Sabtu, 30 Mei 2015

PEMILIK SENYUM YANG TAK HABIS


Menjelang pekan terakhir mei kemarin, aku tengah sibuk-sibuknya berkutat dengan kertas karut-marut hasil coretan sakti dosen pembimbing. Stres sekali rasanya, harus mengikuti keinginan beliau yang tak ada habisnya. Maka itu, aku tinggal sejenak, rehat barang beberapa hari, guna mencari aktifitas lain.

22 Mei pukul 8:30 malam, aku mendapat undangan menjadi pengisi acara talkshow pada satu rangkaian seminar. Ngobrol-ngobrol enteng saja, mewakili Program Studi DIII Teknik Mesin. Sekedar menyapa hangat teman-teman peserta seminar, membagi pengalaman hingga lolos rekrutmen pegawai BUMN. Sebagai anak kuliah kelas kerjasama dengan salah satu BUMN terkemuka di Indonesia, berbagi cerita gembira kan adalah hal baik. Menularkan optimisme anggap saja. Aku sanggupi undangan tersebut, sebelum pukul 12:00, dua hari setelah itu, sudah ada di auditorium kampus.

Hampir tengah hari, pengisi materi utama seminar tengah pidato di mimbarnya. Menjelaskan poin demi poin penting pada layar lebar di kanan dan kiri panggung beralas karpet warna merah. Semua padangan tertuju pada sumber suara. Sedang aku duduk santai sambil menyantap sarapan dari meja registrasi, sambil clingak-clinguk. Antusiasme terlihat dari sorot tajam mata peserta seminar.

Kupingku hampir bosan dengan ocehan pemateri dan sepotong kue sus tak dapat menahan gejolak di lampung. Sekonyong-konyong aku keluar dari ruangan berpendingin paling megah di kampus. Duduk pada kursi diterasnya, menghadap ke dalam aula.

Sembari menunggu giliran naik panggung, ternyata pengisi Talkshow dari jurusan lain tengah menyantap makan siang. Aku pun merapat, kemudian membuka tutup nasi kotak jatah santapanku. Tak ada sendok di dalamnya. Aku menutup kembali nasi berisi potongan ayam, sambel dan lalapan dengan penuh kecewa. Kubawa ke kostan saja nanti.

Tapi tuhan mengganti kecut di hatiku. Pertemuan dengannya baru saja dimulai...

Eskalator yang sudah termakan usia di kampusku terdengar agak kasar. Pelan-pelan tangga otomatis berusia tua itu membawa seorang gadis. Pemilik bulu mata lentik mengenakan batik berbahan dasar pink, kombinasi corak hitam. Rok hitam panjang menambah kesan bersahaja pada dirinya. Senyumnya kian mendekatiku, tak lama dia duduk di kursi sebelahku sambil memangku sebuah nasi kotak, lalu ia bersandar menghiraukan ransel mungil yang tak dilepaskan.

Senyum saja tak sempat kubalas, seperti tersihir kedatangannya, aku hanya bisa mencuri pandang, memperhatikannya mencubit potongan ayam, lalu mengunyahnya dengan rapi sekali. Tangannya masih sibuk dengan makanan, dia melempar pertanyaan, memulai percakapan kami.

'Perwakilan jurusan juga?' Dia tersenyum.
'Ah iya. Kamu juga?'
'Iya. Sudah lama datang?' Dia tersenyum lagi.
'Hmmm' aku menengok jam tangan, 'Dari pukul 11:30.'

Entah darimana dia belajar mengakhiri sebuah kalimat dengan persembahan senyum. Itu berbahaya baginya, bisa-bisa memikat banyak hati. Karena tak hanya padaku dia begitu. Kepada laki-laki berkepala pelontos di sebelahku juga sama. Bedanya, mereka sudah saling kenal.

Dia seangkatan denganku, tapi baru pertama kali kami bertemu. Tapi tuhan langsung membuat hatiku tersentuh oleh ciptaannya, pemilik senyum yang tak berkesudahan.

Keadaan begitu menyihir, memperhatikannya membuat bunyi eskalator menghilang dan satu per satu orang menyublim, bersatu dengan udara. Hanya ada detak jantungku yang berlari tak beraturan, kedipan mata jelinya dan nasi kotak yang terus ia pandangi. Rasa santap siang yang begitu mengecap pada lidah, mungkin membuatnya mengacuhkanku. Aku, pemilik bola mata yang tak mampu bergeser, barang satu derajat pun dari keindahannya.

Sebuah langkah kaki rapi dan pelan, masuk ke dalam dunia kami berdua. Perlahan memecah satu per satu dinding semu yang kuciptakan tadi. Membuat khayalku terkubur, serentak keadaan menjadi seperti semula.

'Kakak-kakak, Talkshow-nya sudah mau mulai. Silahkan masuk ke dalam, duduk di sofa paling depan.' Kata seorang gadis berkuncir kuda dengan Dress Code almamater.

'Ayo masuk.'
'Hah? Duluan aja, aku masih belum selesai makan.'  Kata pemilik senyum yang tak pernah habis disebelahku.

Akhirnya aku berjalan sendirian ke dalam, setelah menitipkan nasi kotak yang masih utuh kepada panitia yang kuacuhkan tadi.

Setelah puas berbincang, membagi tips dan diskusi dengan teman-teman yang sangat antusias, kami membuat sesi foto-foto. Sayang sekali aku tak pas bersebelahan dengannya. Yasudahlah, tak apa-apa.

Keluar dari aula, kami disambut ucapan terima kasih sebelum meninggalkan acara. Tentunya tak begitu saja aku pulang, aku masing ingat dengan nasi kotak yang kutitipkan ke panitia tadi. Setelah mendapatkan satu kali jatah makan, aku menuruni eskalator. Ketika baru setengah jalan tangga ini membawaku, terlihat dia tengah mengantri di depan pintu lift. Aku bergegas mendekatinya, siapa tau bisa berbincang banyak berdua di lift dan jika memang hariku baik, PIN BB-nya akan menjadi salah satu kontak di Blackberry Messenger-ku.

Sial sekali, ternyata dia ditemani seorang wanita. Gadis berkacamata dengan baju batik sewarna dengannya, salah satu pembicara pada Talkshow tadi. Akhirnya kami bertiga di dalam lift. Maksud hati ingin berbicara dengannya, bibirku seperti terkunci. Alih-alih menanyakan PIN BB, pita suaraku tak mampu bergetar barang untuk mengerluarkan satu kata sapaan saja.

'Bang, kemarin waktu kerja magang, cari tempat sendiri atau ditentukan kampus.' Aih dia tersenyum lagi.
'Hah?' Aku kaget dia membuka suaranya, 'Seharusnya lokasi ditentukan perusahaan, tapi karena kurang informasi kemarin, jadinya cari lokasi sendiri.'
Aku berpikir sebentar, 'Kita kan seangkatan, ya? Kok panggil saya Abang?'
'Oh sama? Yaudah gakpapalah.' Dia tertawa kecil sambil menunduk malu.
'Keliatan tua banget ya muka saya.' Aku baru bisa bercanda, kecuali jika dia memang melihatnya seperti itu.

Tak lama pintu lift berbuka, kami sampai di lantai 1 gedung kampus. Perbedaan rasa udara mulai nampak. Hangat mengentuh kulit, menggantikan udara dingin di dalam lift. Beda lagi dengan hatiku yang tetap sejuk berjalan pelan dibelakangnya.

Sampai di lobby kampus, sepoi udara luar bertiup pelan. Membuat beberapa daun kering lewat di depanku, juga cukup untuk menjadikan tanaman sekitar menari. Sedang, dia mempercepat langkah sambil berlari-lari kecil. Rupanya dia menghampiri seseorang yang sedang menunggnya pinggir jalan aspal, masih di lingkungan kampus. Hatiku kecut lagi melihat seorang berjaket hijau tua yang menunggangi motor besar itu adalah laki-laki. Dari lima meter persis di depanku, di hanya berkata, 'Duluan ya' sambil duduk menyamping dengan rapi di belakang lelaki beruntung itu.

Melihatnya menjauh dengan cepat, aku membiarkan senja tertawa puas. Butiran pasir yang terangkat dari aspal setelah dilewati ban motor lelaki itu, tak ubahnya seperti hatiku yang sudah berubah dari bentuk asal. Menjadi serpihan yang membuat rongga dadaku kosong, tapi senyum, mata indah dan caranya menyantap nasi kotak semakin memadati ruang di kepalaku.

Asal kalian tahu saja, masa kuliahku adalah luasan waktu dimana aku sibuk-sibuknya mengagumi banyak wanita sebenarnya. Tapi sebatas mengagumi saja, tanpa satu dua langkah aku mendekati mereka. Bahkan ketika pernah sekali, aku memutuskan untuk berteman akrab, jarak ujung sepatuku ketempat dimana mereka berdiri, berubah menjadi sebuah labirin super  rumit yang mana disetiap belokannya, seperti jalan buntu yang membuatku membalik badan dan justru semakin menjauh.

Tuhan membuat begitu banyak arti dari pertemuan. Berjumpa kemudian bersama, bertatap muka lalu berbalik arah dan melihat lalu tak tau bagaimana cara bertemu lagi.

Sumber gambar sebelum diedit: http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/bibir-sehat-terawat-ilustrasi-_130211064940-405.jpg

4 komentar:

  1. Mengagummi :))

    Pertemuan pertama memang sering banget meninggalkan rasa kagum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kamu lebih sering ngalamin arti pertemuan yang mana? :D

      Hapus
  2. Paragraf kedua terakhir, boleh lah kapan-kapan di-copy ya, Bang? :D

    Jangan bilang belum kenalan tp udah tau dia ada yg punya? Eh btw, jangan pesimis dulu lah kak, siapa tau itu kakak atau mungkin adiknya? ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh-boleh, kok. Ndak didenda tenang aja. :D

      Setelah pertemuan akan proses investigasi terselubung gitu. Saya percaya pada kebetulan yang baik saja kedepannya. :))

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!