Sabtu, 18 Oktober 2014

#SatNitePost : Makrab di Sekolah

Es teh manis pada tangan kananku menyamarkan sedikit fatamorgana di pelataran parkir sekolah. Sembari mengenakan helm, terlihat di sana teman sekelas yang menurutku paling cantik. Sama halnya dengan es teh manis, melihat wajahnya seperti terguyur air hujan di tengah padang pasir tak berpenduduk. Dari kejauhan, Dina nampak tengah berteduh dibawah pos satpam, seperti sedang menunggu seseorang. Langkahku langsung sibuk menyeberangi siswa/i yang akan mengambil kendaraan mereka. 
'Yuk pulang sekarang.' Kata Zain, tepat ketika aku berada diantara senyum mereka. 
Lalu laki-laki bertubuh lebih tinggi dariku itu menoleh, 'Belum pulang lu?'
'Hmmm... ini baru mau pulang. Mau ngambil kunci motor, tadi jatuh disimpen sama satpam.'
Zain mengangguk, 'Okelah, mudah-mudahan kunci motor lu bukan yang ada di tangan kanan lu sekarang.' Dia tertawa. Dina senyum. Gue pengen segera renkarnasi.
'Gue sama Dina duluan ya, Ham. Sampe ketemu ntar malem.' Lalu Zain menarik pelan tangan Dina. Kemudian mereka hilang di ujung sana. Tapi senyum gadis yang sudah kutaksir tiga bulan belakangan itu, tertinggal di pos satpam.

Oranye telah melukis langit akhir pekan ini. Berbeda dari biasanya, sekolah semakin malah ramai. Riuh dan gelak tawa siswa/i, melewati gerbang sekolah. Banyak dari mereka datang bergerombol, atau lazim disebut geng sambil bercekikikan. Sepasang kekasih yang tercermin dari gandengan mesra mereka. Dan kaum-kaum yang bejalan dengan songong, sambil ngemut lolipop. Padahal jomblo.

Kami menyambut event tahunan ini dengan antusias. Tak mau kalah dengan burung yang tengah mempersiapkan sarang, aku dan teman-teman sibuk menata ruang kelas sebagai basecamp tempat bermalam di sekolah. Jika biasanya kami alergi dengan yang disebut tugas piket, sore ini berbeda. Semua bersemangat. Termasuk Dina yang sedang menyapu koridor depan kelas, sambil sesekali menyeka poni. Wanita yang sehari-hatinya berkacamata frame tebal itu membuatku teringat dengan warna langit, tak ada beda dengan rona pada bibirnya. And the time, freezes for a moment.

Tak lama malam gelap, atmosfer belahan bumi bagian Indonesia tak biasa, ketika malam ini bertepatan dengan gerhana bulan penuh. Semua siswa memadati lapangan basket untuk menyaksiakan fenomena semesta ini. Ketika bulan berada tepat diantara kami dan matahari. Banyangan bumi membuat bulan semakin indah, dengan warna merahnya. Atau biasa disebut Blood Moon. Hampir semua siswa mengeluarkan handphone, camera dan alat-alat lain yang sekiranya dapat mengabadikan salah satu keajaiban semesta ini 
'Bagus, ya. Coba aja setiap hari bulannya warna merah.' Kata Dina, tangannya mengarahkan handphone ke langit.
'Eh kamu Din,' Kataku kanget, 'Hmmm, bener juga. Langit keliatan lebih cerah.' Aku melanjutkan, sambil memandangi setiap inch wajahnya, dalam sekali.
'Mana Zayn, din?'
'Masih sibuk sama temen-temennya kali. Dasar cowok, sama yang kayak gini masak gak interest.' Dina sedikit menggerutu.
'Lah terus gue disini berjenis kelamin apa dong?'

Tertawa Aku dan Dina yang sebentar itu, seketika hilang di antara keramaian dan Zayn muncul dari belakang kami. 

'Daripada fotoin bulan, mending kita selfie, yang.' Kata Zayn, mengoyak perasaan dan gendang telingaku.
'Eh ada Iam!' Laki-laki yang sebenarnya lebih baik kubunuh ini menepuk bahuku sebelah kanan. 'Kita sering ketemu ya hari ini. Mending lu fotoin kami berdua.' Tangannya merangkul Dina, hingga pacarnya itu sedikit kaget. Dan aku benar-benar ingin memutilasi badan Zayn menjadi sepuluh bagian.

Setelah gambar mereka yang sebenarnya tak pernah ingin kulihat itu membuat pasangan alay ini bertukar senyum, Zayn seperti tak behenti memamerkan kemesraannya.
'Sayang, mumpung api unggunnya masih lama. Kita makan dulu yuk! Aku bawa bekal buat kita berdua.'

Bersamaan punggung mereka menjauh, aku hanya bisa memainkan pasir yang ada di sekitar kaki sambil menunduk. Gerhana bulan tak pernah lagi ingin kulihat!

Lagu-lagu tradisional, modern sampai pentas drama membuat kami semakin bersemangat. Api unggun tak kalah menghangatkan lapangan basket malam ini. Aku lesehan di baris belakang. Posisi ini lebih memungkinkan untuk menjahili teman-teman yang tengah serius menyaksikan pentas seni sederhana malam ini. Di tengah cekikikan kami, aku melihat ke atah koridor, lorong gelap menuju lapangan basket. Tampak Dina mengenakan jaket Hoddie berwarna hitam dan celana olahraga hijau. Tanpa kacamata dia meraba-raba di lorong tak jauh dari tempatku duduk. Membuatku tak tertarik lagi dengan tingkah konyol makhluk-makhluk ini.

'Sini Din.' Kataku mengulurkan tangan.

Kebetulan angin meniup api unggun ke arah kami, menerangi wajah Dina yang mengepang rambutnya malam ini. Aduhai, senyum gadis bermata segaris ini membuat Big Ben saja tak berani memutar jarumnya. Aku seperti pada dimensi berbeda. Merasa tuli dari puncak acara makrab malam ini, hanya ada kami berdua terhangatkan api unggun.

Ketika waktu sudah berjalan kembali, Dina membalasku dengan mengulurkan tangan sambil sepasang bibirnya melukis senyum, 'Ayo, din! Acaranya seru, nih.' Kata Zayn, entah anak setan ini muncul darimana. Lalu dia mengambil tangan pacarnya itu, sepersekian detik sebelum tangan kami hampir bergandengan.

'Sendirian aja lu, Am? Gue liat tadi masih ngobrol di situ.' Jari Zayn menunjuk tempat dimana aku duduk.
'Hmm... ya.' Menganggung, 'Gue sudah biasa sendirian!' Jawabku sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana.

Lalu Dina dan Zayn bercengkrama, berjalan berpasangan, hingga mereka duduk bersebelahan, aku sadar laki-laki yang ingin aku lempar ke tengah-tengah api unggun itu, adalah cucu adam yang paling beruntung di sekolah ini.

Aku hanya mematung ditempat seharusnya Dina menyambut tanganku lebih cepat tadi. Posisi yang cukup jauh untuk tersentuh api unggun, tapi hati ini seperti berada di dalam tunggu pengapian.

Sumber gambar terkait:
http://media.tumblr.com/5c67b83a7e63426029a900551fa95e3c/tumblr_inline_mfukfavRgW1qdxejt.jpg
http://images.christianpost.com/full/77076/blood-moon.jpg

14 komentar:

  1. anjruk keren....
    gw suka yang aini "membuat Big Ben saja tak berani memutar jarumnya."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksasih Broh. :D
      Kebetulan gue suka kota dimana Big Ben berada. (y)

      Hapus
  2. mau nikung pacar orang nih. haha. hati-hati ya, tikungan berbahaya loh.
    btw, itu font lo kok kadang gede-kadang kecil, warna warni pula. ada apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak nikung bro, cuma mengagumi aja. :v Font dialog sengaja gue bikin gede. Biru: Iam, Ungu: Dina Hitam: Zayn. Malah biking bingung, ya?

      Hapus
  3. keren bro..
    salam kenal and visit back yaa..
    katamiqhnur.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah blogwalking. :D
      Salam kenal!
      Sudah meluncur ke TKP!

      Hapus
  4. hehehe Sahabat Lebih berharga,,
    Dari pada Cinta yg nikung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tokoh utama beneran keliatan pengen nikung Zayn, ya? ._.

      Hapus
  5. tikung aja bro hehe
    btw cerita nya keren :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah bro, tapi gagal. Tikungan terlalu tajam. :v
      Makasih broh!

      Hapus
  6. tikung aja bro hehe
    btw cerita nya keren :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah bro, tapi gagal. Tikungan terlalu tajam. :v
      Makasih broh!

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!