Senin, 04 Januari 2016

#CAPER: Jadilah Berani Meski Sulit

Teriakan perintah berlari, jalan jongkok, tiarap, push up, merayap, apalagi bunyi tembakan dan ledakan tak lagi terdengar. Tapi bagi kami, 481 orang, masih latah sekali dengan mengguyonkan perintah-perintah yang sering diucapkan bahkan jadi jargon selama di PUSDIKPOM.

Kepala tak semengkilat dulu dan kemeja putih celana hitam kebanggan, melekat seragam dibadan kami. Tak mengurangi kegagahan walau muka kami gosong beraturan pada bagian wajah. Betul, sepuluh hari membuat wajah kami hampir 'matang'.

Program pengenalan perusahaan resmi dibuka oleh Pak Toto, dari pihak PT PLN (Persero). Kegiatan selama tiga hari kedepan yang akan membuat kami lebih mengenal seluk-beluk perusahaan setrum ini.

Banyak hal yang di dapatkan, tentang profil, sejarah, kekuatan, sampai niaga perusahaan. Hingga yang tak kalah penting, ialah motivasi dari jajaran direksi dan kepala divisi PT PLN (Persero) yang memacu semangat kami bagai kuda. 

Hal yang paling ditekankan ialah, jangan pernah berkata 'tidak bisa' dan beranilah menjadi beda dengan berbagai kompetensi. Salah satu yang saya kagumi adalah beranilah menjadi pemimpin.

Ketua senat Diklat Prajabatan Angkatan 50 mungkin menjadi posisi tertinggi sekarang. Betul sekali saya ingin di posisi itu. Tapi saya tidak boleh konyol jika jika tidak punya masa untuk pendukung voting dan yang paling penting ketahanan memimpin 481 orang. Lalu posisi itu lewat di depan mata dengan Bapak Mujab, teman satu kampus semasa kuliah saya, terpilih sebagai ketua senat.

Keinginan itu beralih ke jabatan yang lebih 'rendah' untuk menjadi senat kegiatan pembidangan di Udiklat Suralaya. Sayang betul, ada yang lebih cepat mengajukan diri. Ricky Himawan, temanku dari ITS. Saya harus kalah lagi, paling tidak kalah cepat dalam mengajukan diri karena kondisinya kala itu di auditorium PT PLN (Persero) Kantor Pusat, bukan saat yang tepat untuk melakukan voting. Posisi memimpin 150 orang, lewat lagi di depan mata saya.

Ternyata memang susah memimpin 150 orang. Keharmonisan nampak terganggu di hari kedua kami di Udiklat Suralaya. Simpang siur kabar terdengar, sebagian dari 149 orang tidak suka Ricky terpilih menjadi senat. Karena saat di PLN Pusat, pemilihan dilakukan sepihak dan tak ada proses voting. Ya begitulah, ketika demokrasi mengakar di pikiran, kadang-kadang membuat sesuatu terhambat. Kami harus menghabiskan waktu satu jam sia-sia untuk berargumen tentang kabar tersebut.

Dengan agak sedikit dingin, voting dilakukan dengan tiga calon. Ricky, Alif dan Vista.

Kekuatan seorang pemimpin ialah ada pada anggotanya. Satu hari memimpin Ricky berhasil membuat lebih banyak orang menyukainya termasuk saya. Gaya kepemimpinannya yang fleksibel, membuat saya juga sepakat dengan lebih dari seratus orang untuk tetap mempertahankannya mengatur kami. Karena saya pun ingin menunjukkan kepada, entah siapa dia, orang yang tidak berani bersuara mengatakan, 'saya tidak suka Ricky', bahwa Ricky layak dipertahankan.
Ada kesempatan memang untuk menjadi orang nomor satu di antara 150 orang siswa prajabatan angkatan 50 yang melakukan pembidangan di Udiklat Suaralaya. Tapi mengatur 24 orang, di kelas TPL-A sudah membuat saya beruntung bisa mendapatkan kesempatan memimpin. Betul. Teman-teman yang membaca ini, akan melihat begitu ambisinya saya ingin menjadi 'bos'.

Saya tidak peduli dengan persepsi semacam itu. Betul saya mengajukan diri ke Ricky untuk menjadi ketua kelas. Benar juga kalau saya 'ngebet' jadi figur yang menonjol.

Karena sama dengan alasan Ricky menjadi ketua senat, 'Kapan lagi belajar mempin kalau bukan dari sekarang?' Rasanya, saya bisa mengkondisikan 24 orang. Sibuk dan berkorban untuk 24 orang. Mana tau kedepan, siapa lagi yang saya pimpin.

'Karir tidak berada di meja, tidak berada di kursi. Tapi berada di diri kita.' Bagus Setiawan (Kepala Divisi SDM PT PLN (Persero)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!