Senin, 20 Juni 2016

#CAPER: Lupa Tapi Tak Melupakan

Sebagaimana #CAPER edisi sebelumnya terkait Sistem Ketenagalistrikan, betul, di bidang itulah yang bekerja sekarang. Boleh heran, boleh juga bingung. Sudah ditempatkan di Unit Induk Pembangunan, didudukkan lagi di divisi K2/K3. Apa hubungannya dengan teknik mesin? Tetapi mungkin begitulah cara tuhan sayang sama saya. Ketika teman-teman lain bekerja di tempat bising, berdebu, putus-menutus rekening listrik pelanggan, atau seharian harus dijilat matahari. Tidak dengan saya. Dibelakang meja, ruangan ber-AC, di tengah kota, jalan-jalan ke berbagai proyek, tinggal ngoceh, memainkan jemari diatas keyboard, minta goresan tangan pejabat dan pekerjaan beres. Datang pukul 07:30 dan absen lagi di 16:30 hari kerja normal.

Tetapi ada hampa dalam hati saya, ketika dalam beberapa waktu ini tak bisa berteman baik dengan kawan lama saya, mesin-mesin bising, panas, tinggi dan tak jarang mengeluarkan asap coklat dengan kondisi yang capek fisik. Tapi itulah Passion dalam bekerja.

Saya betul-betul yakin tuhan sayang sama saya. Dibalik kelonggaran yang ada dalam pekerjaan, tak ada Passion yang saya temui dari tumpukan kontrak, laporan, surat-menyurat dan berkas-berkas inspeksi yang ada di depan saya. Hanya saja ketika suatu saat saya berbicara, mensosialisasikan tentang keselamatan ketenagalistrikan barulah saya cukup senang. Karena saat itulah saya merasa sibuk.

Saya pun tak habis pikit ketika atasan mengatakan, 'Lupakan teknik mesin kamu, sekarang belajar K2/K3'. Bagaimana bisa? Lebih dari tiga tahun yang saya bangun untuk menjadi seorang ahli pembangkit listrik harus dilupakan begitu saya?

Mengeluh memang tak ada habisnya. Tapi ketika saya bertanya kepada Allah Azza wa Jalla, 'Kenapa ilmu yang saya pelajari lebih dari tiga tahun tak bisa saya terapkan?' ketika saya katakan kepada ibu, 'Saya seperti dianggap remeh orang-orang!' Saya tak sadar, banyak orang yang ingin duduk di kusri saya yang sekarang. Bekerja non-shift tanpa jadwal piket, sudah bisa libur di cuti bersama lebaran padahal pegawai baru, mudah untuk ketemu keluarga, bekerja di tengah kota yang serba ada, sppd yang bisa berjuta-juta, mobilitas tinggi, berlajar hal-hal baru, termasuk juga kemurahan hati atasan yang bilang, 'Kamu harus sekolah S1 lagi. Masalah pekerjaan fleksibel, kita bisa bagi dua.' Dan kalau pun perasaan hati saya dianggap remeh orang-orang, bukankah harusnya membuktikan bahwa saya tak pantas diangap remeh. Atau mungkin itu malah perasaan saya saja. Toh Pak DM dan Spv sejauh ini betul-betul membimbing saya. Keluhan demi keluhan betul-betul membutakan saya, tentang nikmat-nikmat bekerja di UIP yang secara sadar juga tidak sadar saya rasakan.

Wahai Allah, saya salah telah berkeluh kesah. Terima kasih engkau berikan kepada saya ibu bak seorang malaikat yang kata-katanya begitu menenangkan. Terima kasih engkau telah datangkan Ustad di masjid Al-Hidayah Ketintang Baru di sela-sela Isya' dan Tarawih yang menampar saya dari ketidakbersyukuran. Terima kasih telah mepertontonkan saya sebuah kajian tentang gelas yang tak penuh diisi air. Pandanglah ia dengan persepsi setengah, bukan setengah kosong. Maka dengan begitu, kau akan berlajar bersyukur. Wahai Allah, jangan engkau hukum saya, kepada tempat yang saya inginkan, tetapi tak baik menurutmu dan jauh lagi dari keluarga saya.
---
Tentang teknik mesin, mungkin saya akan lupa tapi jangan paksa saya untuk melupakan. Karena saya belum bergelar sarjana atau magister bahkan doktor.
"Boleh jadi sesuatu itu tak baik bagimu, kecuali di dalamnya terdapat hikmah."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!