Jumat, 04 Maret 2016

#CAPER: Primadona Tak Seburuk yang Dikira

Awalnya saya sempat bingung, apa perbedaan antara Banjarmasin dan Banjarbaru. Apa hubungan antara Banjarmasin dan Banjarbaru? Banjarmasin kah yang ada di Banjarbaru atau sebaliknya? Karena yang lebih familiar terdengar adalah Banjarmasin, ibukota dari provinsi Kalimantan Selatan. Tapi belakangan saya tau, ternyata di Kalimantan Selatan ada dua kota, yaitu Banjarmasin sebagai ibukota dan Banjarbaru sebagai tetangganya. Walaupun konon, ibukota Kalimantan Selatan akan dipindahkan ke Banjarbaru. 

 
Saya akan berada di 'isolated area' ini selama dua bulan untuk mengikuti program OJT. Pada #CAPER edisi sebelumnya, saya menerangkan bahwa lingkungan PLTU Asam-Asam ini betul-betul mengerikan, jauh dari peradaban dan serba susah pokoknya. Padahal ternyata, tidak sepenuhnya begitu. Saat pertama kali sampai di mess A PLTU, saya tercengang. Ternyata berlebihan sekali ketika saya mengumpat karena ditempatkan OJT di tanah Borneo ini. Walaupun memang betul mungkin tidak seenak di tempat OJT lainnya. Tetapi saya mulai kerasan. Karena tuhan pasti memberikan kemudahan dalam setiap kesulitan.

Keluar dari kota Banjarbaru, memang betul satu per satu provider mulai tumbang sinyalnya apalagi untuk internetan yang selazimnya telah menjadi kebutuhan pokok masa kini. Saya terpaksa mengganti provier. Meski mahal ya ndakpapalah yang penting sinyalnya stabil dan saya bisa berinternetan dengan ria.

Sampai di mess sebetulnya banyak titik terang. Sepertinya tidak sulit mencari makan disini. Banyak sekali warung kaki lima. Walaupun memang di jalan raya minim penerangan. Ada lampu jalan sebetulnya, tetapi pajangan saja.

Makan memang mudah, tetapi ketersediaan air sangat sulit. Dari PDAM air hanya menyala dari pukul enam pagi sampai pukul enam sore. Waktu yang cukup sebetulnya untuk memenuhi bak di kamar mandi, kalau penghuninya sedikit. Kalau yang tinggal dalam satu rumah ada tujuh belas, berbeda lagi kan ceritanya. Apalagi kondisi fisik air yang kurang bagus. Di permukaan, air banyak terdapat buih. Sepertinya air disini mengandung kapur yang sangat tinggi. Sehingga kalau mau sedikit jernih, harus diendapkan terlebih dahulu, agak kapurnya turun ke bawah.

Walaupun di tengah hutan nan hijau, ternyata udara di kabupaten Tanah Laut dan sedingin yang saya kira. Tanpa kipas angin, saya terpaksa susah tidur. Apalagi kalau terjadi pemadaman bergilir, selain gelap gulita, kipas angin pun tak bisa menyala. Maklum, Kalimantan tak semewah pulau Jawa. Listrik disini masih defisit. Ditambah unit 2 PLTU Asam-Asam berkapasitas 65 MW, sebagai primadona pembangkit yang mensuplai listrik terbesar di wilayah KalSelTeng sedang di Overhaul. Mati listrik tinggal menunggu giliran saja per dua hari sekali.

Di PLTU Asam-Asam, unit 1 dan 2 adalah buatan Jepang lalu unit 3 dan 4 adalah buatan China. Kebetulan saya mendapat tugas mengkaji dan membuat upaya peningkatan keandalan reability unit tersebut. Dimana kondisi unit yang baru operasi selama tiga tahun, tetapi sudah banyak sekali masalahnya. Begitulah memang tantangan di PLTU apalagi pabrikan China. Tetapi, guru-guru saya selalu berpesan, 'Beruntunglah kalian yang bekerja di pembangkit buatan China. Banyak masalah memang. Tetapi ilmu kalian juga akan semakin bertambah dengan modifikasi dan inovasi. Tentu berbeda dengan orang yang bekerja di unit yang aman-aman saja.'

Kesukaran berikutnya ialah, satu-satunya hiburan yang dapat kami nikmati di sini ialah olahraga. Sudah, itu saja. Ndak ada yang namanya bioskop, tempat karoke apalagi mall. Kami harus menempuh perjalanan tiga jam terlebih dahulu ke Banjarbaru kalau ingin menikmati kemewahan tersebut. Sayangnya, kami tidak diizinkan. Atau ya mungkin belum diizinkan hangout di pekan-pekan pertama. Alasannya sederhana, 'Kalian masih OJT dan kalian dibawah tanggung jawa kami (Udiklat Banjarbaru dan Sektor Asam-Asam). Karena kami tidak mau terjadi apa-apa.'

Dari permasalahan-permasalahan yang nampaknya begitu pelik saya rasa diawal, tuhan memang adil sekali. Banyak juga kemudahan yang saya temui disini.

Kalau di tempat OJT lain, teman-teman harus bayar uang kontrakan yang tinggi, ongkos pulang pergi atau harus rela berjalan kaki, kami di Asam-Asam tak perlu memikirkan hal itu. Rumah gratis dengan perabotal dapur yang lumayanlah untuk sekedar buat susu dan mie instan dan perjalanan ke unit setiap hari, kami diangkut menggunakan bus operational. kebetulan juga, unit 2 PLTU Asam-Asam sedang melaukan ovehaul sehingga kami dapat jatah makan paling tidak untuk 2 minggu. Lumayanlah bisa berhemat.

Saya juga patut berbangga. Karena orang-orang hebat PLN, banyak lahir dari sektor Asam-Asam. Walaupun cuma OJT dua bulan, mudahan saya bisa menyusul.

Syukurlah dengan semua keterbatasan yang ada, saya mulai kerasan. Lingkungan disini sepertinya lumayan bersahabat. Semoga dua bulan kedepan akan menjadi hari-hari yang menyenangkan bagi saya dan teman-teman. Tetap jaga kesehatan, semangat dan kerjakan dengan baik dan cepat kewajiban sebagai siswa OJT.

Apa saja kewajiban sebagai siswa OJT? Di #CAPER edisi berikutnya saya akan ceritakan.
'Tuhan menaruhmu di tempat yang sekarang, bukan karena kebetulan. Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata.' (Dahlan Iskan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!