Senin, 02 Desember 2013

How to be A Creative Writer with Raditya Dika

  • How to be A Creative Writer with Raditya Dika_Part1

Setiap Blogger tentunya menggemari hobi menulis yang ia tuangkan dalam dunia Maya, walau terkadang nama mereka sendiri bukan Maya, atau bahkan dunia. Entah itu berupa curahan hati, informasi, karya original dan yang sedikit tidak kreatif ialah Blog yang berisi copy-paste. Setiap blogger atau penulis, tentunya ingin sekali menuangkan apapun yang ia ingin sampaikan kepada orang banyak. Ketika tulisannya baik, maka akan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para pembaca. Namun tidak jarang pula, sebagian dari tulisan mereka hanya berakhir pada Blog yang lalu lintas pengunjungnya sepi, pertanda tulisan mereka kurang diapsresiasi. Permasalahan ini sangat klasik ketika calon penulis berbakat ini pemisis karena minimnya apresiasi dan tidak adanya keinginan untuk belajar membuat sesuatu yang lebih kreatif dan berbeda dari yang lain. Contonya dengan mengikuti berbagai seminar, atau Talkshow para penulis ternama dengan macam jenis sastranya.
Raditya Dika penulis multi talenta dengan karya-karyanya yang berhasil menjadikan dirinya sosok yang sangat dikenal di Indonesia dengan karya komedinya. Terbukti dengan banyaknya Followes pada Aku Twitter yang Verified menginjak angka enam juta. Terang saja ini murni karena ia digemari para pembaca, bukan dengan cara membeli Followers yang mungkin akan digadang-gadang sebagai bisnis abad milenium. Mengisi Meet and Greet, talkshow dan beberapa seminar lainnya telah menjadi salah satu kesibukannya selain menulis, bermain film layar lebar yang diangkat dari novelnya dan menggarap sebuah serial komedi mokomenter yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta dan Youtube. Semuanya terbilang sangat sukses, penjualan buku dengan predikat Best Seller, komedian, aktor, penggarap film serta direktur dan pemimpin redaksi penerbit BUKUNE.
Ialah Universitas Negeri Jakarta menjadi tempatnya berbagi ilmu dan pengalaman suka duka menjadi seorang penulis. Walaupun raut muka menampakkan banyak kesukaan dengan gaya komedinya yang kelas atas, ternyata menyelesaikan pendidikan strata 1 di Universitas Indoneis selama depalan tahun, merupakan salah satu duka yang harus dia lalui sebagai seorang penulis yang sibuk dengan berbagai macam deadline. Semua itu ia tuangkan dalam Talkshow yang berjudul “How to Be a Creative Writer”, dimana Saya menyempatkan diri menghadiri acara tersebut, walaupun harus rela meninggalkan seminar hari listrik nasional di kantor PT PLN (Persero) pusat yang pada dasarnya, itu adalah bidang Saya. Dimana Saya menjadi salah satu mahasiswa Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Mesin STT PLN yang terikat kontrak dengan PT PLN (Persero). Sekalipun harus meninggalkan seminar, Saya tidak menyesal karena begitu banyak yang Saya dapatkan. Mulai dari Ilmu, sertifikat, termasuk makanan dan dialog langsung dengan si Kambing Jantan Raditya Dika. Setelah berpanjang lebar, ilmu yang Saya dapatkan hari ini tanggal 28 November 2013 mengenai “How to Be a Creative Writer”.

Nah ini ketika Si Kambing Jantan mengisi Talkshow. Gue bukan yang pake kerudung.
Selesai tentang seriusnya, sekarang Gue buat ini lebih santai Guys. Check it out!
1.    Komedi adalah tragedi yang dikenal waktu
Sumber gambar disini. #ifyouknow
Ini menyangkut pertanyaan yang Gue ajukan sama Bang Dika. Nah biar dramatis, Gue kasih cuplikan sesi penghinaan kala itu.
Ilham: Asslamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas kesempatannya. Nama Saya Ilham dari STT-PLN.
Raditya Dika : Iya sama-sama, gimana pertanyaannya Ilham? (Padahal terima kasih itu buat MC yang mempersilakan Gue nanya, dengan GRnya seorang Raditya Dika menjawab “Sama-sama”)
Ilham           : Satu hal yang berbeda dari Raditya Dika yang Saya lihat hari ini.
Semua pada bilang “ciyeeeee” -_-. Ini maksudnya apa? Dikira Gue suka sama Raditya Dika. Iya sih suka, tapi sama gaya penulisan dan komedianya. Tenang, pemilik halaman ini masih normal dan tidak homo.
Ilham           : Seorang Raditya Dika ternya tinggi, kalo dilihat di atas panggung.
 (Sontak doi komat-kamit karena Gue cengin pendek dan yang lain tertawa)
Raditya Dika : (Sehabis komat-kamit, rada kesel doi karena Gue hina) Dari mana? PLN?
Ilham           : STT PLN Bang.
Raditya Dika : Apa itu kepanjangannya? Sekolah ....
Ilham           : Sekolah Tinggi Pawang Listrik Negara.
Raditya Dika : Hah? Pawang listrik?
Ilham           : Enggak, Sekolah Tinggi Teknik PLN.
Raditya Dika : Oh gitu, ngak lucu sih sebenarnya. Nanti pertemuan berikut coba lagi. (Dengan kampretnya doi jawab gitu. Balas dendam karena Gue katain pendek)
Raditya Dika : Lo belajar jurusan apa?
Ilham           : Teknik Mesin Bang.
Raditya Dika : Jadi Lo ngobrol-ngobrol sama mesin gitu ya?
Ilham           : Enggak Bang, Gue jadian sama mesin. (Gue mencoba nge-Joke)
Raditya Dika : Masih, masih nggak lucu sih sebenernya, lanjut. (Dengan gaya khasnya)
Ilham           : Jadi gini Bang, untuk menulis suatu personal Literatur, kebanyakan kita harus mengingat kejadian masa lalu. Nah gimana caranya untuk mengingat masa lalu ini ketika kita lupa.
Raditya Dika : Oh jadi ceritanya Elo pengen move oooooooon? Hahaha
Ilham           : Bukaaaaan, malahan pengen mengingat lagi Bang. (Mungkin efek kebanyakan makan martabak jadi bego’)
Raditya Dika : Gampang, Lo jadian lagi sama mantan Lo. Ntar tiba-tiba mantan Lo muncul dari situ tuh.
Ilham           : #seketikahatiGueheningdanhanyatertawa
Raditya Dika : Oke makasih pertanyaannya. Eh iya sekarang Lo lagi nulis?
Ilham           : Iya Bang.
Raditya Dika : Nah jadi gini –dengan gaya memberi tips-. Lo hentikan itu semua karena Gue gak mau kita saingan.
“Peserta yang lain gak berhentinya ketawa”
Raditya Dika : Oke jadi gini, kalau sesuatu itu Elo lupa brarti tidak terlalu berkesan. Lo lupain aja, cari sesuatu yang berkesan aja yang membuat Lo gelisah dan Elo jadikan cerita. #inisesiserius
          Jadi kesimpulannya ialah, tulislah sesuatu yang kamu ingat. Tidak usah memusingkan hal yang kamu lupa tentang personal literature.

2.    Tulislah Apa yang Kamu Ketahui Saja
Kalau kamu berusaha menulis sesuatu
yang tidak kamu ketahui, mungkin kamu hanya
sebatas memegang pena tanpa goresan.
Sumber gambar disini
Dalam teori kepenulisan, tulislah apa yang kamu ketahui saja. Jangan memaksa menulis apa yang tidak kamu ketahui. Karena yang ada nanti, tulisan kamu malah ngegantung karena gak jelas maksudnya. Karena sama kayak sesuatu hubungan yang digantung, gak jelas kan kelanjutannya gimana? Lalu akan berakhir sia-sia. Jangan sampai tulisan kamu berujung pada sia-sia. Nah tulisan yang ngegantung ini disebabkan karena kamu kurang memahami tentang yang kamu tulis. Hindarilah tulisan yang membuat pembaca bingung. Kalo tulisan kamu masih tidak diterima pembaca, ya minimal jangan gantung diri ya.




3.    Emosi Negatif akan Lebih Membekas daripada Emosi Positif
Mudah-mudahan hasil dari kegelisahan
yang kamu sampaikan ke pembaca tidak
berujung dengan gigit jari.
Sumber gambar disini
Tulislah sesuatu yang menggelisahkan atau bisa disebut energi negatif. Sesuatu yang tidak mengenakkan, tapi malah kamu bagikan ke pembaca.
Contohnya seperti ini, misalnya kamu dapet peringkat satu dikelas, lalu kamu ceritakan ini sebatas emosi positif kamu senang dapat peringkat satu. Terus kenapa? Apa yang mau kamu ceritakan tentang kamu dapat peringkat satu? Paling ya sebatas kamu senang karena usaha kamu berhasil dan pembaca hanya akan bilang, “Oh iya hebat ya”. Itu komentar dari pembaca yang besahaja. Coba kalau pembacanya sedikit primitif, mungkin dia akan bilang, “Sombong banget nih orang, dapet perinkat satu aja diceritain”. Terus ini gimana? Image sombong bakal melekat pada diri kamu Guys.
 Tapi kalau seandainya yang kamu ceritakan bukan tentang hal positf dapat peringkat satunya, tapi misalnya:
“Pada saat pembagian rapot Gue seneng karena mendapatkan peringkat satu. Tapi disisi lain Gue harus pisah dengan teman-teman sekelas.”
Pisah dengan teman sekelas inilah yang membuat kamu gelisah dan tidak rela meninggalkan mereka. Banyak yang bisa kamu gali dari situ, misalnya kenapa kamu gak rela pisah sama mereka karena mereka masih banyak hutang sama kamu, atau kenangan-kenangan bersama mereka saat masih bersama. Nah kegelisahan atau emosi negatif inilah yang bisa membuat tulisan kamu menarik.
Eits, gak berhenti sampai situ loh. Komedi membuat tulisan kamu setingkat lebih tinggi. Yuk kita lanjut ke poin berikutnya...
4.    Komedi Membuat Tulisan Kamu Setingkat Lebih Tinggi
Siap menulis dengan kreatif? Sumber gambar disini
“Komedi membuat tulisan kamu naik kelas” –Raditya Dika

Ini adalah bagian yang paling Gue suka. Sedikit ribet karena udah kayak pendidikan wajib aja pake naik kelas, tapi itu benar! Lagi-lagi komedi berasal dari yang kamu gelisahkan. Kamu berani menampilkan sesuatu yang tidak mengenakkan pada pengalaman yang berusaha kamu berikan pada pembaca, sehingga kita tertawa bersama. Bahasa kasarnya “Merelakan diri kamu untuk ditertawakan oleh orang lain”. Mungkin inilah yang membuat seorang Raditya Dika berbeda lain. Doi berusaha membuat orang lain menertawakan dirinya dengan berbagai pengalaman Absurd, tapi tetap saja ada filosofi yang diberikan didalam tulisannya sehingga terlihat menjadi sesuatu, “komedi yang cerdas”.

Nah Guys, gimana tentang tips dari Bang Raditya Dika ini?

"Belom puas, lagi-lagi. -dengan gaya Teletubies- #masakecilandaselamat"

Tenang saja Guys, kita akan bertemu kembali di How to be A Creative Writer with Raditya Dika_Part2! Doakan saja Gue punya waktu luang lebih banyak ya.

"Kasih cuplikan Part2 doooooooong -sambil nodong pistol-"

Cuplikan? Waduh korban sinetron ya? -pistol semakin medekat- Oke-oke, daripada itu pistol meledak dikepala Gue, jadi ini cuplikannya...
"Semakin banyak menulis, jarak dari otak ke tangan akan semakin dekat" -Raditya Dika", Menemukan ciri tersendiri, banyak menjadi inspirasi dan berusaha paling beda. Jadi teman, hal inilah yang akan Gue bahas pada How to be A Creative Writer with Raditya Dika part selanjutnya.
Hah? Belum jelas? Ingin bertanya? Silakan bertanya di kolom komentar teman-teman. ^^

18 komentar:

  1. Balasan
    1. Wah terima kasih sekali Rian sudah bekunjung dan di-bookmark-kan. Mudah-mudahan bisa jadi penulis kreatif dan tunggu Part2-nya ya. ^^

      Hapus
  2. wainih baguss :D radit emang jago kalau cerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah berkunjung. Semoga kita bisa menjadi lebih kreatif dalam menulis. Tunggu Part2-nya ya Bro. :D

      Hapus
  3. emosi negatif dalam sebuah tulisan ya? hmmm sejauh ini geu udah lakuin semua itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bro, memang banyak yang bisa digali dari emosi negatif. Wuih sudah jadi penulis kreatif brarti nih. :D

      Hapus
  4. Balasan
    1. Terima kasih kembali Bro sudah berkunjung. ^^

      Hapus
  5. keren informasinya kak. makasih^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali Dauz. Mudah-mudahan bermanfaat ya. :D

      Hapus
  6. banyak baca, dan coba-coba menambahkan unsur komedi yang sesuai dengan karakter blog masing-masing.. kalo gue itu aja sih, buat menambah skill selama lagi nulis. hehe. :)
    anyway posting nya keren. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih, Setuju! Penulis pasti pembaca tapi pembaca belum tentu penulis. Komedi memang membuat tulisan menjadi satu tingkat lebih tinggi. Terima kasih telah berkunjung Rendi. :D

      Hapus
  7. bagus, bisa nyeritain seminar selengkap ini, mas. ditunggu part 2 nya yaa.. oiya mau tanya. pas seminar, bang radit njelasin 'cara menemukan ciri khas' gak mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Tomi, mudah-mudahan dalam waktu dekat. Untuk menemukan ciri Khas ada Tom, di Part2 Insya Allah Saya ceritakan lagi. Di tunggu ya. :D

      Hapus
  8. haha bener, pantesan saya nulis yang ada 'energi positif'nya, agak kurang laku daripada yang ada 'energi negatif' nya haha, nice bro... meluncur ke chapter dua nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mungkin bisa dilanjutkan tuh menulis energi negatifnya. Selamat membaca Bro, tungguin #3 ya! :D

      Hapus
  9. Langsung lanjut baca bagian kedua ah~ :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan dilanjut posting yang lain juga Basith. :D

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!