Senin, 09 Mei 2016

#CAPER: Harapan Lama dengan Energi Baru

Saat ini di Indonesia, pemanfaatan energi masih sangat bergantung pada penggunaan energi fosil, terutama sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Tak bisa dihindari memang, keberadaan energi fosil untuk saat ini dalam pemanfaatannya untuk sektor ketenagalistrikan, dapat menghasilkan setrum dalam jumlah yang besar, mudah ditemukan, stabil dan sekarang ketersediaannya masih banyak.

Tetapi efek lain seperti pencemaran lingkungan berupa pencemaran gas Karbon Monoksida, Karbon Dioksida, Sulfur dan lain sebagainya, tak bisa dikesampingkan begitu saja. Seperti halnya gas buang kurang ramah lingkungan yang dikeluarkan oleh PLTU sebagai pusat listrik yang masih memonopoli industri ketenagalistrikan di Indonesia.

Efek jangka panjang lain yang tak boleh diabaikan ialah ketersediannya energi itu sendiri untuk puluhan tahun ke depan, sebagai energi yang diharapkan masih bisa dirasakan manfaatnya oleh para generasi penerus. Hal ini disebabkan karena energi fosil yang berasal dari bangkai tumbuhan dan binatang pada era 'purbakala', tak terbarukan.

Sebagai upaya dari menghindari efek negatif tersebut, lembaga-lembaga yang bergerak di bidang EBT (energi baru terbarukan), siswa/i dan mahasiswa/i di Indonesia terus melakukan langkah-langkah inovasi, untuk terus mengeksplor potensi EBT yang bisa dimanfaatkan dalam jumlah besar.

PT PLN (Persero) sebagai BUMN bos listrik di Indonesia, tentunya terus berupaya untuk memaksimalkan pemanfaatan EBT untuk dijadikan listrik. Terutama potensi yang terdapat di pedesaan yang sulit terjamah pembangkit listrik besar.
Guna meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia bagian timur, PT PLN (Persero) begitu concern mengembangkan potensi matahari sebagai energi untuk dijadikan listrik. Menggangeng perusahaan Inggris, PLN berkomitmen membangun PLTS dengan total kapastias 150 MWp untuk menerangi wilayah Indonesia timur. Jika terealisasikan, maka akan menjadi ladang solar cell terbesar di daerah tersebut.
 
Di pulau Sumba, Nusa Tenggara Barat, PLN berkomitmen menggunakan 100% EBT sebagai energi primer pembangkit listrik di kepulauan yang dijadikan sebagai percontohan penggunaan EBT, mengingat besarnya potensi energi ramah lingkungan yang berada di wilayah tersebut. Sejauh ini PLTMH Lokomboro, menjadi pusat listrik bertenaga mikro hidro terbesar di wilayah tersebut dengan menghasilkan 2700 kW listrik. Selain ramah lingkungan, pihak PLN wilayah terkait mengklaim dapat menekan penggunaan solar sehingga penghematan oleh perusahaan mencapai 10 milyar rupiah.
 

Bergeser ke Indonesia bagian tengah, bos setrum wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah, turut berperan dalam mendukung penggunaan EBT dengan melakukan kerjasama dengan perusahaan setempat, terkait penggunaan PLTBg (biogas) PLTBm (biomassa) untuk menerangi sebagaian wilayah kerja mereka. Diharapkan pembangkit listrik berbahan bakar gas dari limbah kelapa sawit untuk PLTBg dan berenergi primer kayu dari tanman di sekitar PLTBm, setelah diproses sedemikian rupa yang berkapasitas mencapai 10 MW ini, mampu menerangi wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah yang terkenal masih byarpet.

Sampai sekarang, sampah masih menjadi permasalahan pelik di berbagai daerah, khususnya kota-kota besar. Namun di Surabaya, PT PLN (Persero) distribusi Jawa Timur, mengklaim di daerah sekitaran TPA Benowo, sudah ada 1000 rumah yang diterangi oleh pembangkit listrik berbahan bakar sampah dengan kapasitas 1 MW. Bekerja sama dengan pemkot Surabata dan PT Sumber Organik, pemanfaatan sampah sebagai energi untuk menghasilkan listrik akan terus dikembangkan. Sehingga pengembangan program tersebut akan dilakukan agar listrik yang dihasilkan mencapai 8,3 MW sebagai target dari pengembangan tersebut.

Sebagian EBT, memang memerlukan BPP (biaya pokok produksi) listrik yang masih di atas penggunaan energi fosil seperti batubara atau gas. Namun, penggunaan EBT harus tetap digalakkan secara serius. Sehingga selain energi fosil tetap terjaga ketersediannya, energi tak pernah habis diharapkan menjadi warisan pada generasi penerus untuk menjaga bumi Indonesia tetap aman untuk ditinggali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!