Minggu, 04 Januari 2015

Perasaan Seseorang yang akan 'Diobok-obok' Tenggoroknya

Yang ingin gue sampaikan kepada tuhan malam ini adalah, 'Wahai Allah, aku hanya berusaha tenang, bukan sombong.' Kira-kira begitulah perasaan seseorang yang akan dibedah tenggoroknya, besok. Hanya beberapa jam dari sekarang.
Memang bukan pembedahan besar, yang menyangkut kelangsungan nyawa seseorang seperti operasi-operasi darutan lainnya. Nyokap dan tante-tante gue juga pernah menjalani hal serupa. Operasi amandel yang kian meresahkan.
Sudah lebih dari dua puluh empat jam lalu, dokter bermata sipit, berkacama dengan kemeja putih ala biasa berkata, 'Efek samping bius total bermacam-macam, paling buruk bisa tidak bangun lagi. Tapi kita berusaha yang terbaik'. Katanya dengan stetoskop di leher dan menenteng alat pendetekti tekanan darah. Sesaat setelah bokap menanda tangan sepucuk kertas berisi persetujuan tidak kedokteran. Usia gue belum cukup untuk menggoreskan tinta di lembaran tersebut.

Berbaring di sini, duduk, ngupil hingga mandi dan melakukan kebiasaan orang sehat lazimnya, gue sama sekali tak menunjukkan rasa takut tenggorok gue akan dimasukkan selang nafas dan ada bagian penyakit yang dipotong. Tentunya dalam keadaan tidak sadar. Pada ruangan gelap, di bawah sorot lampu menembak, dikelilingi manusia-manusia berbaju hijau.
Paling tidak sampai malam ini, suasana begitu melankolis untuk perasaan pasien yang akan dibedah. Sekaligus, gue ingin bertanya kabar tentang seseorang.

Ruang demi ruang di RSUP dr. Muhammad Husein Palembang, bagian bedah, seperti baru menguak kengerian yang selama hampir dua hari ini mereka simpan. Bau obat-obatan begitu menusuk. Mau makan pun menjadi tak seenak kemarin. Syukurlah tak ada jatah makan malam hari ini.

Sebenarnya, bukan pembedahan yang gue khawatirkan. Karena bukan bagian vital yang akan dipotong. Hanya saja, ini kali pertama gue akan secara sengaja dibuat tidak sadar diatas meja operasi. Bahkan, ini kali pertama gue dirawat inap.
Pernyataan dokter bagian anaestesi kemarin pagi, terus terngiang seperti nyanyian Raisa yang hampir setiap saat selalu asik diingat. Menimbulkan pertanyaan, agak berlebihan sebenarnya, untuk pembedahan kecil. 'Gue bakal bangun lagi, kan, setelah bius total?' Itu saja, meski gue tahu, kemungkinan tidak bangun itu jarang sekali terjadi.

Tak berhenti sampai disitu. Pasca operasi, rasa sakit seperti apa yang akan dirasakan?
Terakhir kali ada organ tubuh gue yang dipotong, itu adalah pada saat sunat. Kalau sakitnya seperti habis disunat, praktis gue nangis dulu. Karena sungguh merepotkan. Walaupun gue jadi jutawan sementara.

Pasalnya, pas satu minggu setelah operasi, gue akan menjalani ujian akhir semester di Jakarta. Jauh dari orang tua lagi dan cukup sulit untuk menjaga pola makan. Salah-salah, tenggorok gue bisa pendarahan. Kasusnya sudah ada, tante gue sendiri. Tiga puluh menit lagi saja kantong darah terlambat datang, mungkin dulu dia gak akan pernah nyebokin gue pas masih kecil.

Eh, orang yang pengin gue tau kabarnya, bales Blackberry Message. Sudah dulu.
Doa gue kepada Allah, sekarang dan besok masih akan sama. Sukseskanlah pembedahan, bangunkan gue kembali dan percepatlah kesembuhan gue. Karena Allah, aku tau  engkau maha penyembuh segala penyakit.

2 komentar:

  1. Biar cuma operasi amandel, tetep aja klo udah denger kata operasi yang ada dipikiran kita itu kayak orang yang berbaring dan dikrubutin sama doketer dengan pakain hijau dan darah2 yang menodai pakaian itu. serem...
    good luck operasinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bro. Takut gak bisa bangun lagi abis di bius. Tapi syukurlah sekrang sudah masa pemulihan. Tks.

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!