Jumat, 17 Juli 2015

Sahabat? Menurut Saya

Belakangan, terngiang betul di telingaku kalimat bijak berikut:

'Binalah persahabatan, sebelum saling membutuhkan'. Entah kawan dekat mendapat darimana wejengan yang saya sepakati ini, sebetulnya.

Hanya saja, bingung mendefinisikan sahabat. Siapa sebenarnya sahabat? Apa kriterianya? Berapa besar peran sahabat? Dan sederet pertanyaan hampir serupa sekelebat muncul begitu saja di kepala. Tidak sampai membuat pening. Hanya membikin saya terganggu dalam diam beberapa saat. Kemudian  melupakannya.

Suatu ketika, dalam keadaan otak kosong, saya sering membikin sendiri penafsiran tentang orang yang dikatakan 'susah, senang bersama'. Kalau ndak 'susah, senang bersama', berarti bukan sahabat. Padahal menurut saya, kalau memang sedang susah, ya dibikin senang lah, sahabatnya. Kok yo malah ikut-ikutan hanyut dalam kesusahan. Bukankah ingin selalu senang, ialah sifat alam manusia? Ndak ada manusia yang ingin susah, kan?

Pernah sekali aku merujuk ke kisah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Salam yang punya banyak sahabat dan di belahan dunia lain, orang ingin sekali bersahabat dengan kekasih Allah ini.

Bagaimana kriteria sahabat saat itu?

Sedikit banyak, ialah mereka yang begitu mencintai orang lain, hingga rela mati deminya. Ada yang rela ditembus anak panah sekujur badan karena melindungi permata hatinya saat perang. Ada pula yang mencabut pedang dari sarungnya dan menantang siapa pun, yang mau menghalangi jalan Nabi Agung ini.

Saya hanya pendosa biasa, ndak perlu seperti itu mengkriteriakan sahabat. Walaupun ada yang rela mati demi saya.

Ibu ketika melahirkan saya dan Ayah yang siap melihat istrinya tercinta mengerang serta mempertahurkannya nyawa demi mengeluarkan bayi dalam rahimnya. Mereka sahabat terbaik, tentu.

Akhirnya saya membuat tiga kesimpulan, bahwa:
1. Sahabat paling tidak bisa menjaga kartu satu sama lain.
2. Orang yang memukul sangat keras di depan dari bawa, hingga saya terpental jauh ke atas dan,
3. Kawan terdekat yang mengulurkan tangannya pertama kali, ketika saya di bawah. Bukan malah ikut-ikutan nyempul ke bawah biar susah sama-sama.

Dari kesimpulan diatas akan lebih diterima nalar saya kalau quote sebelumnya di ubah menjadi:

'Binalah pertemanan, sebelum saling membutuhkan.'

Berkawan saja sudah cukup untuk saling tolong menolong. Sesuai dengan sifat sosial manusia, Take and Give. Saat kita menerima, kelak pasti ada yang  diberikan.

Saya sebagai orang yang tidak mudah 'percaya' karena pernah dikecewakan, agak susah -bukan berarti tidak bisa- punya sahabat. Karena berteman dekat dengan orang lain sudah membahagiakan sekali.

Bersahabat kadang membuat kita terjerumus pada paham nepotisme berkelanjutan. Ndak baik juga.

Beruntunglah bagi kalian yang mempunyai kriteria sahabat dan banyak memilikinya.

Semoga dalam hidup, kita selalu dikelilingi orang-orang baik yang mau bertukar cinta tanpa khianat dan melalukan Take and Give tanpa menuntut.

'Suatu saat, mungkin tidak ada lagi orang yang bisa diandalkan/dipercaya' Jodie Saintemillion (Agen FBI dalam Manga Detective Conan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!