Senin, 29 Agustus 2016

#CAPER: Pohon Berbuah Takdir

Kali ini saya akan mengutip sebuah analogi dari seorang guru, yang akhir-akhir ini menempel betul di kepala saya. Pada satu kesempatan, beliau mengatakan bahwasannya, rezeki diibaratkan seperti buah pada sebatang pohon. Tetapi saya lebih tertarik membaginya kepada teman-teman jika kata 'rezeki', diganti menjadi 'takdir'. Betul, takdir seperti buah pada sebatang pohon.

Saya yakin banyak sekali diantara kita mendengar orang-orang yang masih rajin menularkan pesimisme dengan kalimat, 'Sudahlah, memang takdir saya begini. Semua sudah ada bagiannya'. Kalimat ini betul, jika diucapkan setelah berusaha. Tetapi salah besar, ketika dikatakan bahkan saat kita belum memulai sesuatu.

Perhatikanlah buah yang dihasilkan oleh sebatang pohon. Ada buah yang berjatuhan di tanah dan tak sedikit buah yang bergelantungan di ranting-ranting kecil.

Jika dianalogikan sebagai takdir, buah yang berada di tanah ialah takdir mutlak, sedang yang masih segar di ranting pohon, merupakan takdir ikhtiar.

Mari kita pahami lebih lanjut.

Terlahir dari orang tua siapa, hidup dan kapan kita mati, merupakan takdir mutlak yang tak bisa kita dapatkan 'by request'. Meski berusaha sedemikian rupa, tak akan bisa dihindari. Inilah yang boleh disebut dengan 'Sudahlah, memang takdir saya begini. Semua sudah ada bagiannya.'.

Tetapi kawan-kawanku, akan hal-hal yang masih bisa kita perjuangkan terkait pencapaian hidup kita di dunia. Prestasi, kedudukan, karir dan semacamnya, bukanlah takdir yang mutlak yang bisa dipasrahkan begitu saja. Betul memang Allah Azza wa jalla yang telah menciptakan potensi pintar atau bodoh, kaya atau miskin dan sukses atau gagal. Tetapi semua ini ditentukan berdasarkan pilihan sendiri, tentang kemauan untuk berusaha atau tidak.

Maka kawan-kawanku, berhentilah hanya pasrah memungut buah di tanah yang begitu saja adanya. Matang kah? Busuk kah? Atau separuhnya telah dimakan kalong. Berusahalah untuk mau memanjat, agar mendapat buah yang jelas-jelas segar.

Tetapi naiklah dengan cara yang baik, seperti menggunakan tangga. Bukan dengan pundak orang lain, menginjak kemudian menjatuhkannya.

Mulai sekarang, tanamlah pohon kehidupan kita sendiri. Rawat dengan baik dan petiklah takdir dari hasil usaha kita yang terbaik.

Sumber gambar terkait:
https://ayunp.files.wordpress.com/2013/01/lone_tree_1600.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!