Senin, 22 Juni 2015

RASANYA NGULI PEMPEK

Saya percaya bahwa lelaki, akan terlihat lebih seksi, ketika tengah memegang alat dapur, dalam hal ini, memasak. Bayangkan, tidak hanya menjadi seorang imam, lelaki sebagai suami dapat menggantikan peran istri, ketika nanti istrinya sedang sakit, capek atau mengidam.

Ayahku, misalnya. Ketika dahulu masih bekerja, beliau selalu menyempatkan diri membuat masakan ketika hari libur, atau di siang hari ketika kebagian shift malam. Kadang-kadang ibu memang sibuk sekali. Kami tak bisa memaksakan. Tapi masakan buatan Ayah tidak asal-asalan. Enak dan hal yang sederhana, bisa menjadi luar biasa. Tumis sayur kangkung, misalnya. Bisa lebih enak dari cah kangkung buatan warung Sea Food manapun.

Aku pun begitu. Sejak kecil senang sekali rasanya, kalau diajak jalan-jalan ke pasar tradisional. Sampai sekarang pun, pasar tradisonal di kota Jakarta cukup enak disambangi ketika tengah malam. Siklus hidup pedagang disini seperti terbalik. Istirahat di siang hari dan banting tulang saat matahari tak bersinar lagi.

Berawal dari kebiasaan itu, waktu kecil, aku sering mencoba-coba membuat masakan sendiri. Hal yang paling sering ialah nasi goreng, tumis kentang sambal dan tentu, telur dadar. Walaupun terkadang rasanya absurd. Tapi ibu pernah memuji nasi goreng buatanku. Kata beliau, lebih enak dari nasi goreng buatan Mbak.

Hidup di Jakarta menuntut ilmu, merantau, terkadang membuatku rindu dengan masakan khas kota kelahiran, Palembang. Kota yang terkenal dengan pempek. Hanya sesekali saja aku mencicipi panganan dengan cuko sebagai teman makannya ini. Disini pempek harganya mahal, ukurannya kecil dan tak seenak buatan Ibu. Aku jadi sering merasa rugi mengeluarkan uang untuk kenikmatan yang tak seberapa itu.

Tempo hari teman sekelasku sedang berulang tahun, kami berkumpul untuk merayakan, sekedar makan bersama saja. Ada inisiatif dariku untuk membuat pempek panggang. Jenis pempek yang kelezatannya tak tertandingi. Walaupun aku belum pernah membuatnya sekali pun, aku memberanikan diri. Paling-paling kalau gagal, rugi-rugi beli bahan sedikit ya ndakpapa.

Hasilnya, aku gagal total. Adonan pempek yang seharusnya kenyal setelah dipanggang, justru semakin mengeras. Kalau saja aku lempar ke arah lantai, bunyinya seperti martil yang sedang memukul keramik. Bisa pecah berhamburan.

Aku terbalik membuat adonan. Tepung terigu yang harusnya diseduh dengan air panas hingga menjadi seperti bubur, lalu baru dimasukkan sedikit demi sedikit tepung sagu, malah tepung sagunya yang aku seduh duluan, baru dimasukkan sedikit demi sedikit tepung terigu. Gagal total. Keras sekali.

Tapi mencoba-coba kan, hal yang baik. Selama akibat dari kegagalannya tidak konyol. Pemuda ya harus banyak-banyak menghabiskan jatah gagalnya, toh?

Memasuki bulan Ramadhan, rasanya menu berbuka anak kost yang memang sudah seadanya, tak sedap tanpa kehadiran pempek. Kembali muncul inisatif di benakku untuk membuat sendiri pangangan yang khas dengan rasa iwak ini.

Berhubung tidak ada yang menjual ikan giling di pasar dekat kostan, yasudahlah, ndak pakai iwak ndakpapa, yang penting makan pempek. Aku tak sabar harus menunggu tanggal 7 Juli untuk pulang ke kampung halaman. Dimana setiap sudut jalan, tak sulit untuk mencari pempek jenis apapun.

Kali ini bukan pempek panggang, tapi pempek isi telur. Aku main aman saja. Memasuki akhir bulan seperti ini, sakit rasanya kalau harus merugi karena membeli bahan.
Aku masukkan adonan urut demi urut memperhatikan sebaik mungkin tingkat kekerasan adonan. Untuk coba-coba saja, aku menggunakan bahan yang sedikit. 1/8 kg tepung terigu yang diseduh, menghabiskan tidak sampai 1/2 kg tepung sagu sebagai campuran adonan.

Hasilnya.

Layak disebut pempek kan? Untuk dikunyah juga adonannya lumayan empuk. Walau tidak seenak buatan Ibu.

Selama pembuatan, ada saat ketika tanganku merasa pegal karena nguli adonan pempek. Nguli adalah kata yang biasa dipakai Ibu, menunjukkan ketika beliau sedang membuat adonan pempek.

Aku berhenti sebentar oleh rasa pegal itu. Hal yang membuatku tertegun adalah, nguli 1/2 tepung satu untuk pempek saja, tanganku sudah pegal. Bagaimana dengan ibu? Kadang beliau harus nguli belasan kilogram daging ikan giling ditambah beberapa kilogram tepung sagu untuk membuat pempek. Memenuhi keinginan teman-temannya yang memesan pempek. Hasil nguli belasan kilogram adonan pempek, beliau kirim uangnya untuk jajan anaknya yang merantau di Jakarta. Pernah sekali aku mendangi wajahnya ketika sedang nguli pempek di Palembang. Tak pernah sekali pun, sekali pun, aku melihat kilatan rasa capek atau pegal di tangan beliau yang sudah melekat aroma ikan di telapaknya.

Sekarang aku tahu, rasa yang beliau simpan selama nguli pempek, dibalik senyumnya. Mungkin dalam hatinya beliau ingin berkata, 'Nak, ndakpapa ibu capek, ibu pegal, asal Iyam ndak kelaparan di Jakarta.'

Sedang aku, masih sering menolak, atau malas-malasan saat ibu minta tolong dipijat kaki, atau tangannya yang tiap bulan mentransfer uang, biar anaknya bisa makan. Padahal apalah kegiatanku saat sedang liburan di Palembang. Bisa-bisanya aku sering beralasan, capek atau ada tugas yang sedang dikerjakan.

Begini ya, bu, rasanya nguli pempek?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!