Kamis, 16 Oktober 2014

#ideKUUntukPLN : Stabilisasi Perusahaan Galakkan Penelitian

'Electricity For A Better Life', selogan yang sering terbaca pada halaman utama web PT PLN (Persero), juga pada badan-badan kendaraan dinas perusahaan milik BUMN penyedia pasokan listrik negara ini. Bisa dibayangkan, bagaimana gelap gulitanya negara tanpa adanya listrik yang dapat dikonsumsi.

Indonesia patut bersyukur tentunya, memiliki perusahaan pengatur sektor ketenagalistrikan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Menduduki peringkat 477 dalam jajaran perusahaan dengan pendapatan terbesar di dunia versi Fortune Global 500, tentunya kinerja  'pawang-pawang' listrik negara ini, patut diacungi dua jempol. Dengan segala caki-maki dan intervensi yang sering melanda beberapa BUMN tidak hanya PLN, perusahaan yang kerap dipelesetkan menjadi perusahaan lilin negara ini menjawab hasil kerjanya dengan sangat baik.

Mantan direktur utama PT PLN (Persero) yang sekarang menjabat sebagai menteri negara BUMN, tak lupa memberikan decak kagumnya kepada PLN.
Meskipun masih terbilang berada di rangking bawah, tak mengapa. Karena ini untuk kali pertama. Kita semua berharap, PT PLN (Persero) dapat terus melakukan kerja nyata dan semakin menjawab keraguan konsumen, atas permasalahan kelistrikan di Indonesia.

Karena sebetulnya, keinginan masyarakat tentu tidak muluk-muluk. Pasokan listrik cukup dan merata, tanpa pemadaman bergilir. Itu saja dulu. Sederhana, tapi bukan pekerjaan rumah yang mudah bagi PT PLN (Persero). 

Tak segampang membalik pisang di penggorengan, untuk menanggulangi defisit listrik yang masih menjadi dalang dari pemadaman bergilir. Berbeda dengan pembangkit bertenaga uap yang membutuhkan dana sangat besar, masa pembangunan dan start yang relatif lama, keputusan membeli diesel besar-besaran beberapa tahun silam-saat masih dipimpin Dahlan Iskan-, memang dapat menerangi beberapa wilayah dengan start pembangkit yang relatif cepat. Dampaknya APBN untuk subsidi sektor energi, mencapai angka yang sangat fantastis.

Tentu PLN tidak boleh bertahan dengan keadaan tersebut. Tapi syukurlah dalam pameran kelistrikan Indonesia di JCC, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) menampilkan proyek pembangkit gas berbahan bakar Compressed Natural Gas (CNG) di pulau Bawean, Jawa Timur, sebagai pengganti mesin diesel berbahan bakar solar (dikutip dari artikel pada halaman web pln:http://www.pln.co.id/blog/pln-group-hadir-di-pameran-kelistrikan-indonesia-2014/). Sebuah terobosan yang luar biasa, guna meminimalisir penggunaan bahan bakar solar.

Tentunya kita semua tidak lupa dengan proyek pembangunan pasokan listrik 10.000 MW yang mulai digalakkan tahun 2007. "Rencana ini sudah dimulai pada 2007 yang seharusnya selesai pada 2010. Akan tetapi, sampai sekarang hanya terjadi penambahan 6.500-7.000 MW,” kata wakil presiden periode 2004-2009 Jusuf Kalla kepada Kompas di Jakarta, Rabu (26/2/2014) (dikutip dari: http://jusufkalla.info/archives/2014/02/27/proyek-pembangkit-terlambat-dibangun-jk-mengapa-proyek-10-000-mw-tidak-dilaksanakan/). Sayangnya, program ini seperti terhambat. Seharusnya, tahun 2012 kemarin, proses pembangunan pembangkit tahap kedua mulai digalakkan.

Sekali lagi tentu bukan segampang membalik telapak tangan. Seluruh elemen PT PLN (Persero) pasti sudah berupaya sekuat tenaga guna mengoptimalkan program ini. Karena bukan main-main, pertumbuhan konsumsi listrik di Indonesia akan terus meningkat. Jika tidak dibarengi dengan penambahan jumlah pasokan listrik, maka pemadaman bergilir akan tetap terjadi.

Lagi-lagi isu kasus korupsi proyek, dana dan terkait pembebasan lahan, seperti menjadi pelik yang tak ada habisnya. Seharusnya perusahaan sekelas PLN harus memikirkan pasokan listrik sekarang dan masa depan, jangan disibukkan dengan isu-isu tersebut. Toh pada akhirnya, isu-isu korupsi proyek itu sebatas terbukti. Hanya sebatas mengganggu kerja dan stabilitas PLN saja.

Galakkan Kembali Progam Pembangunan Pembangkit 10.000 MW

Divisi pengembangan energi terbarukan PT PLN (Persero), tentunya sudah memutar otak ekstra keras, terkait teknologi atau sumber daya alam seperti apa yang efektif dan tak akan habis, guna mengoptimalkan pasokan listrik negara. Seperti PLT angin, surya, nuklir dan lain-lain.


Kecepatan angin di Indonesia rata-rata 4-5 kilometer. Sayang sekali, tidak terlalu stabil dan efektif untuk dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik yang membutuhkan kecepatan angin minimal 7-10 kilometer.

Sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa, Indonesia sungguh beruntung. Karena disinari matahari dengan sangat baik. Namun dibandingkan harga baterai PLT surya yang mahal, masyarakat tentunya akan lebih memilih membeli listrik ke PLN dibanding menggunakan matahari sebagai sumber listrik di rumahnya. Sungguh malu rasanya, kalau untuk onderdilnya saja, kita harus mengimport dari Malaysia.

Meledaknya PLT nuklir di Jepang tiga tahun silam, menambah ketidakpercayaan diri masyrakat, bahwa Indonesia mampu mengembangkan teknologi nuklir dalam hal ketenagalistrikan. Pembangunan 4-6 tahun, pembebasan lahan yang ruwet, belum lagi di demo sana-sini, rasanya Indonesia sudah gelap gulita, jika harus menunggu semalam lebih dari 10 tahun untuk pembangkit ini.

Berhutang

Program pembangunan pembangkit 10.000 MW adalah solusi terbaik. Karena memang sudah tercantum dalam rencana kerja, bahkan sudah berjalan sebelumnya. PLN tinggal melanjutkan hal-hal yang sempat tertunda pada tahun 2012.


Pendapatan perusahaan dan anggaran APBN tak dapat menutupi pendanaan untuk pembangunan pembangkit listrik. Mau tidak mau PLN harus berhutang, jika pembangunan 10.000 MW benar-benar harus digalakkan. Tinggal bagaimana menyeimbangkan antara pendapat dan nilai hutang PLN  yang sudah menginjak angkat 200 triliun.


Perbedaan modal produksi listrik -di wilayah Indonesia barat, tengah dan timur- dengan harga jual yang sama, merupakan suatu kendala besar. Karena untung penjualan listrik di barat, tak sanggup menutupi kerugian penjualan listrik di wilayah timur. Lantaran penggunaan pembangkit bertenaga diesel, masih mendominasi di timur. Menaikan tarif dasar listrik sebenarnya menjadi solusi, tapi demo penolakan sudah seperti drama percintaan yang tak ada habisnya.


Sosialisasi ke Masyarakat

Pembangunan pembangkit listrik, erat kaitannya dengan demo masyarakat tentang menolak pembebasan lahan. Dahulu, konversi dari minyak tanah ke gas LPG, didemo mati-matian. Toh akhirnya menjadi sesuatu kebijakan pemerintah yang sukses. Begitu pula halnya pembebasan lahan. Demo penolakan masyarakat, sebenarnya tergantung pada seberapa hebat perusahaan memberikan pengertian, tentang proyek yang akan dibangun di atas tanah mereka, setelah dibeli.


Pembangunan PLT Uap misalnya, membutuhkan lahan lebar dan strategis secara geografis. Masyarakat perlu diberikan pendekatan persuasif terkait program pembangunan 10.000 MW, guna mengatasi defisit listik di beberapa wilayah. Rasanya, masyarakat tidak akan meninggal dunia jika hanya menjual lahannya ke PLN. Dibandingkan ancaman krisis listrik yang lebih menyeramkan. Toh, masyarakat sudah semakin pandai. Lahan yang awalnya Rp. 50/m persegi, dijual seharga Rp. 15.000/meter persegi. Tidak masuk akan jika mereka akan kehilangan tempat tinggal karena lahannya dijual, padahal harganya sangat fantastis.

Jika mereka masih menolak, seharusnya caki-maki pemadaman bergilir, bukan untuk PLN.

Pengembangan Teknologi Material Turbin Gas

Pemanfaatan energi dari gas bersuhu tinggi hasil pembakaran campuran bahan bakar dengan udara tekan, ialah dasar dari teknologi yang ditemukan pertama kali pada tahun 1971. Turbin gas yang mulanya dipakai untuk mesin pesawat terbang karena kelebihannya yang relatif ringan, kini banyak dipakai untuk pembangkit listrik.

Masa pembangunan yang relatif singkat, lahan tidak terlalu luas, lebih ramah lingkungan, serta dapat start tanpa bantuan daya dari luar dalam waktu yang cepat. Merupakan kelebihan PLT gas, dibandingkan pusat listrik bertenaga uap yang memonopoli pembangkit listrik di Indonesia.

Namun, teknologi yang pertama kali ditemukan oleh J. Barber terbentur oleh beberapa kekurangan semisal kapasitas dan efisiensi yang rendah. Kendala ini terkait pada teknologi material turbin, yang tak mampu menahan gas panas hasil pembakaran bersuhu sangat tinggi. Sehingga kapasitas yang dihasilkan turbin gas hanya berkisar 100-200 MW.

Kendala di atas, dapat diatasi apabila PT PLN (Persero) dengan SDM terbaik sektor penelitian dan pengembangan dapat melakukan eksperimen. Di samping Combine Cycle dan penggunaan CNG (Combine Natural Gas) untuk meningkatkan efisiensi sebuah turbin gas, baik dari segi teknik dan cost bahan bakar, menemukan material turbin yang sanggup menahan gas panas pada suhu sangat tinggi mampu mengatasi permasalahan kapasitas sebuah PLTG. Sehingga semakin tangguh material turbin gas, akan semakin besar kapasitas yang dihasilkan.

Dengan segala kerendahan hati, penulis yang masih sangat awam dengan permasalahan ketenagalistrikan, memposisikan diri sebagai masyarakat dan pemilik halaman Blog ini, memberikan pandangan serta ikut peduli dalam perkembangan PT PLN (Persero) kedepan. Tak bermaksud mengurui karena penulis yakin, di dalam PLN terdapat sumber daya manusia terbaik yang dapat menuntaskan permasalahan ketenagalistrikan di Indonesia.

Berkaitan dengan 69 tahun hari listrik nasional, diharapkan PLN dapat menuntaskan mottonya memberikan kecukupan pasokan, 'Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik'.


Sumber gambar terkait:
https://goswandi.files.wordpress.com/2012/04/pln.jpg
http://statik.tempo.co/data/2013/01/22/id_163119/163119_620.jpg
http://uniqpost.com/wp-content/uploads/2012/12/pembangkit-listrik-surya.jpg
http://www.cuplik.com/_adm/gambar/news/internasional010313002622@logo_nuklir.jpg
http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/05/11/110760_demo-agraria-di-dpr_300_225.jpg
http://z3.ifrm.com/67/29/0/m1564951/photo-1564951.jpg
http://tigoragustinuss.blogdetik.com/files/2014/09/6aa4f37f13a7381ebc5294741812b46c_hari-listrik-nasional-69.png
http://cdn0-e.production.liputan6.static6.com/medias/10985/big/titik-pemadaman-listrik-sumedang-130401b.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!