Minggu, 02 Agustus 2015

#SatNitePost: OSPEK: Orientasi atau Ajang Balas Dendam?

Sebagai agenda rutin tahunan, ospek atau disebut masa orientasi, sebetulnya memiliki makna yang sangat baik bagi siswa/i baru yang ingin mengenal sekolah tempatnya menimba ilmu, sebelum betul-betul disibukkan dengan kegiatan belajar mengajar. Bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Tentang Masa Orientasi Peseta Didik di Sekolah, Pasal 2 menyebutkan 'Masa orientasi perserta didik bertujuan untuk mengenalkan program sekolah, cara belajar, penanman konsep pengenalan diri dan kepramukaan sebagai pembinaan awal terbentuknya kultur sekolah yang kondusif bagi proses pembelajaran lebih lanjut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional'. Namun kenyataannya di Indonesia, masih banyak sekolah yang salah dalam menerapkan hakikat sebenarnya dari masa orientasi.

Praktik perpeloncoan, pelecehan dan kekerasan baik fisik maupun mental, kerap sekali mewarnai cacatan buruk sejarah ospek di Indonesia. Sehingga masa orientasi peserta didik baru kerap menjadi momok menakutkan bagi calon pelajar dan, dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kerugian secara fisik dan psikologis. Imbasnya ospek dijadikan tradisi ajang balas dendam turun termurun yang didasarkan pada hukum sebab akibat, seperti mata rantai yang tak ada habisnya.

Akhir bulan Juli 2015, sebagian besar sekolah secara serentak telah memulai tahun ajaran baru (2015/2016) yang tentu akan diawali dengan kegiatan orientasi siswa/i baru. Berikut saya rangkum, beberapa penyelewengan yang sering terjadi pada kegiatan ospek.
---
1. Pelecehan

Penyelewengan ini kerap diwujudkan dalam hal mempermalukan atau merendahkan derajat siswa/i baru. Baik melalui intimidasi oleh pada senior, maupun yang secara kasar mata dapat kita saksikan ialah penggunaan atribut-atribut yang tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar.

Menggunakan topi dengan bentuk-bentuk tidak wajar misalnya, tidaklah membuat para peserta didik menjadi lebih pintar. Justru mereka akan merasa tertekan secara psikologis karena merasa dibeda-bedakan dengan kakak-kakak kelasnya. Bukankah ospek yang digadang-gadang bertujuan untuk menamamkan solidaritas dan kebersamaan antar siswa/i?

Senior yang 'nakal' akan berdalih, 'Topi kan untuk menutupi kepala adik-adik dari terik matahari.', lalu, kenapa tidak pada saja topi berlogo Tut Wuri Handayani yang biasa digunakan saat upacara bendera? Dan menanamkan betul-betul makna dari selogan tersebut.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Bapak Anies Baswedan dalam sidaknya pada beberapa sekolat di Tanggerang, Banten, tak kompromi menyuruh calon peserta didik di sekolah yang bersangkutan, untuk melepas semua atribut 'aneh' yang mereka kenakan. '...Mereka ini tujuannya untuk belajar, bukan untuk dipermalukan atau direndahkan derajatnya' Ujar Menteri yang beken dengan slogan 'Turun Tangan' ini.

2. Pemalakan

Bukan pemandangan yang aneh di Indonesia, bila di awal tahun ajaran baru, banyak calon peserta didik pagi-pagi sekali sudah keluyuran di jalan dengan menggunakan kalung permen, atau tengah sibuk mencari macam-macam makanan ringan. Bukan tanpa alasan, mereka melakukan hal tersebut tentu berdasarkan perintah senior.

Wajar saja memang, jika pada saat pelaksaan ospek, snack yang mereka beli dimakan bersama-sama. Guna menimbulkan kedekatan antara kakak dan adik. Sehingga dapat menepis kesan bengis dari mereka-mereka yang telah terlebih dahulu masuk ke sekolah.

Namun apa jadinya, jika makanan yang mereka bawa dikumpul dalam beberapa kantong besar dalam jumlah banyak. Dibagi-bagi ke seluruh panitia penyenggarah saja tidak akan habis. Ini tentu akan berdampak pada kerugian materi bagi orang tua peserta didik baru. Terlebih lagi, banyak senior yang memberikan hukuman bagi mereka yang tidak memberikan 'jatah'.

3. Kekerasan Fisik

Kasus kematian satu dua kali pernah terdengar di Indonesia, imbas dari kegiatan ospek yang dilakukan di luar batas kemanusiaan. Musibah semacam ini kerap terjadi pada jenjang perguruan tinggi. Pada fase dimana semangat pada pemuda tengah bergelora tapi dangkal akan pikirannya sendiri.

Kadang, tidak adanya tindakan preventif atau sanksi yang tergas dari pemegang kewenangan di sekolah/perguruan tinggi, menjadikan hal serupa tak dapat dikendalikan. Bahkan parahnya lagi, ketika sudah terjadi hal yang tidak diinginkan, bukannya malah diusut sampai tuntas, perbuatan keji seperti ini terkesan ditutup-tutupi.
---

Secara keseluruhan segala tindak tanduk kegiata orientasi di sekolah, telah diatur dalam PERMEN (Peraturan Menteri) yang telah disebutkan diatas. Hal yang lebih melegakan lagi, menurut saya, ialah di halaman mopd.kemdikbud.go.id masyarakat dapat menyampaikan keluhan dan melaporkan penyelewengan kegiatan ospek di sekolah.

Menteri Anies menurutkan ada 208 ribu sekolah di Indonesia. Tentu pemantauan adanya praktik perpeloncoan harus dibantu oleh masyarakat. (dikutip dari http://news.detik.com/berita/2977787/mendikbud-anies-tegaskan-sanksi-pada-sekolah-yang-masih-gelar-perploncoan)

Pada akhirnya saya berharap, tradisi tak benar ini dapat dihentikan secepat dan sebaik mungkin. Guna terciptanya lingkungan pendidikan di Indonesia yang sarat akan penanaman konsep moral dan pendidikan yang tepat sasaran dan tepat guna.

Terlebih kepada pemegang kewenangan pada tingkat perguruan tinggi, diharapkan dapat melakukan tindakan serupa, seperti halnya menyediakan wadah pelaporan terhadap penyelewengan ospek di ranah tersebut. Mengingat beberapa perguruan tinggi, belum melaksanakan kegiatan orientasi. Apalagi pasca ospek resmi yang diselenggarakan kampus, masih sering terjadi babak-babak baru di dalamnya, mengatasnamakan institusi kampus dan berbagai macam intimidasi dari senior. Karena segala macam imbauan, edaran dan tindak persuasif lainnya, tak berguna rasanya jika aduan tak sampai ke lembaga yang menjadi 'bos' dari perguruan-perguruan tinggi. Sehingga akan menimbulkan efek jera.

"... Mereka yg tahu adany tindakan perpeloncoan ini jangan diam dan mendiamkan saja, harus berani melawan utk merubah sistem kebiasaan yg ada.' Anies Baswedan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI)

Sumber gambar terkait: http://images.detik.com/community/media/visual/2015/07/29/514cc863-1686-4f26-833c-031e92810859.jpg?w=780&q=90

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!