Sabtu, 21 Desember 2013

Siapa Bilang E-Learning untuk Guru dan Siswa itu Buruk dan Mengharukan?

  •  Antara memang sanggup atau sedekar tuntutan teknologi
“Kamu sudah tahu informasi terbaru sekarang? Tentang....”

“Sudah dong, bahkan teman-teman yang lain juga sudah tahu.”

“Cepat sekali ya perkembangan informasi sekrang.”

“Iyalah, soalnya sekarang teknologi sudah semakin canggih. Apalagi dengan mudah semua informasi bisa diakses di Smartphone, Samsung Galaxy Core salah satunya.”
Diatas adalah kutipan dialog yang sering sekali terjadi di sekitar kita. Cepat dalam menyebarkan informasi melalui berbagai media di Indonesia bahkan di dunia, mutlak menjadi tuntutan yang sejatinya tidak bisa dihindarkan. Pesatnya kemajuan teknologi dalam berbagai bidang, membuat segala sesuatu teresaji secara cepat dan instan. Tidak mau ketinggalan zaman, imbasnya setiap orang harus mengimbangi perkembangan teknologi yang berkembang secara pesat ini, dengan caranya sendiri. Entah dengan menggunakan Gadget-Gadget  canggih seperti Samsung Galaxy Core, meng-Update bebagai informasi di berbagai media dan lain sebagainya.
Internet sebagai sesuatu yang sudah menjelajah ke berbagai ranah di Indonesia bahkan di dunia, sukses menjadikannya sebagai hal yang sangat dikenal berbagai kalangan. Entah itu anak kecil, remaja, orang dewasa dan manula. Bahkan bocah yang seharusnya ada pada pengawasan orang tua pada jam dia harus minum susu, tidak sedikit yang ditemui di warung-warung internet. Game Online, Social Media Facebook, Twitter dan lain sebagainya kebanyakan menjadi sasaran utama mereka. Timbul pertanyaan, apakah ini sesuatu yang positif atau sebaliknya?


Merupakan sebuah fakta bahwa internet dalam status sosial telah memasuki berbagai ranah. Tidak berhenti sampai disitu, bidang pendidikan tidak luput sebagai salah satu ranah yang dijamah oleh internet.
Ialah E-Learning, sistem pendidikan berbasis pembelajaran elektronik yang sudah beberapa tahun terakhir masuk ke Indonesia. Digadang-gadang sebagai suatu terobosan untuk mempermudah sistem pembelajaran, dengan mengatasnamakan kecanggihan teknologi. Apakah kalimat dengan tulisan tebal ini benar pada hakikatnya?


Dengan segala keterbatasan ilmu yang Saya miliki, mari kita bahas sedikit tentang permasalahan ini teman-teman semua. Mari kita mulai dengan,

1.   Apakah E-Learning adalah sistem pembelajaran berbasis elektronik?


          Saya tidak mengambil definisi E-Learning menurut ahli dan sebagainya, agar lebih objektif dan observatif, diatas adalah kutipan dari wawancara Saya, dengan seorang wanita remaja yang pernah merasakan E-Learning. Sistem pembelajaran berbasis elektronik/internet, hanya mengambil materi belajar dari Web dan tidak bertatap muka langsung dengan guru/dosen. Jadi suatu terobosan, mempermudah atau sistem pembelajaran yang tidak transparan? Mari kita bahas lebih lanjut di poin kedua!

2.   E-Learning memberikan kemudahan untuk siswa dan guru?

Tidak perlu memakan waktu untuk pergi ke sekolah/kampus dan juga sebaliknya, serta menghemat biaya pendidikan-dengan meminimalisir penggunaan buku-buku tebal untuk materi pembelajaran-, merupakan beberapa kemudahan yang ditawarkan E-Learning untuk guru dan siswa dalam proses pembelajarannya. Tidak kalah pentingnya, siswa dididik untuk belajar secara mandiri tanpa harus bertatap muka dengan guru.
Hanya permasalahannya, apakah infrastruktur dalam E-Learning untuk guru dan siswa memadai? Bukankah komputer, jaringan internet dan peralatan E-Learning untuk guru dan siswa, merupakan infrastruktur yang hanya dimiliki kalangan menengah ke atas? Jadi, apakah E-Learning untuk guru dan siswa akan menjawab permasalahan pendidikan di Indonesia khsusnya? Mari kita simak poin selanjutnya!

3.   Bagaimana Peranan E-Learning untuk guru dan siswa dalam perjalanannya?

          Di samping adalah kutipan hasil curahat hati teman Saya yang pernah merasakan “indahnya” E-Learning untuk guru dan siswa. Curahan yang mengiris hati kebanyakan guru di Indonesia tentunya. Namun inilah fakta, dengan bertatap muka saja mencontek, Copy-Paste tugas dan kecurangan lainnya dengan mudah dilakukan. Bagaimana dengan E-Learning untuk guru dan siswa?

4.   Apa? Mereka lebih memilih belajar/kuliah biasa dibanding E-Learning?


Ialah Khansa, Defi Indah, Ardian Putra  dan Muhammad Hendrawan adalah sebagian kecil dari beberapa mantan pelaku E-Learning untuk guru dan siswa. Berkuliah di salah satu Sekolah Teknik di Jakarta, mereka menghabiskan awal masa pendidikan Program Diploma III mereka, dengan belajar menggunakan media elektronik. Setelah kurang lebih satu setengah bulan mereka menjalani pendidikan E-Learning dengan segala kelebihan yang ditawarkan, bukannya tergiur, mereka justru memilih berkuliah layaknya mahasiswa biasa. Hebatnya lagi, satu setengah bulan bagi mereka sama dengan satu semester. Luar biasa bukan?
Sebut saja Muhammad Hendrawan (19 tahun), pria asal Semarang, Jawa Tengah ini lebih memilih merantau ke ibu kota dan jauh dari orang tua, ketimbang menjalani E-Learning. Padahal kemudahan dengan kecanggihan teknologi ditawarkan di E-Learning untuk guru dan siswa.  Apa yang membuat mereka tidak memilih E-Learning untuk guru dan siswa? Mari kita simak kutipan Hendrawan diatas!

5.   Apakah selamanya E-Learning untuk guru dan siswa buruk dan mengaharukan?

Sulit memahami materi karena tidak bertatap muka dengan guru/dosen, bisa tiduran sambil belajar, biasa Copy-Paste tugas dan bisa mencontek pada saat ujian, merupakan berbagai fakta “mengharukan” yang membalut E-Learning untuk guru dan siswa.
Namun tentunya saja semengharukan apapun kisah yang dihasilkan E-Learning untuk guru dan siswa, tidak mutlak memberikan klaim bahwa sepenuhnya E-Learning untuk guru dan siswa adalah buruk. Tidak mutlak pula semua instansi pendidikan yang menggunakan E-Learning untuk guru dan siswa menemui kegagalan dan kisah “mengharukan” seperti disebutkan diatas. Terbatasnya infrastruktur dan lain-lain pada operasionalnya, menyebabkan hal yang dihasilakan E-Learning untuk guru dan siswa ini tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Sebagai penulis sekaligus pengkritik tentang fakta E-Learning untuk guru dan siswa yang terjadi di sekitar, Saya sependapat bahwa E-Learning untuk guru dan siswa tetap saja menjadi suatu terobosan yang sangat baik untuk dunia pendidikan. Tidak bermaksud hanya sekedar mengkritik, artikel ini Saya harapkan dapat menjadi sesuatu yang dapat dipertimbangkan dalam pengoperasian E-Learning untuk guru dan siswa, juga untuk menghindari hal-hal “mengharukan” yang diuraikan diatas. Sedemikian hal yang telah kita rencanakan, sebanyak nominal uang yang telah kita keluarkan untuk E-Learning untuk guru dan siswa, apabila tidak mencapai hasil yang diharapkan, maka E-Learning untuk guru dan siswa hanya akan berakhir sia-sia.
Ketika fakta ini tersajikan, mungkin banyak orang yang tidak yakin dengan E-Learning untuk guru dan siswa. Tapi bukan tentang mengapa mereka tidak yakin, bukan pula siapa yang tidak yakin, tapi tentang tugas petinggi pendidikan di Indonesia untuk meyakinkan E-Learning untuk guru dan siswa adalah terobosan terbaik teknologi di dunia pendidikan.

Tentunya dengan semua kecanggihan teknologi yang ada, Samsung Galaxy Core dengan mudah dapat dioperasikan sebagai buku, entah itu berformat .pdf dan lain sebagainya, bagi siswa/mahasiswa demi menunjang E-Learning untuk guru dan siswa berjalan dengan lebih efektif.

Terima kasih kepada:

Beberapa teman Saya, Khansa, Defi, Ardian dan Hendrawan dan

sumber gambar yang belum diedit:



Semoga artikel yang Saya buat bermanfaat dan menghibur pembaca semua. Silakan berkomentar di kolom yang tersedia ya teman-teman! ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!