Kamis, 16 Juli 2015

Drama Sebelum Takbir

'Sudah saatnya kita punya kalender Hijriyah yang berlaku secara global' Kata Prof. Dr. H. Din Syamsudin dalam kata penutupnya di sesi akhir sidang isbat petang tadi, di Auditorium Kementerian Agama. Saya setuju betul. Bermaksud menghilangkan beda pendapat penentuan baik jatuhnya satu Syawal, maupun satu Ramadhan dan lain sebaginya.

Masjid-masjid ndak perlu mengganti tanggal pada spanduk Sholat Ied-nya dengan spidol, ibu-ibu ndak menggerutu karena sudah capek masak tapi lebaran diundur. Sehingga yang dikatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indoneaia tadi, bisa menghilangkan drama-drama kecil yang sering terjadi.

Apapun yang terjadi, Alhamdulillah, nusantara Berhari Raya serentak. Sebagaimana keinginan kita semua. Kalimat Agung, 'Allahu Akbar... wa lillahilhamd' berkumandang sahut-sahutan dari Sabang sampai Marauke.

Terima kasih kepada Kementerian Agama Indonesia dan seluruh alim ulama yang terlibat dalam menyepakati Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 17 Juli 2015.

Sanjungan juga saya sampaikan kepada Aparat Kepolisian yang sudah gagah di beberapa ruas jalan, dalam mentertibkan lalu lintas dan menjaga keamanan. Tugas Anda mulia, pak. Karena kadang, bapak/ibu yang dianggap menyeramkan ini, rela meninggalkan keluarga saat takbiran, begitu pula ketika sholat Ied berlangsung.

Semoga baik perjalanan arus mudik dan balik, serta silaturahmi keliling kota yang menjadi tradisi di Indonesia dapat berlangsung tertib dan aman.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqabalallahu wa minna wa minkum (semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu). Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan Agung tahun berikutnya.

Ilham, http://www.ilhamsliterature.com.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!