Sabtu, 24 Januari 2015

#SatNitePost: Mati Tiga Setengah Jam [Bagian 1]

Bunyi krasak-krusuk diluar terdengar samar dari arah pintu. Karena terhalang dinding yang separuhnya ditutupi kaca buram. Saat itu aku masih merem-merek sambil menutupi mata dengan lengan. Matahari yang masuk dari jendela, persis mengarah ke arahku. Padahal jaraknya cukup jauh, dua meter dari telapak kaki. Betul-betul membuat tak nyaman. Berusaha melanjutkan mimpi semalam, pun, percuma.

Aku melirik handphone, sambil menyipitkan kedua mata. Ditiupi kipas angin yang menempel pada dinding, satu meter, tepat di atas kepala. Dinding yang menghalangi suara berisik yang kudengar tadi, semakin ribut saja.

Pagi terlalu cerah untuk mendengarkan lagu melow, melalui earphone yang telah terpasang ditelinga. Jadilah musik dengan bit-bit cepat, yang dipilih. Tak begitu kuat volumenya. Aku masih bisa mendengar ada langkah kaki mendekat kearah ruangan. Suaranya berhenti di depan pintu. Sontak Ayah yang menungguku sedari semalam berangkat dari lesehannya di lantai dekat jendela tanpa gordyn.

‘Pasien Ilham.’ Katanya mengulang namaku sekali lagi.
‘Iya.’ Barulah suster berbaju putih membuka pintu.
Perawat bermodel rambut sebahu yang populer dikalangannya dulu, memberi senyum kepada kami berdua. Aku melepaskan earphone dari telinga. Agak terhenyak sedikit oleh wadah aluminium berbentuk persegi yang dibawahnya.
‘Kita pasang infus dulu ya, Ilham.’ Benar saja. Benda itu sebelumnya tak pernah menempus epidermisku.
‘Sudah mandi belum?’ Katanya setelah meletakkan peralatan menyeramkan itu, di atas meja, disamping lenganku.
‘Belum, suster.’
‘Kalo gitu kamu mandi dulu aja.’ Punggung tanganku berhasil selamat. Hanya sebentar saja.


‘Itu ibu suster sudah tiga kali bolak-balik kesini. Kamu mandinya kelamaan.’ Kata Ayah, sambil tertawa kecil. Lucu barangkali kalau pada kenyataannya anak laki-laki bungsunya ini membutuhkan waktu 20-45 menit untuk membersihkan diri. Sepertinya tak ada pengecualian, walaupun dirumah sakit.

Aku hanya membalas tertawa sedikit.

Lagi-lagi suster berkaca mata retro masuk, entah, untuk kesekian kalinya. Saat itu aku masih dibalut handuk dengan dada telanjang. Mungkin karena sudah berumur, dia dengan santai menyodorkan sebuah baju dari tangan kanannya. Baju berwarna putih bersih, panjang hingga betis. Mirip dengan pakaian laboratorium.

‘Langsung pakai baju operasi, ya. Talinya dibagian belakang.’
‘Tapi saya belum pakai daleman, bu.’
‘Udah langsung pake ini aja.’ Katanya dengan ekspesi agak kesal.
Dengan cepat aku mengerjakan instruksinya, lalu berbaring. Tak lama, ibu suster mulai menekan-nekan punggung tanganku. Memastikan tepatnya dibagian mana, dia akan menusukkan jarum. Belum lagi selesai dengan pekerjaannya, wanita paruh baya yang tampak bingung ini keluar. Tanpa sepatah dua patah kata. Aku dan ayah hanya terheran. Kami berpandangan.

Tapi dengan begitu, ada kesempatan bagiku, sebelum dia masuk lagi, untuk mengenakan pakaian dalam. Dengan bergegas, kemudian harus berbaring lagi.

Agak lama, cukup bagiku untuk menerka-nerka seberapa sakit kira-kira, jarum infus akan menembus pembuluh vena, masuklah dua orang kedalam ruangan. Bukan ibu-ibu yang melarangku menenakan pakaian dalam tadi. Seorang laki-laki lebih tua sedikit dariku dan perempuan seumuranku, mungkin.

Mas-mas sipit berseragam putih menekan-nekan punggung tanganku, ‘Kita infus dulu, ya.’ Katanya sambil tersenyum.

Saat dia menempelkan benda runcing pada permukaan kulit, pandanganku semakin tak bisa lari dari mata jarum. Pergelangan tangan mulai tak tenang. Inilah tugas perempuan berpakaian setelan biru muda yang masuk berbarengan dengan laki-laki yang sekarang tengah menusuk punggung tanganku. Tangan halus perawat muda ini memegangi pergelangan tangan. Mengurangi ketidaktenanganku.

Akhirnya setelah selesai dengan selang infus dan semacam selotip yang memantapkan jarum yang sekarang tengah berada dibawah epidermis, mereka mengemasi alat-alat menyeramkan yang ada disampingku.

‘Nanti tinggal tunggu dijemput untuk ke ruang OK ya, pak. Masih puasa kan?’ Kata mas-mas yang tak sempat kubaca nama pada nametag yang menempel di seragamnya.
‘Iya masih puasa.’ Dan makasih sudah panggil saya ‘pak’.

Kata ‘OK’, sudah dari kemarin kudengar. Tapi tak tahu apa artinya. Beberapa saat lagi, aku memang akan menjalani operasi, semoga saja OK bukan berarti Operasi Kelamin.

Tangan kananku sekarang seperti mati, terlalu kaku untuk digerakkan. Sehingga tangan kiri lebih aktif untuk memasang earphone, menekan-nekan layar handphone, sampai update di social media
Bermacam-macam respon teman-teman yang menanggapi. Mereka mendoakan kelancaran operasi yang akan aku jalani. Tak terlalu serius, sebagian besar dari komentar mereka membuatku tertawa. Di Instagram, misalnya:
Setelah itu, setiap langkah yang berlalu-lalang didepan kamar rawat inapku sangat menyebalkan. Mamacu detak jantung, membuat hatiku ketar-ketir. Barang kali itu langkah sekelompok penangan medis untuk menjemputku ke ruang OK.
Benar saja, ada yang membuka pintu.

‘Oh sudah di infusnya ya, nak.’ Kata Ibu. Beliau memang baru datang. Karena peraturan rumah sakit hanya memperbolehkan satu orang penjaga pasien yang menginap. Toh aku masih sehat, tak perlu banyak orang yang menjaga.
Anti klimaks di rongga dadaku.
‘Iya, bu. Barusan. Tinggal tunggu dijemput ke ruang operasi.’
‘Hmmm, jangan lupa berdoa.’ Ibu tersenyum.

Tak lama aku sibuk dengan smartphone, seketika itu pula bunyi diluar sana kembali membuat gusar. Tapi semakin lama menunggu, aku justru semakin tak sabaran. Menunggu-nunggu kapan akan memasuki ruang bedah.

Pukul 10:00

Aku memang bukan orang yang sabaran dan paling membenci yang namanya ngaret. Dijadwalkan pembedahan pukul 09:00, sekarang sudah lewat satu jam. Entahlah, tak ada keterangan apapun yang mereka katakan, selain ‘tunggu dijemput’.

Diluar bayanganku. Aku kira akan dijemput oleh pasukan dokter beramai-ramai dengan senyum sapa mereka, lengkap dengan baju operasi. Ternyata tidak.

Masuk seorang perawat mengenakan baju biru muda. Mukanya lonjong, putih dan ada beberapa berkas jerawat pada pipinya. Dia menyapa sebentar. Tanpa banyak bicara, perempuan berjilbab sewarna dengan bajunya ini melebarkan kursi roda.

Aku bangun dari tempat tidur, tanpa dijelaskan lalu bertanya, ‘Harus duduk disini?’

Tubuhku sebenarnya masih sangat kuat, bahkan jika disuruh bermain sepak bola sekalipun. Tapi peraturan rumah sakit tak memperbolehkan aku berjalan sendiri.

‘Iya.’ Jawabnya singkat. Lalu dia mulai mengambil botol cairan infus dari tiang disamping kasur. Kemudian meletakkannya dipangkuanku. Sepertinya ada yang salah.

Perawat muda ini kursiku ke ruang OK. Perjalanan ke koridor yang sangat asing. Kesan seram bertambah karena beberapa pasang mata memandangku. Mungkin mereka heran, orang sehat kok pake kursi roda. Selain itu, bunyi roda setiap melewati garis-garis keramik pada lantai, semakin horor saja.

Tak lama, hanya sekitar 100 meter dari kamarku ke ruang bedah, ternyata. Keringat pun tak kan kan kalau seandainya aku berjalan sendiri.

Ruangan ini lebih dingin, lebih sibuk dan lebih ketat pengawasannya. Berkali-kali ada petugas yang mengingatkan orang-orang berkaian serba hijau disini. ‘Jangan lewat garis ini!’, ‘Cuci tangan dulu kalau mau keluar.’ Lalu petugas wanita cerewet yang kulihat mendekat. Sesuai dengan usianya yang sudah ibu-ibu, mulutnya lebih aktif mengingatkan dokter-dokter yang lebih muda dariya.

‘Ini yang mau operasi tonsil?’ Katanya dengan ramah. Ternyata tak seburuk yang kulihat tadi.
‘Iya, ibu.’
‘Itu kenapa infusnya berdarah?’ ‘Ya ampun itu gak disumbat dulu?’ Kemudian dengan gelagapan si perawat pendiam tadi membetulkan infusku. 
Tak lama, ‘Hei!’ Tangannya mengisyaratkan si perawat untuk mundur. Lalu dia menarik mundur pula kursiku.
‘Bukan. Sepatunya, mbak. Jangan dipakai didalam.’ Tangannya mengarah ke kaki perawat. Kombinasi yang, pas. Perawat ceroboh, petugas yang cerewet.
Kemudian petugas tersebut menanyaiku, sambil melengkapi berkas-berkas.

‘Ini orang tuanya Ilham?’
'Iya, dokter.' Kata Ibuku
‘Silahkan tunggu diluar ya, ibu, bapak. Ilhamnya mau dibawa masuk kedalam.’
Aku tersenyum kepada mereka, mengisyaratkan semuanya akan baik-baik saja. Tak bersuara, tapi mataku berusaha meyakinkan mereka seperti berkata, ‘Ini Cuma operasi kecil kok.’ Lalu mereka menuju ruang tunggu.

Bersambung...

2 komentar:

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!