Sabtu, 04 Februari 2017

Jika Engkau Masih Saudaraku

Bismillah.

Geram! Ya, betul-betul geram. Sehingga jemari saya tak tahan ingin menulis, tentang fenomena 'dukung-mendukung' yang begitu panas akhir-akhir ini.

Dan inilah puncaknya, ketika ulama, yaitu pewaris ajaran Nabi -Shalallahu 'alaihi wa salam- mulai dibuat bahan 'haha hihi'.

Saya Tholabul Ilmi yang berpemahaman agama masih rendah bahkan jika dibandingkan,  jangankan ketua MUI atau tokoh-tokoh agama lainnya, dengan pedagang kaki lima yang setiap hari terpapar ilmu di sekitaran gedung MUI saja, mungkin saya jauh tertinggal.

Saya bukan anggota FPI. Pun ada hal-hal yang tak sepaham oleh saya dengan yang dilakukan saudara-saudaraku di FPI karena kema'suman telah terputus semenjak Nabi -Shalallahu 'alaihi wa salam- wafat. Dan itu tidak lantas membuat saya mengabaikan rasa hormat kepada Habib Rizieq -Hafidzahullah-. Karena saya paham betul, betapa banyak orang yang mendapat hidayah islam dan cahaya ilmu melalui dakwah beliau.

Sedangkan saya? Hari-hari masih sibuk memikirkan perut sendiri. Boro-boro mendakwahi orang untuk banyak berdzikir dan bershalawat.

Jadi mari kita berpikir menggunakan hati nurani.

ILC dengan Tema 'Membidik Rizieq', dibatalkan.
ILK yang isinya 'Nyeramahin' Ulama tetap tayang.

Ada sih mungkin orang yang bilang, 'Alah ILK kan cuma buat lucu-lucuan'. Lalu, pertanyaan saya serendah itukah ulama (atau jika kalian tidak menganggapnya ulama, saya bilang sesepuh seiman) di mata kalian. Sehingga dijadikan guyonan kalian untuk makan nasi?

Saudaraku (jika kalian masih saudaraku seiman) seburuk-buruknya Habib Rizieq -Hafidzahullah- di mata kita? Sebegitu besarkah kesalahan yg beliau perbuat sehingga penghinaan oleh si 'tersangka' tersembunyi dari kelopak mata kita?

Sudah lebih tinggi kah ilmu agama kita sehingga ulama dijadikan bahan candaan?

Jika tujuannya mengejar rating, begitu besarkan rupiah yg kita kantongi sehingga membuat kita makan dengan lahap tanpa rasa bersalah?

Sudah ada jaminan kah kita terbebas dari siksa Jahanam sehingga agama dan ulama diolok-olok?

Mari merenung saudaraku ...

Baiklah jika Habib Rizieq memang tak mendapar tempat di hati. Tapi ini tentang KH Ma'ruf Amin.

Ketua MUI dan Rais Aam PBNU.

Baik, siapa yang tidak tahu dengan MUI dan PBNU? Mulai dari kalangan ulama yang hafal Quran dan ribuan hadits, sampai 'muslim KTP' yang cuma dengar MUI saat sidang isbat menentuan 1 Syawal dan hanya tahu NU sering berbeda tanggal lebaran dengan Muhammadiyah, pasti tahu.

Lalu ada orang yang dengan 'pede' 'tak sopan', padahal dia sedang di persidangan. La haula wa la quwata ilabillah.

Masih betul jelaskah di mata kalian, saudaraku?

Kalau ulama dicela kemudian jamaah marah, wajar. Karena kami para jamaah, termasuk saya tak serendah hati ulama yang dengan ikhlas telah memaafkan.

Yang bermasalah adalah, jika ada yang masih membela si 'tersangka'.

Baik, saya tidak akan mengulang tentang betapa rendahnya kita jika dibandingkan dengan para ulama.

Lalu mana yang harus lebih kita percaya? Perkataan ulama, ataukah tokoh-tokoh yang tidak jelas latar belakang ilmu syar'i-nya ketika mereka berkata soal agama? Atau malah pelawak yang membuat kita tertawa sampai-sampai lupa akhirat?

Begini saja, hai saudaraku. Jika memang ulama tak mendapat ruang di hati, pujilah saja tokoh yang kau idolakan. Bagikanlah tentang kebaikan-kebaikannya. Itu lebih baik saya katakan.

Jikalau ulama kita ada salah, ingatkan jika memang kita punya kapasitas untuk itu. Bila tidak, janganlah dihina dan diperolok.

Saya teringat dengan kisah Ibnu Sirin -Rahimahullah- ketika mengingatkan seseorang yang sedang mencaci Hajjaj Bin Yusuf -seorang penguasa (muslim) tetapi zalim pada saat itu- dengan perkataan, 'Hentikan, wahai saudaraku. Sesungguhnya Hajjaj sedang berjalan menuju tuhannya sebagaimana engkau. Sungguh di hari kiamat kelak, dosamu yang paling kecil, akan lebih engkau khawatirkan daripada dosa terbesarnya Hajjaj. Karena pada hari itu, orang telah sibuk dengan urusannya masing-masing'.

Jangan lagi nanti dipelintir, bahwa beliau-beliau di atas yang begitu saya hormati keberadaannya saya samakan dengan Hajjaj Bin Yusuf.

Mari kita ambil pelajaran bahwa, seorang yang dzalim pun tak boleh dicelah. Lebih-lebih seorang ulama.

Boleh berpendapat, mari hindari hina menghina.

Sekali lagi, ini adalah jika kalian memang masih saudaraku seiman. Karena mungkin kita terlalu sibuk dengan mencari 'pembenaran' dari Asbabun Nuzul QS. Al-Maidah:51, sampai lupa Umar Bin Khatab -Radhiallahu anhu- pernah mengusir seorang juru tulis untuk membacakan surat di masjid karena juru tulis tersebut seorang kafir, lalu beliau -Radhiallahu anhu- membaca ayat yang mulia tersebut, atau lebih-lebih lagi kita tidak pernah membaca QS. An-Nisa: 138-140.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!