Jumat, 09 Januari 2015

Kembali Ke Ibukota Membawa Luka

Rasa nyeri pasca operasi, belum juga hilang. Wajar, baru lima hari, gue menerima keadaan tenggorok baru tanpa digelantungi amandel. Obrolan sehabis adzan Isya' berkumandang tadi sangat seru untuk dilewatkan. Hasilnya, terlalu banyak bergetar, tenggorok terasa semakin nyeri sekarang. Rasa yang mesti gue tahan, lima sampai sepuluh hari kedepan.

Di atas meja, di dekat jendela dapur yang berhempus bau embun sepeti pagi tadi, biasanya telah bertengger setengah mangkuk bubur. Terkadang, itu juga tak habis dimakan. Begitu pula saat siang, hingga malam. Hanya beberapa kali diselingi agar-agar kenyal yang meluncur sangat lembut melewati tenggorok. Semua terhidang secara instan. Tapi tidak untuk esok sampai satu, hingga tiga minggu kedepan.

Ada pertanyaan sekelebat yang terpikir, saat kamar gue sudah gelap gulita dan udara kipas angin sudah meraba-raba. Bagaimana dengan besok? Kembali ke Jakarta membawa luka ini?

Perawatan Mekanik Pembangkit Listrik. Judul mata kuliah pertama yang akan diujikan tangan 12 Januari nanti. Mengikuti enam mata kuliah lainnya yang tentu harus dipikirkan. Dengan keadaan tenggorok yang masih payah ini.

Tak ada bubur instan yang pagi-pagi sudah nangkring di meja. Apalagi agar-agar kenyal yang mengkilap tersorot lampu. Semua tak akan ada seperti sulap. Mininal setiap pagi, gue harus jalan kaki dulu sedikit ke arah matahari terbit, 'Bang, bubur ayamnya satu bungkus. Jangan pedas dan gak pake seledri.' Lalu membayar sejumlah yang ditentukan penjual.

Membayar bukan yang menjadi masalah. Apalagi kalau cuma jalan kaki sejauh tiga puluh meter di pagi hari. Hitung-hitung kan olahraga.

Apakah sempat mengatur waktu untuk persiapan ujian, menghidangkan bubur, membuat agar-agar, belum lagi tetek bengek lainnya. Terlambat sedikit saja, persendian sudah melemas. Itulah yang dikhawatirkan seluruh anggota keluarga, terutama Ibu. Harus membiarkan gue sendiri di rantau. Mungkin, nanti handphone akan sering sekali menerima panggilan.

Gue hanya meyakinkan diri dalam hati. 'Lain Palembang, lain juga Jakarta. Medannya berbeda. Di tempat yang tidak ada siapa-siapa (keluarga), gue pasti lebih fight! Gue juga gak mau mati karena pendarahan, lantaran salah konsumsi makanan.' Maka wahai Allah, zat yang atas izin-Nya lah burung besi dapat terbang membelah awan, atas izin-Nya lah gue mendarat dengan selamat di Jakarta besok. Lindungilah. Sukseskan ujianku dan tolong, percepat kesembuhanku.

14 komentar:

  1. luka itu bisa jadi kekuatan kook fighting! and nice posting kaa
    mampir mampir ya willynana.blogspot.com ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar juga. Karena ada yang harus diperjuangkan. Terima kasih Wiiliana. :D

      Hapus
  2. Iam semoga tenggorokannya cepet sembuh yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih Dinda di Pembaca Setiaaaa. :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Alhamdulillah sudah sembuh, bro. Berkat bantuan doanya. Makasih.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Get well soon, broo! ^_^

    Salam kenal,
    Ijal Fauzi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah udh sehat, bro. Berkat bantuan doanya. Makasih.

      Salam kenal, Ilham.

      Hapus
  9. Cepat sembuh ya gan. Tetap semangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah udah sembuh, gan. Berkat bantuan doanya. Makasih. Keep fighting, keep writing!

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!