Rabu, 04 November 2015

PLN akan Terus Tumbuh (bagian 2)

--Sambungan Bagian 1--
2. PLN Siap Cabut Subsidi 23 Juta Pelanggan
Di Indonesia, budaya 'ribut-ribut' memang sering terjadi. Subsidi bbm dicabut, 'ribut-ribut' di depan istana. UMP belum disesuaikan dengan angka inflasi, 'ribut-ribut' di jalan raya. Hingga akhir-akhir ini mencuat kabar 'PLN Siap Cabut Subsidi 23 Juta Pelanggan', dunia maya pun sudah 'ribut-ribut'. Sebetulnya masyarakat tidak salah. Sah-sah saja untuk mengeluarkan pendapat sampai ngomel-ngomel. 

Masyarakat Indonesia sudah terbiasa menelan subsidi yang salah sasaran. Sehingga ketika ada wacana untuk membuat aliran subsidi menjadi tepat sasaran, tagline yang mencuat adalah pemerintah tidak pro-rakyat dengan melalukan pencabutan subsidi. Padahal hanya masalah kebiasaan saja.

Jika kebiasaan insomnia harus diperbaiki dengan mengatur pola kegiatan siang dan tidur di malam hari. Maka kebiasaan menelan subsidi bisa dihilangkan dengan mengatur pola hidup dan kesadaran diri, bahwa kita masih mampu dan tak mau mengambil hak-hak saudara kita yang masih kesulitan. Jangan bicara soal pemerintah tidak pro 'wong cilik', kalau gadget-gadget mewah kalian masih diisi ulang baterainya dengan listrik bantuan pemerintah sehingga hak-hak rakyat kecil semakin tergerus dan tak tersampaikan.

Sama halnya dengan yang akan dilakukan PLN diawal tahun 2016, yaitu pencabutan subsisi 23 juta pelanggan pengguna daya listrik 450 Voltampere (VA) dan 900 Voltampere (VA) yang tidak tegolong miskin atau rentan miskin.

Faktanya dari 44 juta pelanggan pengguna listrik bersubsidi sekitar 23 juta diantaranya termasuk dalam kategori mampu. Atau berdasarkan data versi Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah keluarga miskin di Indonesia adalah 15,5 juta dan rentan miskin 9,5 juta keluarga. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Direktur Utama PT PLN (Persero), masih banyak pelanggan yang menipu PLN untuk mendapatkan listrik bersubsidi. Sehingga angka ini harus terus ditekan.

Sudah semestinya langkah pencabutan subsidi pada pelanggan yang tergolong mampu adalah dalam upaya untuk pengehematan negara setiap tahunnya yang mengeluarkan APBN untuk subsidi listrik. Karena diklaim, dengan pencabutan subsidi tersebut, negara dapat berhemat hingga 28 triliun rupiah. 

Kenyataannya selama 12 tahun terakhir, subsidi listrik terus membengkak hebat hingga tahun 2012, terbesar diangkat 103,33 Triliun. Di APBN tahun 2015 mulai dipangkas menjadi 66,15 Triliun. Dalam wanaca pencabutan subsidi listrik yang dimulai di awal tahun 2016, dalam RAPBN yang baru saja disepakati beberapa waktu lalu, sebesar 37,31 Triliun dialokasikan untuk subsidi listrik. Ini artinya dalam upaya pengurangan target penerima subsidi listrik negara bisa berhemat. Di sisi lain, dana dapat dipindahkan dari sektor konsumtif ke sektor produktif untuk menunjang kebutuhan infrastruktur di Indonesia.

Tetapi, tetap harus menjadi catatan bahwa, pengalihan dana APBN dari sektor konsumtif ke sektor produktif perlu mendapatkan kejelasan dari pemerintah tentang kemana aliran dana tersebut. Jika digembor-gemborkan negara bisa menghemat puluhan triliun rupiah, tunjukkan hasilnya. Jangan hanya menjadi celotehan di awal saja tanpa realisasi yang jelas. Jika perekonomian terus menjadi lesu dan Indonesia masih mengandalkan hutang luar negeri untuk perbaikan inrastruktur, jangan bicara soal efisiensi.

3. PLN Berikan Diskon kepada Perusahaan Padat Karya
Sejujurnya saya senang ketika semua elemen saling bersinergi dalam hal memajukan perekonomian di Indonesia. Terutama antara BUMN dan pemerintah yang dikenal sering 'kucing-kucingan'. Termasuk kebijakan yang tengah disiapkan PT PLN (Persero) dalam upaya memberikan diskon 30 sampai 40 persen kepada perusahaan padat karya. Diskon tarif listrik ini diberikan pada pemakaian listrik malam hingga menjelang subuh.

Kebijakan ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam negeri, sesuai dengan isi paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah berkenaan dengan tarif listrik.

Penurunan harga tarif listrik ini diharapkan dapat memberikan semangat pada perusahaan yang menyerap tenaga listrik dalam jumlah besar untuk lebih produktif dalam menghasilkan produk. Karena tidak lagi terbeban dengan penggunaan listrik non-subsidi yang kadang-kadang dirasa memberatkan. Sehingga diharapkan dengan suntikan adrenalin yang diberikan, produk-produk dalam negeri dapat bersaing. Paling tidak, mendapatkan pasar yang luas di dalam negeri dengan menjual produk yang berkualitas dan dengan kuantitas yang juga baik.

Apalagi seandainya pemerintah, dua atau tiga tahun lagi memutuskan untuk bergabung dengan Trans Pasific Partnership (TPP) -yang masih menjadi kontroversi dan pertimbangan-, kebijakan diatas akan membantu produk dalam negeri tidak tenggelam oleh pasar impor yang dipastikan lebih banyak masuk ke negara member TTP sebagaimana imbas dari perjanjian tersebut.
---
Berdasarkan tiga poin yang telah dijelaskan diatas, PT PLN (Persero) sebagai salah satu BUMN terbaik di Indonesia, akan mampu terus tumbuh dan bersinergi dengan pemerintah dalam upaya mewujudkan Indonesia yang akan terus berkembang dan maju.

Sumber gambar terkait:
http://static.ciputraentrepreneurship.com/thumbs/akhlis/industri_padat_karya_1.JPG
http://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/555dbe7d0423bdff248b4567.jpeg?t=o&v=760
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!