Jumat, 12 Februari 2016

#CAPER: 'Sumpah Serapah' Sang Guru

Saya coba untuk menarik mundur. Membiarkan memori memaksa jarum jam berputar terbalik. Saya akan mulai bercerita, kisah dibalik perkataan orang-orang tentang lulus tes menjadi calon pegawai setrum.

Tak asing lagi kalimat 'Enak ya, bisa kerja di PLN.', membuat pipi saya merah padam. Terlihat sekilas memang semenjak tamat SMP, Allah memberikan jalan yang lancar, hingga saya berada di ruang kelas 7201. Kelas berukuran kurang lebih 7x5 meter. Duduk di shaf paling depan, banjar keempat dari kanan saya. Kadang semangat, tak jarang pula terkantuk-kantuk menerima materi.

Saya memang sejak lama sudah naksir sama PLN. Waktu kecil, ketika bepergian kemana pun di Palembang saya selalu lewat daerah Seduduk Putih. Disana ada gardu induk milik PLN yang keren sekali menurut saya, jika suatu saat, ketika saya dewasa, bisa bekerja disana. Walau sekarang saya sebetulnya berada di bidang pembangkitan. Ndak apa-apa, yang penting PLN.

Sekilas, memang saya seperti orang yang beruntung. Padahal...

Kelulusan ini ialah kali keempat saya mencoba masuk menjadi pegawai setrum. Betul, tuhan tidak memberikan saya karunia 'satu kali tendang, gol'. Tetapi saya percaya Allah yang maha baik menjadikan hambanya lebih tanggug, tergantung pada perjuangan yang dikeluarkan.

Februari 2012 kalau tidak salah. Saya mati-matian dilarang oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sewaktu SMA, untuk berangkat ke Semarang. Mengikuti tes D3K PLN - Politeknik Negeri Semarang (POLINES). Tak kehabisan akal, saya lebih mati-matian lagi dari beliau, menemui guru bimbingan konseling bersama ibu saya, untuk berkonsultasi tentang kegundah-gulanahan saya.

Pasalnya, bulan depan memang sudah mulai ujian sekolah yang diikuti ujian nasional setelahnya. Alasan yang bijak betul memang, pak wakepsek melarang saya nekat.

Tapi sungguh, jawaban guru BK begitu menyenangkan. 'Berangkat.' begitu katanya, 'Rezeki kita, siapa yang tahu'. Kata Bu Neti melanjutkan. Di sisi lain, pak wakepsek tetap dengan muka masam di saat-saat saya mengajukan izin berangkat ke Semarang.
Pagi hari masih membawa koper, setelah menginap semalam di rumah kenalan, saya tekaget-kaget hanya 28/1003  peluang saya untuk lulus. Bukan gagalnya yang saya takut, tapi perjuangan khususnya materi yang ibu keluarkan untuk biaya tes, saya khawatir terbuang percuma.

Membawa optimis. Karena optimis adalah 50 persen keberhasilan, saya pulang ke Palembang, dengan harap-harap cemas karena betepatan dengan hari pengumulan hasil tes tulis.

Tengah malam, di tengah gelap bus Putra Remaja yang bergoyang-goyang di jalan tol Pulau Jawa, saya sempatkan Tahajud sambil duduk. Sedang masih terlihat jelas, kilatan mata ibu tenang padam menunggu hasil tes yang akan saya beritahu.

'Bu, maaf. Ilham belum lulus.'
Ibu pegang tangan saya dengan hangat, 'Ndakpapa. Sudah jadi pengalaman. Kamu selangkah di depan orang yang belum pernah mencoba tes.' Lalu saya menagis pelan-pelan.

Kabar kegagalan cepat tersebar di sekolah, sampai pula ke telinga Pak Riduan sang wakepsep.
'Apa saya bilang, ndak usah berangkat. Kamu ini kok nekat. Seperti mati hidup mau di PLN saja!' Kata beliau setengah guyon. Karena kami memang sudah dekat, saya tak sakit hati.

Itu kisah tentang kegagalan pertama.

Di kesempatan lain, rekrutmen calon pegawai setrum saya ikuti dari dua kategori. Pertama, untuk tamatan SMA, untuk tenaga operasi. Kedua, D3K PLN - Sekolah Tinggi Tinggi PLN (STT PLN). Pendek cerita, saya gagal tes sebagai tenaga operasi di tes kesehatan. Kendalanya ialah karena sata berkacamata. Sudah ada memang persyaratan khususnya, peserta yang terganggu kesehatan mata, sebetulnya tidak masuk spesifikasi pegawai tamatan SMA yang dibutuhkan. Sedangkan di D3K PLN - STT PLN, tes masih berlanjut.
Tak berjalan mulus, petaka saya temui dalam perjalanan tes D3K PLN - STT PLN. Saya melewatkan pengumuman panggilan tes Medical Check-Up, padahal tercantum nama saya pada daftar peserta yang lulus.

Setelah telpon sana-sini. Ke Prodia sebagai klinik yang dipercaya PLN dan ke humas PMB STT PLN, tak ada hasil. Tidak ada yang namanya tes susulan. Jadilah saya menangis  sendirian terseduh-seduh di dalam kamar, berselimut kegelapan dan kesesakan di dada. Sedangkan ibu, jelas sudah ngomel-ngomel. Beliau tak habis pikir, apa saja kerja saya sehingga pengumuman tes saja terlewatkan.  

Saya bisa gila karena tertekan, jika harus ikut tes D3K PLN - STT PLN di gelombang berikutnya. Karena belum tentu juga saya bisa lulus sampai tes kesehatan. Dalam kehampirgilaan tersebut, Allah yang maha baik memberikan jalan.

Suatu pagi ketika embun belum sempat kering dari dedaunan, saya mendapat telpon dari Prodia. Kata mbak-mbak yang diseberang sana, besok, kalau masih berminat, boleh datang ke Prodia untuk tes Medical Check-Up susulan. Bukan main senangnya saya.

Setelah mengikuti tes susulan, betul-betul saya buka setiap hari website sttpln.ac.id. Jangan sampai ada pengumuman apapun yang terlewat. Karena kalau lulus, artinya tinggal tes wawancara yang kata orang-orang, bisa dipastikan 90% lulus.

Sembari menunggu pengumuman yang lama sekali, D3K PLN - Politeknik Negeri Sriwijaya (POLSRI) buka pendaftaran calon mahasiswa kerjasama. Niat hati ingin kuliah yang dekat saja dengan kampung halaman Palembang, saya pun ikut tes lagi.
Udara begitu lembab, hujan belum mau berhenti, rumput semakin hijau dan aspal bertambah pekat. Saya buru-buru ke lokasi tes, sampai dengan keadaan basah dan terlambat. Kejadian yang mengawali kegagalan saya untuk kuliah di POLSRI. Ya sudah, tinggal menunggu saja, kalau-kalau rezekinya memang di Jakarta.

Tidak begitu saja, saya serta-merta menunggu pengumuman kelulusan D3K PLN - STT PLN. Lulus di Politeknik Negeri Jakarta jurusan Teknik Elektronika dan Politeknik Negeri Sriwijaya Teknik Listrik, saya korbankan tidak melakukan registrasi ulang. Karena sayang duitnya. Kalau ternyata saya lulus di STT PLN, uang registrasi ulang tak bisa lagi diambil. Padahal resikonya kalau tidak lulus di STT PLN dan tidak registrasi ulang di dua politeknik bergengsi tersebut, saya dipastikan menganggur. Atau paling tidak, dilarikan ke perguruan tinggi 'esek-esek'. Ya ndak apa-apa. Toh dalam pilihan hidup, kadang kita memang harus berani ambil resiko.

Akhirnya, berbekal istikharah dan berbaik sangka kepada tuhan yang maha bijaksana, tanggal 4 November 2012, nama saya tercantum dalam kolom peserta yang lulus di D3 Teknik Mesin STT PLN kelas Kerjasama dengan PT PLN (Persero).

Saya senang tak main-main. Percobaan dan pengorbanan saya mengikuti tes untuk menjadi pegawai setrum dibayar manis oleh Allah.

Hingga saat ini, ketika kurang 4 hari saja dari pembidangan diklat prajabatan, yang akan berlanjut ke On Job Training (OJT). Saya sadar bahwa sumpah serapah Pak Riduan merupakan doa dalam bentuk yang lain dari seorang guru.
Terima kasih, pak, sudah menyumpahi saya waktu itu. Semoga bapak sehat selalu.

"Jangan takut. Habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda."
-Dahlan Iskan
  
Sumber gambar terkait:
http://hoteldekatkampus.com/wp-content/uploads/2014/09/15qp8hj.jpg
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcToq3C65jKJgeXC0wCEQ6f8hKiyKYxgMQllZUwcEnFFMwzePhOE3g
http://www.bingkaiberita.com/wp-content/uploads/2013/05/sttpln.jpg

4 komentar:

  1. Sukses ya broo buat kerjaanya nanti. Ceritannya hampir mirip sama aku, tapi aku dulu minat banget sama masuk STAN tapi akhirnya nggk lolos dan mengikhlaskan diri buat kuliah di jurusan teknik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih.
      Tenang aja. Setiap belahan dunia manapun, pasti butuh teknisi. Mudahan benar rezekinya di teknik.

      Hapus
  2. Wah perjuangannya berat ya, akhirnya bisa lulus
    Pasti gurumu bangga tu mas :-)

    Sukses yo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih.
      Sayangnya sy belum pernah bertemu beliau lagi sampe skrg.

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!