Jumat, 20 Maret 2015

Ditertawakan Matahari

Papan tulis dihadapanku belum juga bersih dari coretan senyawa kimia. Sekumpulan mantra rumit, di antara ruangan lengang. Aku melihatnya lagi, pemilik mata belo’ nan jeli itu tengah sendirian, duduk paling depan dari banyak susunan kursi dan meja belajar yang sudah tak rapi lagi. Karena biasanya para siswa langsung berhamburan, ketika bel pulang berbunyi.

Aku hanya bersandar, memandangi gadis yang sudah lama kutaksir, dari tengah pintu. Saking sibuknya menulis, dia tak sadar aku sudah berdiri disana selama lima menit. Kadang-kadang dia komat-kamit sendiri sambil menghitung menggunakan jarinya lalu menggoreskan lagi tinta pada buku. Behel yang memagari giginya menambah mahal senyum gadis ini.

Setelah selesai dengan buku, dia memindahkan penanya ke atas secarik kertas. Sungguh bintang kelas yang sibuk. Adalah kebiasaan Sarah setiap hari, perempuan berjilbab ini enggan pulang, sebelum semua atau sebagian dari tugas sekolah ia kerjakan di dalam kelas.

Raut mukanya nampak mantap, seperti ada bulan sabit pada bibirnya. Lalu, Satu per satu Sarah memasukkan buku tulis, buku pelajaran, wadah pensil, juga lipatan kertas yang tadi dicoret-coretnya. Tanpa peduli, dia masih tak tahu aku sudah beberapa langkah maju dari pintu.

‘Iam?’ Dia menegur duluan, mata kami bertemu. Begitu teduh saat dia menyebut namaku, angin dari jendela seperti meniupi kami berdua.
‘Masih belum pulang?’ Kataku setelah berbalas senyum.
‘Baru aja selesai kerjain pr kimia tadi. Kamu sendiri ngapain?’
Wajahku berubah panik. Lantaran tidak menyiapkan alasan untuk hari ini. Karena sebenarnya, ada yang ingin aku sampaikan kepadanya. Aku diam dalam waktu lama.
‘Ketinggalan handphone lagi ya?’ Sarah menyela diamku.
‘Hmmm.. anu..’ Aku menggaruk kepala, ‘Kunci motor aku hilang. Iya... hilang. Tadi tanya di pos satpam gak ada.’ Aku melanjutkan dengan cengar-cengir.
Dia menengok kiri kanan, ‘Itu samping kaki kamu.’ Kata Sarah sambil menunjuk ke arah lantai.
‘Oh iya. Syukurlah ketemu. Udah nyari kemana-mana tadi. Ha... Ha... Ha...’ Seperti tanpa dosa aku bercekikikan sendiri. Padahal barusan sebatang kunci tanpa gantungan ini aku yang menjatuhkannya sendiri. Untung dia tak mendengar bunyinya tadi.
‘Kalo dipikir-pikir, kamu sering juga ya ketinggalan kunci motor.’ Dia menoleh ke belakang, lalu membuka lagi tasnya.
‘Ini...’ Sarah menjulurkan tangannya ke arahku sambil tersenyum. Lalu matanya berkeip dua kali, sedang senyumnya masih belum pergi. Sekarang di telapak tangan Sarah ada sebuah boneka dengan tali dibagian atas. Keropi berwarna hijau sebesar kepalan tanganku. Dengan kantung seperti milik Doraemon di bagian perutnya, seukuran foto tiga kali empat.
‘Mana kunci motor kamu?’
Aku mulai merasa, tingkahnya agak aneh. Dia terlihat lebih manis dan terasa hangat.
‘Hei...’
‘Hah?! Iya, ini kunci motornya.’ Aku terbangun oleh lambaian tangannya, persis di depan muka.
‘Asal kamu tahu, kunci yang gak ada gantungannya itu gampang hilang.’ Katanya sambil sibuk memasang pernak-pernik yang tadi pada kunci motorku, ‘Mulai sekarang, pasti kamu gak bakal kehilangan kunci lagi.’ Sarah mengayunkan boneka kodok yang sekarang jadi milikku. Seperti bergoyang bahagia, mendeskripsikan perasaanku siang ini. Bukan Keropinya yang aku lihat, tapi raut wajah orang yang membuat gantungan kunci ini menari. Karena terlalu banyak tersenyum, aku semakin suka melihat Sarah. Matanya terlihat lebih bening. Sangat bening malah.
‘Makasih, Sarah. Mudah-mudahan setelah ini aku gak jadi penyuka boneka di tempat tidur, ya.’
Kami tertawa besahutan. Menggema disetiap sudut ruang kelas, menyembunyikan sepi yang sedari tadi tak berhenti.

Siang ini begitu asik untuk bercekikikan bersama. Kipas angin yang persis mengarah kepada kami, mengalahkan terik di luar sana, membuat aku dan Sarah belum mau untuk pulang. Aku sendiri ingin lebih lama lagi seperti ini. Kalau boleh, sampai matahari benar-benar hilang, bersembunyi di belahan bumi yang lain.

Lagi pula tak ada apa-apa di sekolah selepas kegiatan belajar selesai. Paling petugas kebersihan yang kesana-kemari menyapu. Biasanya, obrolan kami akan berakhir, ketika giliran kelas kami yang akan dibersihkan.

Atau hiburan yang tak ada menarik-menariknya menurutku, segerombolan siswa keren yang masih mengelukan keringatnya di lapangan basket. Sebagian dari kulit mereka sudah bertambah gelap pasti. Tapi ada saja perempuan cantik yang menunggu cowok-cowok ini selesai bermain. Biasa, anak SMA. Pasti selalu ada sekumpulan siswa keren yang hobinya melompat-lompat di lapangan.

Aku tak tahu bagian lelucon mana yang membuat urat geli Sarah terpancing. Tawanya hanya tertahan oleh telapak tangan. Terkadang dia memuluk pundakku, atau sesekali mengusap air matanya setelah terbahak-bahak. Malah terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan kesedihannya.

Sarah melirik ke arah handphone-nya. Ada pesan masuk.

Dia memandangiku cukup lama, seperti penuh harap yang tak dia dapati, ‘Kenapa, Ra?’ Tanyaku heran.
‘Eh, aku sudah dijemput. Aku duluan ya.’
‘Dijemput? Hening, ‘Ah iya. Salam ya buat Papa kamu.’ 
Dia berjalan beberapa langkah, ‘Sarah?’
‘Apa?’ Senyumnya gemetar.
‘Lain kali kita ngobrol lagi, ya. Aku buat kami nangis lagi nanti. Tapi jangan bilang papa kamu kalo kamu nangsi gara-gara aku, ya. Hahaha...’ Aku tertawa dari, belum bergerak dari bangku, di sebelah Sarah duduk tadi.

Dia memantapkan senyumnya, sambil mengusap air matanya yang tersisa. Kemudian dia terisak sedikit.

Tiap langkah membuat punggungnya bergerak menjauh. Meninggalkan senyum, yang tak lagi dapat menyembunyikan sepi. Hening yang bias oleh canda kami tadi, mulai menyesaki tempat ini. Begitu pula rongga dadaku. Mungkin Sarah belum sampai gerbang depan sekolah, sekelebat saja rindu memenuhi hati. Aku bergegas, barangkali masih bisa mengejarnya untuk jalan beriringan sebelum berpisah, untuk melihatnya esok hari.

Langkah cepatku berhenti ketika baru dua langkah dari tempat semula. Boneka Kerropi pemberian Sarah terjatuh ke lantai dari genggamanku. Segera kuambil, namun tertahan karena ada sesuatu yang aneh dari kantong Doraemon pada boneka ini. Seperti selembar kertas binder berwarna hijau.

Kepalaku mulai dipenuhi kebingungan, kertas ini adalah hal sengaja, atau tak sengaja yang Sarah tinggalkan. Aku buka sajalah.

Untuk kamu, yang sering pulang terlambat.
Untuk kamu, cowok pelupa yang dahsyat.
Untuk kamu, yang tak pernah berani menggetarkan ponselku.

Apalagi besok? Komik? Buku pelajaran? Dompet? Atau pakaian dalammu yang tertinggal di kelas? Kamu selalu saja menggangguku, saat aku tengah mengerjakan PR. Penyakit pelupamu itu amat dahsyat sepertinya.
Asal kamu tau saja, setiap semester aku mendapatkan rangking satu. Cukup pandai untuk bisa membaca gerak-gerikmu yang sudah seperti penguntit. Aku tau kamu sengaja, kan?
Asal kamu tahu saja, kamu membuatku tak konsen mengerjakan PR. Karena selalu tak sabar dengan sikapmu.
Tak sabar mendengar ceritamu, leluconmu dan pulang berdua denganmu. Setiap siang kita disinari terik yang sama, tetapi awan mengikuti kita dari atas, semuanya terasa teduh.
Sampai detik saat aku menulis ini, kamu tetap saja diam ditengah pintu sana. Kamu kira aku tak peduli? Aku sudah tak sabar cerita apa yang akan aku dengan hari ini. Sampai-sampai, PR ku belum selesai. Hanya karena menulis surat ini.

Dasar penganggu! Pengganggu yang aku sukai.

Entah kamu terlalu bodoh, atau pemalu. Mengirim pesan ke handphone-ku saja kamu tak berani. Padahal untuk seorang bendahara kelas sepandai diriku, kamu bebas untuk basa-basi. Tanya tentang PR kek, tugas kek, uang kas kek, atau langsung saja bilang. I LOVE YOU, Sarah! Walau pelajaran bahasa Inggrismu buruk, tiga kata itu cukup mudah kupikir. Pasti aku akan segera membalasnya, I LOVE YOU TOO, Iam! Tidak menggunakan kalimat yang ribet, ,kok. Agar kamu lansung mengerti. Ah, you’re stupid boy!

Kemarin, ada seorang pemain basket yang menurutmu tidak ada asik-asiknya. Dia menyatakan perasaannya. Tapi aku menundanya karena masih menunggumu.
Jika kamu masih tak berani berkata hari ini, mungkin sesekali kamu akan melihat mataku berkaca, ditengah-tengah canda kita. Aku akan sedih. Karena aku akan memberikan jawaban kepada pemain basket itu.

Belum selesai membaca surat ini, aku segera melipatnya, lalu memejamkan mata. Karena kalau tidak, sebentar lagi kertas ini akan bolong oleh air mata yang sekarang sudah berkaca-kaca. Dalam kesepian yang semakin mencekam ini, aku tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa bersandar pada meja, lalu terisak sedikit.

Kurasa Sarah belum jauh, aku harus mengejarnya. Harus! Mudah-mudahan perasaannya ubelum hilang, bersama air matanya tadi yang mungkin akan mengering tertiap angin di lapangan basket. Tanpa berpikir panjang aku berlari menyusuri koridor, lapangan basket dan tak terlihat dimana Sarah.

Tuhan, tolong, aku harus melihatnya lagi. Aku harus mengatakan apa yang semula ingin aku sampaikan.

Sang kuasa benar-benar pengabul doa. Iya. Aku melihatnya lagi.  Di ujung gerbang sekolah.Perempuan yang kusuka, yang juga selama ini menyimpan rasa terhadapku.

Aku melihatnya lagi, terlihat bahagia. Bahagia berboncengan dengan cowok pemberani lain. Cowok keren yang biasa bermain basket sepulang sekolah. Aku tahu karena kulitnya gelap.
Dia pasti bahagia, walau matanya masih sedikit merah.

Aku melemas, ditertawakan matahari karena kecemenanku. Tak ada yang bisa kulakukan, hanya membiarkan keringat membuat aliran abstrak pada dahi.

Mulai sekarang, kamu tak perlu dengan sengaja meninggalkan apapun. Aku juga tak akan membiasakan mengerjakan PR sepulang sekolah dikelas. Karena aku hanya akan ditertawakan bangku-bangku kosong disana, ketika masih teringat cerita-ceritamu.
Jangan pulang terlambat lagi! Kecuali, ketika akan menyuruhmu suatu saat nanti.

Sepucuk surat ini berakhir denga nama jelasnya.

Di tengah lapangan, termpat pacar Sarah yang baru biasa melompat-lompat, aku meninggalkan sesal. Menyesal setiap waktu yang petugas pembersih sekolah berikan, tak sedetik pun aku mengatakan I LOVE YOU. Atau jika terlalu sulit, JADIAN YUK!

Menyesalkan setiap pulsa yang aku beli, tak ada satu rupiah pun kugunakan untuk mengirim pesan, atau menelponmu.

Tiba-tiba aku teringat pada kalimatnya, ‘Mulai sekarang, pasti kamu gak bakal kehilangan kunci lagi.’ Maaf telah membuatmu sedih. Tapi bukan karena aku secemen ini, hanya saja, melihatmu tertawa, jarum jam seperti tak bergerak, gravitasi seketika berhenti dan bumi tak mau berotasi. Aku hanya lupa segalanya, termasuk boneka Keropi yang lebih besar dari gantungan kunci ini, juga sepucuk mawar, yang berwarna sama dengan bibirmu.

Remuk, lepas satu per satu kelopaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!