Jumat, 14 Maret 2014

Senyum Simpul dalam Rindu

  • Mencuri pandang dan saling berseitatap

     Papan dihadapanku belum juga bersih dari coretan senyawa kimia. Dibalut suasana lengan, aku melihatnya lagi, mata besar nan jernih dengan senyum simpul indah dari bibir tipisnya. Senyum paling indah, tak terlupakan hingga hembus napas kali ini. Mestinya dia sudah terbenam jauh oleh beberapa senyum lainnya. Namun tidak kali ini, benaman tersebut muncul ke permukaan.

    Menatapnya dari jarak dekat, membuatku tak fokus dengan apa tertulis di lembar bewarna putih ini. Sesekali balasan senyum membuat darah mengalir hanya ke pipi. Berwarna coklat kemerahan. Tak lama dia berlalu. Melalui pintu menambah sunyi suasana, hanya punggung yang sebagian tertutup jilbab itu mengecil, mengecil, berbelok arah dan bayangannya tak jauh lagi ke retina. Dari pintu yang sama aku mempercepat langkah, mencari kemana perginya wanita bermata besar itu.

    Napasku tak lagi beraturan, dengan satu tangan bertupuh pada lutut dan lainnya menahan terik matahari yang sudah tampak tinggi. Sesekali keringat membuat aliran abstrak pada dahi. Tak nampak lagi wanita yang ku cari ditengah kerumunan manusia berbaju sama. Putih dan abu-abu. Seketika ku usap dahi, lalu melengos. Senyum itu muncul lagi dari kejauhan. Suasana teduh, seolah awan meredupkan cahaya matahari dan berganti angin, meniupi ujung jilbabnya. Ku balas dia dengan senyum paling indah. Setidaknya hati dan mata ini lega, wanita itu masih mau bertukar senyum, walaupun mungkin bukan lagi senyum terbaiknya.

     Aku tak merasa dehidrasi dengan terik siang ini, tapi tanpa sadar sekarang tubuhku terbaring menatap gelap. Perlahan matahari pagi menerobos celah jendela dan berbelok masuk melalui pintu ruang ini. Cukup untuk membuatku terbangun. Tak ada keringat, putih abu apalagi senyuman. Hanya beberapa baju tergantung, aroma pengharum ruangan dan angin dari kipas menyentuh lembut rambut-rambut kaki.

      Setengah sadar aku duduk dengan bersandar, sembari mengusap muka, “Ah sial!” mimpi itu membuatku tersenyum, sekaligus perut menagih untuk diisi.

    Mencampur beberapa bahan masakan dengan nasi pada wajan panas, membuatku tak lupa pada kembang tidur pagi itu. Terlebih senyum indah yang sudah beberapa tahun tak pernah lagi kulihat. Dua wanita yang tak kalah indah, mestinya sudah menimbun dalam senyum gadis bermata besar itu. Hampir tiga tahun masih tak dapat untuk bias barang sedikit pun. Aku percaya, itu senyum terindah yang pernah ada selain milik Ibu.

    Tak terasa hanya tersisa beberapa potong cabai merah pada piring di tadahanku. Berbegas ku ambil handuk membersihkan muka dari belek serta iler dan badan dari entahlah, apa saja yang menempel pada badan seharian kemarin. Tak seperti hari biasanya, badanku terasa sangat segar hari entah karena suhu bumi lebih rendah setelah tersapu air dari langit, atau senyum dari alam maya tadi.

    Setelah tampak necis dengan pakaian, langkah kaki berganti. Menuju tempat dimana mungkin senyum dalam kepalaku, bisa hilang oleh mesin-mesin pusat atau pembangkit listrik.
 
    Tak butuh waktu lama bagi jam dinding, untuk menggerakkan jarum satu setengah kali putaran. Segelas es teh manis, dengan es batu melebihi tinggi gelas, menemani obrolan di kantin yang sudah tampak lengang. Lampu redup dan lantai sudah sedikit menghitam. Di tengah-tengah tawa, tiga wanita mengisi meja di depan kami.

    Salah satu dari mereka, wanita berkerudung hijau itu berhasil membuat teh dalam gelasku, terpakasa berhenti membasahi tenggorokan. Beruntung tidak sersedak lalu berhamburan keluar dari mulut. Setelah agak lama otakku berpikir keras, ingatanku kembali. Dia adalah wanita yang membuatku nyaris menabrak pembatas jalan. Beberapa saat lalu, ketika mengendarai sepeda motor. Terlalu berbahaya mungkin melihat wanita mirip mantan pacar saat berkendara.

    Teman-teman yang menyerupai wujud setengah alien ini biasanya membuatku lupa dengan galau, pelajaran, bahkan senyum siapapun. Tapi kali ini tidak.

“Fa, cewek yang duduk depan kita angkatan berapa?” Tanya ku penasaran.

Sembari menunjuk Ifa menjawab, “Oh yang itu, angkatan 2012 sama kayak kita”.

“Ya jangan ditunjuk juga kali Fa.” Kataku karena takut wanita didepan kami itu sadar.

“Hahaha... yang mana Ham yang elu suka?”

Dengan terkaget dan sedikit tersedak, “Ah enggak!!! Gila lo!” Lalu kami bercekikikan.

    Sesekali aku mencuri lirik, memandangi mata besar wanita dalam mimpi yang membangunkanku tadi pagi. Bagai pinang dibelah dua, walau tak begitu jernih, dengan bibir yang tidak seindah dia pula. Tapi cukup berhasil menyita perhatianku beberapa puluh menit sehingga ia berlalu tanpa kesan. Hanya mangkok bekas mei instan yang ia tinggalkan diatas meja.

       Selepas mangkok  tersebut aku percaya, tak ada yang lebih membuat aliran darah fokus ke pipi, selain saat mencuri lirik dan akhirnya saling bersitatap.

     Setelah itu aku lanjut menghirup teh dari pipet. Entah harus senang atau menjadi murung setelah kejadian ini. Kurasa aku benar-benar merindukan senyum indah yang pada saat libur semester kemarin aku harap dapat menemuinya, meski dengan tidak sengaja sekalipun. Mereka benar, jika perasaan ini disebut kebanyakan remaja gagal Move-On. Apalagi di tengah kabar, wanita yang membangunkan tidurku itu telah putus dengan pacarnya.

    Aku cukup pengecut untuk bahkan sekedar menanyakan kabar dan telalu betah menunggunya di dalam mimpi yang masih sering ku alami. Harusnya aku telah melewatkan dia, senyum paling indah yang pernah ku punya dulu.

      Cukup tangguh, dia dapat bertahan dalam keegoisan dan kecuekan ku selama dua bulan. Pada masa lampau. Setelah setelah putus pun, sebenarnya pertemanan kami masih baik. Peduli satu sama lain, saling Stalking Twitter, ngobrol bareng, nyanyi bareng dan hal menarik yang kurindukan lainnya. Semua tampak bias dan kaku ketika dia titipkan salam perpisahan di pelukan wanita lain yang sedang dekat dengan ku. “Jagain dia ya Put”. Kumpulan kata yang bahkan tak bisa kuterima untuk menjadi kalimat perpisahan. Setelah yang tak bisa kusebut kalimat itu, senyumnya tak lagi tampak dan tak ada lagi Stalking Twitter, apalagi saling bersitatap dengan merona. Hanya saja beberapa bulan lalu, kami berkomunikasi karena dia tahu, aku sering menceritakan dirinya dalam Blog pribadi. Ku kira cukup bodoh, tapi setidaknya membuatku tahu kabarnya meski hanya beberapa menit.

     Kata sebagian orang, bertemu dimimpi atau orang yang mirip, adalah cara untuk setidaknya mengobati kerinduan. Aku termasuk sebagian orang lagi yang tidak setuju. Apalagi kalau bukan, rindu ini diam-diam. Rindu sendirian yang berusaha dibiaskan melalui tuts keyboard dan berharap dunia membacanya. Dan berharap Sarah baik-baik saja.

12 komentar:

  1. Pas "Ah enggak!!! Gila lo!”, biasanya itu sebenernya kesenengan :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kesenengan? Ah enggak!!! Gila lo! #andaidiatau :D

      Hapus
  2. mohon izin nge-kutip quotenya ya bro yang "tak ada yang lebih membuat aliran darah fokus ke pipi, selain saat mencuri lirik dan akhirnya saling bersitatap" hehehe, ngena banget di gue broo, ceritanya keren :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan dikutip bro. Awas nanti matanya gak bisa balik lagi. :v Makasih ya Bro. :D

      Hapus
  3. Ceritanya bagus, atau jangan2 kisah nyata yaaaa.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah ketahuan deh. :$ Kalau punya cerita sendiri, kenapa mengisahkan karakter fiksi? :)

      Hapus
  4. haha ini kisah nyata ya mas? abis reaksi pas "ah enggak!!! Gila lo!” keliatan banget haha
    tapi seneng kan? haha nice post :D
    Salam kenal dari saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kisah nyata iya Bro. Kalo reaksi kesenengan, Ah enggak!!! Gila lo! Hehe Salam kenal juga Fandhy. :D

      Hapus
  5. ah gua jadi inget sama cewek unyu yang di tukang baso, pake krudung, cantik, unyu, ah sudah lah, mau dicari juga susah tuh cewek :(, setelah baca ini gua malah jadi kesel, lu harus tanggung jawab!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke, lu jadi curhat ya. :v Lah? Jangan-jangan itu anak penjual baksonya bro, coba aja tanya sama yang jual! (Itu sedikit bentuk tanggung jawab gue).

      Hapus
  6. Ini dari pengalaman pribadi?
    Kata-kata sama ceritanya keren :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bisa dibilang aib #gagalmoveon. :v
      Hehehe... makasih sudah berkunjung. :)

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!