Sabtu, 07 Desember 2013

How to be A Creative Writer with Raditya Dika #2

28 November 2013 At UNJ (Universitas Negeri Jakarta)
             Setiap Blogger tentunya menginginkan karya terbaik yang selalu ia buat. Entah itu tentang pengalaman pribadinya (Personal Literature), entah dia seorang sastrawan dengan berbagai macam puisi, cerpen, novel dan jenis sastra lainnya. Karya terbaik ini tidak akan tercapai jika kita malas-malasan dalam menulis, terlebih lagi jika kita memiliki profesi ganda, Blogger merangkap mahasiswa misalnya.
          Memiliki seorang inspirator, terkadang memiliki peran penting bagi kita dalam menulis berbagai karya. Walaupun, pada awalnya tulisan kita akan terkesan memiliki banyak kemiripan. Tapi kita sesampingkan itu, karena lambat laun semua akan berubah. Kita akan memiliki ciri tersendiri dalam menulis. Kita ambil contoh seorang Raditya Dika, Blogger yang sudah sangat melejit dengan berbagai buku Best Sellernya, naskah skenario dan berbagai pernghargaan lain. Tidak dapat dipungkiri, banyak dari kita menjadikan sosok Raditya Dika sebagai inspirator. Tidak masalah dengan cara penulisan yang terkesan mirip, yang terpenting adalah ketika kita berusaha menemukan ciri sendiri dan akhirnya, memiliki pencapaian terbaik.
          Nah Guys, Part kali ini adalah kelanjutan dari yang sebelumnya –kalian bisa baca disini- tentang How to be A Creative Writer with Raditya Dika. Dimana kemarin di How to be A Creative Writer with Raditya Dika sebelumnya, kita sudah membahas empat hal mulai dari komedi adalah tragedi yang dikenal waktu, tulislah apa yang kalian ketahui saja, emosi negatif akan lebih membekas daripada emosi positif dan komedi membuat tulisanmu setingkat lebih tinggi. Hah? Belom baca How to be A Creative Writer with Raditya Dika Part sebelumnya? Silakan baca disini.
          Bagaimana? Menarik bukan? Mari kita lanjutkan pembahasan kita di How to be A Creative Writer with Raditya Dika Part-2!
          Jeng... jeng... jeng... Sabar ini penampakan waktu Raditya Dika mengisi Talkshow,

Itu tuh Saya.

5. Perbanyaklah menulis
“Semakin banyak menulis, jarak dari otak ke tangan Elo akan semakin dekat.” –Raditya Dika
Ilustrasi yang lumayan horor. Sumber : disini
Saya tergaskan bukan seperti ini maksudnya! 
          Sepertinya ini tidak termasuk menulis nama pacar di pasri! Bagian paling penting, perbanyaklah menulis sobat Blogger semua....  (Seketika berisik)

Hah? Tangan dekat sama otak?...
Tangan nempel sama otak apa gimana?...

          Harap tenang semuanya, bukan tangan nempel sama otak, tapi dengan semakin sering kita menulis apa yang ada di otak kita akan semakin mudah tersalurkan dalam bentuk tulisan.

Oooooh.... lanjut-lanjut!!!

Nah memperbanyak menulis ini penting sekali teman-teman. Mungkin teman-teman semua sering melas menulis karena –menurut kalian- tulisan kalian kurang baik dan lain sebagainya. Tapi bukan itu yang terpenting. Tinggalkan terlebih dahulu tentang bagus atau tidaknya tulisan kita, yang penting kita mau menulis dan mau menciptakan karya yang terbaik. Nah kalau kita sudah mengesampingkan bagus atau tidaknya tulisan kita, pasti kita akan lebih banyak menulis walaupun hasilnya kurang sempurna. Namun ketika tangan kita sudah terlatih untuk menciptakan suatu karya, cepat atau lambat karya kita akan menjadi sangat baik.
Lalu tidak ada salahnya ketika sudah semakin mahir dalam menulis, kita buka lagi tuh tulisan lama yang belum sempurna. Paling tidak kita mengkoreksi tulisan pertama kita. Saya kasih bocoran ya Sobat, seorang Raditya Dika baru PEDE ketika naskahnya sudah melewati dua sampai empat kali koreksi, baru saat sudah sampai di Draft keempat naskah tersebut terbilang selesai. Naskah pada Draft pertama itu adalah proses mengeluarkan ide/gagasan yang ada dalam otak kita. Sedangkan Draft kedua, ketiga dan keempat adalah koreksi dalam berbagai kesalahan dan kerancuan suatu tulisan.  So, keep wiriting Guys!!!

6. Temukan Ciri-Ciri Sendiri
          Bagaimana pendapat teman-teman semua setelah membaca judul poin keenam ini? “Temukan ciri-ciri sendiri”, kalimat inilah yang masih menjadi polemik ditengah kebanyakan Blogger/penulis. Tidak bisa dipungkiri, kenapa? Karena kita mungkin hanya memiliki satu orang inspirator saja sehingga cara penulisan kita terkesan mirip –sebagaimana telah dijelaskan di poin kelima diatas-.Misalnya teman-teman suka dengan tulisannya Raditya Dika –Saya membawa nama Bang Dika karena ini Talkshow Doi. :D-, mungkin hanya melihat dari perspektif yang sama dengan Raditya Dika sehingga tulisannya terkesan mirip. Cobalah lebih observatif, misalnya menelaah berbagai macam cara penulisan orang lain.
Masih bingung, masing bingung...

Suatu saat nanti, di Blog orang lain
akan terpajang foto kita sebagai
penulis ternama.
Kalau seandainya teman-teman suka dengan gaya dari Stand Up Comedy, mungkin teman-teman bisa belajar bagaimana Open Mic, belajar dari comic-comic yang tidak kalah kocaknya dari Raditya Dika dan sebagainya untuk dijadikan Punch Line dalam tulisan komedi. Jika tentang cara penulisan, teman-teman jangan hanya melihat cara penulisan Raditya Dika, coba memperlajari dari banyak penulis hebat lainnya. Misalnya Pak Dahlan Iskan, untuk mengenal tulisan ala jurnalis  –teman-teman bisa melihat beberapa tulisan berbobot beliau disini-, Andrea Hirata dengan “Tetralogi Laskar Pelagi”, Habiburrahman El Shirazy dengan novel Best Seller “Ayat-Ayat Cinta” atau Dewi Lestari dengan gaya penulisan rumit yang banyak digemari penikmat sastra.
So Guys, jangan terpaku hanya dengan satu inspirator yang sedang Booming saat ini. Lebih observatif kebelakang, mungkin akan membuat sobat semua menampilkan gaya klasik yang dirindukan, berbalut komedi masa kini. Jika gaya seperti itu belum ada di zaman sekarang, it's yours!

Bagaimana tuh agar kita mudah menelaah berbagai macam gaya tulisan?...

          Harap kembali tenang dan menghilangkan asap yang ada di atas kepala Anda. Silakan ngemil atau lain sebagainya karena kita akan lanjut ke point berikutnya.

7. Banyak Membaca
“Seorang pembaca belum tentu penulis, tapi seorang penulis harusnya dia seorang pembaca” –Ilham (Tidak bermaksud meniru, maaf kalau ternyata ada Qoutes yang sama dan tenyata milik orang lain)
Jangan mau kalah unyu sama
Adik dibawah ini. Sumber : disini
STOP! Bukan malah ikutan ngedot!
          Poin ketujuh ini masih sangat berkaitan erat dengan keenam. Kalau tadi teman-teman bertanya, “Bagaimana tuh agar kita mudah menelaah berbagai macam gaya tulisan?...”, ini adalah jawabannya. Banyak membaca! Itulah hakikatnya seorang penulis dituntut terampil dalam mengemas suatu tulisan, disisi lain –bukan dunia lain- dia harus meluangkan waktunya berobservasi dengan membaca.
“Suatu komedi yang baik, esensinya adalah berasal dari kegelisahan penulis” –Raditya Dika
Tentunya untuk menemukan kegelisahan ini kita harus berobservasi dengan seteliti mungkin. Sama halnya dengan menulis, suatu hal yang mustahil ketika kita ingin menelaah berbagai macam gaya penulisan tanpa kita membacanya. Bagaimana? Teman-teman setuju?

Setujuuu.....!!!

MENEMUKAN CIRI SENDIRI, MENEMUKAN HATI DARI CERITA/TULISAN
COOMING SOON!!!
     Nah teman-teman, bagaimana dengan tambahan ilmu di tiga poin ini? Semoga bisa bermanfaat ya. ^^ Oh iya, masih ada kelanjutannya loh! Pembahasan yang penting dan sangat panjang makanya Saya tulis terpisah. Tenang saja sudah ditulis, hanya saja sedang mempersiapkan ilustrasi gambar. Harap besabar di How to be A Creative Writer with Raditya Dika Part3. ^^ Nyasar kesini harap meninggalkan jejak di kolom komentar ya. ^^

12 komentar:

  1. nice posting nih.
    gue masih nyoba nyari jati diri nih. tulisan di blog masih ga jelas^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makin sering nulis sama observasi aja Adiz. Cepat atau lambat bakal menemukan jati diri sendiri. :D

      Hapus
  2. Hai Ilham :) aku pengunjung baru dan... LANGSUNG SUKA sama tulisan blog kamu ^^

    aku alhamdulillah udah paham bakal ke mana gaya tulisanku dan tema yang bisa aku garap :) tapi buat matenginnya kadang mualessss banget :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai dan terima kasih juga Amanda. Saya tersanjung membaca pujiannya. :)

      Alhamdulillah kalo tulisanku bermanfaat. Di How to be a Creative Writer with Raditya Dika #3 nanti ada cara ampuh menghindari malas-masalan ini. Ditunggu ya Amanda. :D

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya Asep. Mudah-mudahan kita bisa lebih kreatif dalam menulis. :D

      Hapus
  4. Inspirative! Kalo aku kayaknya masih mempertahankan genre blog random deh :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Putri. ^^ Random juga bagus kok, yang penting ciptakan ciri tersendiri. :D
      Silakan baca lanjutannya di : http://www.ilhamsliterature.com/2013/12/berusaha-untu-menjadi-yang-paling-how.html?showComment=1388215216641#c4052028322452435769

      Hapus
  5. Terus berlatih hingga mendapatkan ke-khas-an dan lakukan observasi. Dapat poinnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener! Harus rajin nulis dan baca. :D

      Hapus
  6. Soal jarak tangan dan otak itu penjabarannya lebih lengkap ada di buku Creative Writing karya A.S. Laksana. Mungkin radit juga belajar dari buku itu.. Keep writing guys..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, bukunya recomended banget bagi yang lagi menggebuh-gebuh buat nulis. ^^

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!