Jumat, 05 Juni 2015

[Shocking News] Patah Hatiku

Jum'at (05/06/2015) untuk pertama kali Headline berita di televisi, membuat mataku benar-benar ditawan. Terbelalak, walau tak sampai mulut mengangah, cukup membuatku mematung beberapa detik. Lalu kemudian memutuskan untuk diam pada satu channel, meninggalkan siaran BCA Indonesia Open.
'DAHLAN ISKAN RESMI TERSANGKA'

Begitulah kira-kira kalimat yang membuat hatiku tak cukup kuat bertahan, kemudian patah.

Pria kelahiran Magetan, Jawa Timur ini ialah idolaku. Bukan sekedar tamatan pesantren bersahaja, Dahlan Iskan ialah sosok motivator bagiku. Diluar 'blusukan' yang sering diliput media, bagiku mantan dirut PT PLN (Persero) ini punya pemikiran yang, tidak begitu luar biasa sebenarnya, sederhana saja, ndak ngejlimet, logis dan tetap inovatif. Menurutku.

Awalnya, aku putuskan mengikuti pendidikan untuk menjadi pegawai PT PLN (Persero) sekedar untuk menjadi ladang pekerjaanku, ya, sebagai pegawai biasa saja. Tapi melihat beliau, timbul keinginanku suatu hari menjadi pejabat BUMN yang sering dipelesetkan menjadi Perusahaan Lilin Negara ini.

Seribu Tawa Sejuta Damprat, Sepatu Dahlan dan terakhir Manufacturing Hope. Ialah sederet buku yang membuatku mantap, kepribadian yang sering ditampilkan oleh Pak DIS, patut ditiru. Pernah sekali, aku telah menenteng buku Biografi Dahlan Iskan, hampir kuboyong ke meja kasir. Sayangnya, aku belum selesai membaca biografi orang paling penting dalam peradaban Islam. Sehingga tak pantas saja rasanya, jika aku sudah mulai membaca biografi mantan orang nomor satu di JawaPos ini.
Sejujurnya, aku sudah biasa mendengar berita miring tentang beliau. Maling listrik PT PLN (Persero) saat menjabat CEO JawaPos Grup, jualan genset, inefisiensi 37 Triliun rupiah selama menjabat dirut Perusahaan Listrik Negara, dugaan korupsi pengadaan turbin pembangkit listrik di Kalimantan, anak emas Cikeas, dan berita lainnya. Sampai-sampai ada buku yang berjudul 'Dosa-Dosa Dahlan Iskan'. Setauku cuma malaikat yang mencatat dosa manusia. Penulis semacam ini, bersih sekali mungkin jiwanya.

Seabrek tuduhan tersebut selama ini menjadi angin lalu, pergi tanpa meninggalkan jejak, pikirku. Tapi kali ini, kasus lama dugaan korupsi pengadaan gardu induk listrik Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, benar-benar menyeretnya ke Kejaksaan Tinggi Negeri. Awalnya sebagai saksi, tapi setelah mangkir dua kali dalam pemeriksaan, lalu disidik selama sembilan jam, akhirnya penyelidikan yang dimulai dari bulan oktober oleh Kejati, status tersangka pun tersemat pada bahu mantan Menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Kecewa? Ndak sekarang. Sudah lama hatiku menciut akibat cerita dari pegawai PT PLN (Persero) tempatku melakukan kerja magang, tentang 'sepak terjang' seorang Dahlan Iskan selama menjabat dirut. Aku hanya menahan, semoga tak benar cerita salah seorang anggota serikat pekerja yang aktif mengkritisi kinerja pejabat PT PLN (Persero) ini.

Hari ini, benar-benar patah hatiku.

Aku tak paham proses hukum apa yang akan dilalui beliau, atau apakah akhirnya kesalahannya terbukti di pengadilan. Satu hal saja, kepribadiannya yang besahaja tetap kuidolakan.

Terlepas kasus hukum dan statusnya, semoga proses hukum berjalan adil. Kalau memang terbukti salah, ya dihukum sesuai dengan aturan konstitusi. Jangan ada intervensi dan kriminalisasi.

Tetaplah bersahaja, DAHLAN ISKAN.

Sumber gambar terkait:
http://images.cnnindonesia.com/visual/2015/06/05/ed2c9404-bc63-4fed-8398-67c801907977_169.jpg?w=650
http://1.bp.blogspot.com/-j5p2tfUrPX4/UyKjo5n0rsI/AAAAAAAAcyc/ANglXOK8Ft4/s1600/buku+dosa+dahlan+iskan.jpg

2 komentar:

  1. Aku semalem baru tau beritanya dan demi apapun kaget banget. Apakah ini cuma permainan politik?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejauh ini, 80% aku percaya bukan permainan politik. Sisanya, siapa tahu.

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!