

'Cukuplah Allah bagi kami dan sebaik-baik penolong.'


Bahwasannya ribuan tetara Ahzab tidak mencelakakan Nabi -shallahu 'alaihi wa salam- dan para sahabat -ridwanullahu ajma'in-. Bahwasannya api tidak membakar tubuh Nabi Ibrahim- 'alaihi salam-. Karena tidaklah makar tesebut terhalang dari mereka kecuali atas penjagaan Allah -subhanahu wa ta'ala-.

Kemudian tentunya kita tahu kisah hijrah Nabi -shallahu 'alaihi wa salam- dan Abu Bakr Ash-Shidiq -radhiallahu anhu- ketika berada di buah tsur, ketika Quraisy mendapati jejak-jejak kaki mereka sampai ke atas goa kemudian Abu Bakr Ash-Shidiq berkata, 'Ya Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah, niscaya mereka akan melihat kita.' Kemudian Nabi shallahu 'alaihi wa salam menjawab, 'Wahai Abu Bakr, apa prasangkamu ketika ada dua orang sedangkan yang ketiganya adalah Allah?' [2]

Kemudian Allah -subhanahu wa ta'ala- abadikan kisah ini,

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ … (الأيه) (سورة التوبة:40)
"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. … (Al-Ayat)" 
(QS. At-Taubah:40)


Maka semoga Allah -subhanahu wa ta'ala- menjadikan kita hamba-hamba yang pandai menjaga agama-Nya, menjaga syariat dan hak-hak-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga kita pada ketakwaan dan jalan hidayah. Karena barangsiapa yang Allah berikan kepadanya hidayah, niscaya tidak ada orang bias menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang mampu memberikannya hidayah sedikit pun.

اللهم صل وسلم على نبينا محمد
والحمد لله رب العالمين
---
ٍSurabaya, 19 Muharrom 1440 H
Ilham

Footnote:
[1] HR. At-Tirmizi & Ahmad
[2] Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahmah Al-Mubarakfuri