Minggu, 28 Juni 2015

MEMBENCI SEWAJARNYA

Terhitung bulan maret 2015. Kepala saya dibuat pening, hati dibikin kesal dan mata dipaksa menatap komputer lama sekali. Sampai saya lupa caranya untuk tidur dibawah pukul 00:00.

Bulan Ramadhan seperti ini, misalnya. Duduk sebentar saja sehabis Shalat Tarawih, tiba-tiba suara sekumpulan anak kecil terdengar. Kadang mereka sambil memukul-mukul barang apa saja yang ada di jalanan. Asal bisa berbunyi nyaring.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya terima saja cara tuhan menguji. Toh semuanya demi orang tua yang ingin sekali tali toga yang dipakai di kepala anaknya, dipindahkan oleh rektor. Walaupun sebenarnya, judul proyek akhir yang tengah saya kerjakan adalah hal yang paling memuakkan.

Banyak orang yang mudanya menjadi pendemo, ketika tua duduk di kursi wakil rakyat. Ada juga yang benci ditilang, justru dapat jodoh polisi atau polwan. Tak jarang sepasang manusia saling ejek waktu sekolah, setelah mapan, justru bersanding dipelaminan yang indah.

Saat sekolah, saya mati-matian bencinya dengan pelajaran kimia. Tapi sistem pendidikan di Indonesia, mengharuskan mahasiswa menguasai semua pelajaran. Duduk dengan bosan, kadang-kadang sambil membaca komik, ialah yang saya lakukan ketika guru sibuk dengan mantra kimianya.

Memasuki perguruan tinggi, saya memilih jurusan yang tidak memaksa mahasiswanya pusing dengan hafalan senyawa kimia, reaksi hidrolisis, pertukaraan ion, pengaturan pH larutan dan tetek bengek lainnya. Saya senang, bisa sukses menghindari itu semua.

'Proses Pemurnian Air dan Pemeliharaan Clarifier Plant pada Water Treatment Plant...' ialah balasan dari tuhan karena kebencian saya kepada kimia. Reaksi sedimentasi, pengaturan pH larutan, pertukaran ion dan Chemical Dosing Systems adalah sedikit banyak dari hal-hal yang mengharuskan saya begadang membaca Operation and Maintenance Book tentang alat pengolah air baku menjadi air demin. Parahnya lagi dalam bahasa Inggris. Memaksa saya bertanya sana-sini, membaca buku, mengingat dan mengulang kembali dasar-dasar pelajaran kimia.

Menyesal dulu sibuk baca Detective Conan waktu SMA? Ah ndak juga. Saya bukan orang yang mudah menyesal*. Itu cara saya menghargai keputusan sendiri. Asal semua harus penuh pertimbangan dan perkiraan. Jangan sampai konyol.

Membenci sesuatu, memang ndak boleh berlebihan. Sewajarnya saja.


*) Kecuali melakukan dosa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!