Sabtu, 05 September 2015

#SatNitePost: Tiga Tahun Menggambar Jakarta

Hari ini, pukul 07:30, genap tiga tahun lalu, saya pertama kali terbang di udara pada ketinggian beribu-ribu kaki di atas permukaan laut. Pertama kali melihat lukisan langit, dengan sentuhan awan yang membuat saya terguncang. Menyaksikan keindahan hasil 'tangan' Tuhan, dari kaca persegi, dengan sudut-sudut tumpul yang tak boleh diturunkan penutupnya, saat rentan waktu yang dinamakan 'Take Off'.

Satu jam perjalanan, PLM - CGK.

Menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, membuat saya sangat Excited tentang segala hal. Mulai dengan bagaimana rupa kota ini, penduduk Jakarta yang sering disebut 'elo elo, gue gue' dan tentang sehebat apa banjir serta kemacetan lalu lintas yang sering dikeluhkan, yang saya lihat dari layar kaca.

Tiga kali usia saya bertambah, menunjukkan berapa lama saya sudah tinggal di 'tanah betawi', untuk menimbah ilmu di kampus Sekolah Tinggi Teknik - PLN. Tiga tahun yang membuat saya melihat dan merasakan terlalu banyak hal, mulai dari yang baik, sampai yang buruk.

Saya pernah berprestasi dengan mengantongi bantuan dana beasiswa, pernah pula gagal dalam beberapa mata kuliah. Pernah menjadi musuh dari suatu organisasi, namun beberapa kali saya bisa diandalkan. Punya banyak teman dekat yang baik-baik, pernah pula menyayat dalam hati salah seorang teman baik, di antara banyak teman yang baik.

Kalau masa SMA hanya mengisahkan tiga warna yaitu, putih, abu-abu dan merah jambu, dunia perkuliahan memiliki warna-warna yang lebih asik. Termasuk saat macam warna almamater berkumpul di depan Istana Negara, lalu saya ikut berteriar di depan 'congor' pemerintah. Membuat border barisan, hingga terliput di salah satu stasiun tv saat 21 Mei 2015.

Kenapa saya menulis ini sebagai peringatan tahun ketiga di Jakarta? Kenapa bukan setiap tahun?

Terima kasih Jakarta. Karena sampai akan habus masa pendidikan saya disini, kota yang keras ini telah mengajarkan dan memperlihatkan saya, tentang kejadian-kejadian yang tidak pernah saya lihat dan rasakan di kampung halaman.

Jakarta merupakan kota yang dicaci tentang kemacetannya dan digunjing tentang bencana banjir. Tapi tanah ini tetap diburu, ketika orang desa kehabisan akal untuk mencari penghidupan di kampungnya.

Sejujurnya, Jakarta tidak semenyeramkan apa yang ada di televisi dan opini kebanyakan orang yang hanya tahu dari 'bisik-bisik tetangga'.

Jakarta memang keras tapi tidak ganas.
Jakarta tidak nyaman tapi memberi pelajaran.
Jakarta lalu lintasnya 'parah', tapi cukup memberi penghidupan pagi pedagang kaki lima di persimpangan lampu merah.
Jakarta memang sering banjir, cukup menggembirakan bagi bocah-bocah kurang beruntung yang tidak mampu membeli tiket ke Water Boom untuk berpesta air.

Harapan saya, semoga Jakarta selalu berbenah di segala ranah. Sehingga nanti ketika saya berkesempatan 'ngider-ngider di taneh betawi' lagi sebagai tamu, cuma teringat yang bagus-bagus saja.

Setelah ini, kemana saya? Melistriki kampung halaman, atau memulai cerita baru dibagian nusantara yang lain?

Akan diketahui, mudah-mudahan di pertengahan tahun berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!