Senin, 15 Februari 2016

#CAPER: Karena Sayang Mengalahkan Takut sampai Muntah

Fajar hari minggu baru hadir membawa udara tanpa dosa. Kami masih enak betul nyaman berselimut karena tidak ada senam pagi-pagi pukul 5 yang membuat kami gerak peregangan sambil 'merem-melek'.

Tapi tentu saja tidak lama-lama kami enak diantara kehangatan dan kasur empuk. Karena pukul setengah enam, kami sudah harus bersiap menata diri jadi ganteng dan cantik. Soalnya sarapan pagi dipercepatan jadi pukul enam pas, mengingat persiapan kami persiar ke Atlantis Water Adventure dan Dunia Fantasi (Dufan). Anggap saja sebagai perpisahan menjelang penutupan program Pembidangan Prajabatan PT PLN (Persero) Angkatan 50 Udiklat Suralaya.

Pukul 07:30 pagi, kami telah siap berangkat dengan 4 bus besar. Tak lama-lama, semua kain penutup kaca ditutup, menghalangi sinar yang banyak mengandung vitamin D membuat mata kami silau. Singkat cerita memang sebetulnya kurang lebih tiga jam yang kami habiskan diperjalanan, digunakan untuk tidur. Maklumlah, hari minggu biasanya kami tidur lebih panjang di pagi hari.

Sampai di destinasi pertama, Atlantis, tak banyak yang bisa kami lakukan. Bagaimana mau main air lama-lama, kalau masuk ke Atlantis saja sudah pukul 10:45, tiga per empat jam kemudian, kami harus ke titik kumpul lagi untuk persiapan makan siang. Waktu sedikit sekali, paling cuma bisa ganti baju, cuci muka di kolam renang, terus bilas lagi. Jadinya, wisata jepret sana jepret sini yang paling favorit.
Dikarenakan komplek Dufan yang macetnya minta ampun saat Weekend, kami harus berjalan kaki dari Atlantis. Terbayang wahana-wahana seru dan perut yang sudah keroncongan, membuat langkah kami semua lebih bersemangat. Termasuk saya. Maklum, baru pertama kali ke sini. Karena selama tiga tahun kuliah di Jakarta, pengin ke Dufan, tapi tiket masuknya bukan milik anak kost.

Setelah mengisi perut dengan sepotong ayam goreng tepung milik Columbus Fried Chicken, kami langsung balik kanan bubar jalan menuju keseruan wahana, ada yang berkelompok, sendiri dan curi-curi berduakan karena terlibat cinlok 'terlarang'. Pasalnya memang SK025 milik PLN mengharuskan salah satu dari pasangan Resign, jika memilih untuk menikah. Memang biasanya, saat jalan-jalan begini, pasangan penganut cinta terlarang mencari-cari kesempatan, dalam 'teriakan' dan 'ketakutan' di wahana permainan ekstrim.

Kalau saya, ndak usah ditanya lagi. Setiap kesempatan jalan-jalan rombongan, saya memang lebih suka jalan sendirian. Kesannya lebih tenang saja di dalam beribu-ribu kebisingan. Paling kalau memang berpapasan dengan teman dan diajak gabung, barulah saya ikut. Apalagi kalau di wahana yang membuat ngeri, jika tiba-tiba saya tumbang, harus ada yang mengkondisikan. Maklum, kan baru pertama kali ini.

Pertama-tama saya berkeliling mencari wahana yang antriannya 'lumayan' sepi. Tetapi, selama setengah jam mencari, hasilnya nihil. Semua wahana sama saja antriannya. Jadilah saya harus rela menunggu untuk permainan Histeria yang katanya seram. Padahal... ya memang seram, tapi tak seberapa jika dibandingkan dua wahana lain yang saya coba.

Ternyata permainan di Dufan betul-betul membuat candu. Selesai naik Histeria, pengin langsung cepat-cepat ke wahana lain. Tapi sayangnya memang ndak bisa cepat.
Main kapal yang dijadikan seperti bandul sampai 90 derajat, membuat saya betul-betul pontang-panting. Duduk di kursi paling belakang dan paling pinggir, sangat menyeramkan. Di wahana bernama Kora-Kora ini saya mulai terlihat cemen dengan memeluk teman saya yang disebelah. Karena sesekali melihat kebawah saat saya dilempat ke atas, rasanya benar-benar ingin jatuh. Tapi syukurlah, masih belum tumbang.


Waktu telah menunjukkan kurang sejam dari pukul setengah 5, waktu bertemu di titik kumpul untuk mengakhiri pesiar kali ini. Saya telah di dalam antrian super panjang, untuk menunggu giliran bermain Halilintar. Wahana yang di dalam pikiran saya paling mengerikan. Padahal... memang betul.

Sehabis diputar-putar pada rel yang sudah kelihatan kusam dan berbarengan dengan hujan yang pas sekali turun, ketika aku telah menduduki gerbong kereta pertama. Menambah keadaan jadi lebih mencekam. Akhirnya, setelah komat-kamit, merem-melek dan mengharapkan ini cepat selesai, saya turun dengan sempoyongan dan muntah-muntah.

Kejadian muntah-muntah ini membuat saya terlambat 15 menit dari waktu berkumpul. Belum lagi harus cari-cari jalan karena dua teman yang menemani main Halilintar tadi izin ke toilet. Dan yang lebih memalukan lagi, ibu paruh baya yang turun dibelakang saya berkata, 'Wah kamu hamil ya. Masak anak muda kalah sama ibu-ibu.' Membuat makin mual saja.

Tapi syukurlah, Allah melindungi saya dari maut.

Terima kasih PLN, telah membuat saya nekat melangalahkan rasa takut. Karena memang sayang betul, jika anggaran yang dikeluarkan untuk jalan-jalan kami, saya sia-siakan begitu saja dengan alasan tak berani bermain.

Terima kasih juga, Dufan, terlah mengajari saya hal baru. Sebelumnya, aya adalah orang hanya rela menunggu hanya untuk satu hal. Yaitu untuk orang yang saya sayangi. Tapi setelah ke Dufan, saya pun tersadar, harus rela menunggu, untuk bermain di semua wahana.

'Saya hanya rela menunggu untuk dua hal. Pertama, orang yang saya sayangi. Kedua, ngantri di Dufan.' Ilham

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!