Selasa, 23 Februari 2016

#CAPER: Bermuka Masam ke Asam-Asam

Mungkin hujan belum berhenti dari lewat tengah malam hari senin kemarin. Menggenangi sebagian dari rerumputan dan membuat becek koridor mess udiklat Suralaya. Awal yang begitu dingin untuk mengawali hari. Sedingin kenyataan yang akan saya terima hari itu.
Kami menyeret langkah dengan harap-harap cemas. Menyisakan tapak sepatu yang pekat di bagian aspal yang kering karena sebagian jalan masih becek. Keadaan aula udiklat Suralaya hari ini benar-benar seperti sarang tawon tetapi tanpa harum madu. Sebagian dari kami tertawa menghilangkan rasa khawatir, akan ditempakan dimana untuk menjalani On Job Training (OJT).
Sontak sarang tawon berubah menjadi kuburan angker, ketika PIC (penanggung jawab) diklat prajabatan PT PLN (Persero) angkatan 50 udiklat Suralaya melangkahkan kaki dengan tegas. Pria yang seperti abang bagi kami ini, masih dengan senyum seperti biasanya. Pelan-pelan dia mengangkat microphone, kemudian mulai bersuara. Ah sayang, alat pengeras suara itu 'macet'. Sehingga harus diganti baterainya.
Suara gemuruh sahut-bersahutan terdengar, ketika pria berkacamata dengan setelan kemeja 'listrik pintar' dan celana bahan necis dengan sepatu pantofel coklat mulai membuka slidenya. Pelan-pelan dan dengan menyebalkan menjelaskan tentang program OJT.
Ya, tentu sangat menyebalkan ketika inginnya hati kami, langsung umumkan saja nama-nama siswa dan penempatan OJT.
Akhirnya, setelah mengerjai kami berkali-kali dengan mematihidupkan proyektor ketika akan sampai pada slide nama penempatan OJT, muncul daftar sebagai berikut:
Betul, dari keempat proyeksi penempatan OJT (Keramasan Palembang, Ombilin Padang, Teluk Sirih Padang, Asam-Asam Banjarmasin), saya terlempar ke tanah Borneo. Tentu saja, setelah melihat nama terpendek dari daftar nama-nama siswa yang super panjang tersebut, saya berbalik badan, mengumpat dan langsung kesal, tanpa tahu harus melempar perasaan tersebut kepada siapa. Ke PLN? Tak mungkin. Kepada tuhan? Mau jadi durhaka?
Bukan dilempar ke Kalimantan yang membuat saya kesal. Tetapi peluang 70/150 yang tidak melilih saya untuk kembali ke Keramasan, Palembang, kampung halaman. Ditambahi lagi dengan sorak-sorak dan peluk mesra teman-teman lain yang mendapat OJT di tempat yang dinginkan, lebih menjijikan lagi rasanya.
Daftar nama tersebut benar-benar menghancurkan bayang-bayang saya beberapa hari lalu. Dimana kalau saja OJT di Palembang, saya bisa pulang pergi dari rumah ke unit, bisa berkumpul bersama keluarga setiap hari, bermain dengan keponakan baru saya yang amat cantik dan makan pempek panggang setiap hari.
Ini adalah kali kedua saya kecewa, dimana yang pertama adalah ketika tidak kesampaian ingin pembidangan di udiklat Bogor.
'Sudah jalani saja. Inikan baru OJT dua bulan.' Saya paham betul teman-teman berusaha menguatkan. Terima kasih banyak.
Tapi saya merasa, OJT berbeda dengan penempatan. OJT saya punya kesempatan besar untuk berkumpul bersama keluarga selama dua bulan dan setelah itu, saya siap penempatan dimana saja. Siap betul. Yang penting kumpul dulu saja. Karena saya belum melihat jadwal libur dan memang kecil kemungkinan kembali ke Palembang, walaupun doa tak boleh putus.
Dalam kekalutan, saya menelpon ibu, mengabarkan sambil menahan perasaan meledak-ledak di hati saya. Menghiraukan pengumuman lebih lanjut, apalagi kebahagiaan teman-teman lain. Saya betul-betul tidak peduli.
Tentu saja suara ibu berbeda dengan yang lainnya. Menyadarkan, loh kok kenapa saya selemah ini. Bukankah kemarin-kemarin, saya yang menguatkan ibu kalau kami harus terpisah jauh. 'Kita memang tengah diuji dengan yang pahit-pahit. Tapi yang pahit belum tentu buruk, kan? Anggap seperti obat yang akan menyehatkan.' kata ibu membuat mataku berkaca.
Ikhlas. Itulah kunci bagi saya untuk menjalani OJT jauh dari ibu, agar semua menjadi lebih mudah. Jangan marah, apalagi mengumpat, baik tuhan maupun PLN. Memang sudah menjadi resiko pegawai setrum. 
'Kalau ibu kangen, ibu bisa ke Banjarmasin. Kita punya keluarga disana.' tambah beliau. Memang betul, walau bukan berasal dari Banjarmasin, almarhum kakekku keturunan dayak dan keluarga oomku, ada yang tinggal di Banjarmasin. Walaupun masih tiga jam lagi dari pusat kota ke PLTU Asam-Asam, ya ndakpapalah namanya juga ibu menguatkan.
Lewat obrolan selama lebih dari satu jam tersebut, saya bisa menerima semuanya. Hanya dua bulan saja. Harapan tak boleh putus. Masih bisa penempatan di Palembang dan berkumpul secepatnya bersama keluarga. Yang penting, saya sehat, ibu sehat. Dan saya yakin ...
'Pedang seorang ksatria, tidak ditempa dengan mudah.' Ilham

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!