Sabtu, 30 Januari 2016

#CAPER: BELAJAR SAMBIL BERMAIN

Sebagaimana halnya awan yang dapat jenuh menampung butiran hujan hasil evaporasi air di bumi dalam siklus hidrologi air, begitu pula otak manusia.

Program Pembidangan Prajabatan PT PLN (Persero) Angkatan 50, berisikan kegiatan yang selalu hampir sama di setiap enam hari dalam sepekan. Meninjak pekan ke empat, tentu, orang sebagian besar dari kami semakin mirip awan saja.

Namun hal tersebut bukan alasan untuk bermalasan dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan, khususnya pembelajaran. Dalam hal ini, perlu kerja sama yang baik antara siswa dan instruktur, untuk membangun situasi kelas yang interaktif, kondusif dan tidak monoton.

Seperti yang dilakukan Pak Asep Kurnia, selaku instruktur mata pelajaran Pengoperasian Alat Penunjang PLTU, beliau punya metode kuno yang masih eksis dan tidak ketinggalan jaman sampai sekarang, yaitu bermain sambil belajar.

Beliau sangat perhatian dengan siswa-siswanya. Ketika kami sudah mulai 'nguap', beliau akan menegur dengan mengajak berbicara, bukan malah marah-marah atau tersinggung. Lalu ketika di waktu-waktu yang sering disebut 'rawan', atau ketika rasa kantuk kami tak terbendung lagi, beliau mengajak kami memainkan berbagai game. Mulai dari suit ala Tarzan, Jenny dan Macan, menghitung berantai dengan mengganti angka kelipatan tertentu dengan kata 'ek ok', game peragaan sampai yel-yel yang membuat kami menjadi sangat terhibur dan membuang rasa kantuk jauh-jauh.
Tak ketinggalan, instruktur yang asli berasan dari tanah Sunda ini juga menyiapkan hadiah untuk para pemenang game. Tak seberapa memang, hanya snack-snack ringan. Tapi bolehlah dipamerkan ke teman-teman lain yang kalah dan tak mendapat hadiah.
 
ig: https://www.instagram.com/p/BBFQYQ_AewO/
Sebaiknya metode seperti ini yang diterapkan disetiap kegiatan belajar mengajar pada tingkat apapun. Guru tidak hanya mementingkan 'kejar target' kurikulum sehingga otak siswanya dijejali dengan materi seabrek.  Karena tidak fair, bukan, ketika guru menyuruh siswa jangan pakai sistem kebut semalan, tetapi tidak pernah dipikirkan keseimbangan antara kapasitas otak siswa dan kuantitas materi ajar. Justru yang paling penting, sedikit demi sedikit, tetapi siswa betul-betul antusias dan semuanya dapat terserap dengan proses yang sangat menyenangkan dan gampang diingat. Toh yang sedikit-sedikit lama kelamaan jadi bukit kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!