Minggu, 26 Maret 2017

Manusia Hidup dengan Bagiannya Masing-Masing

Maraknya kasus criminal terhadap pengendara ojek atau taksi online, akhir-akhir ini betul-betul meresakan. Tak hanya dirasakan oleh pada driver, kekhawatiran tentang keselamatan di jalan juga dirasakan oleh langganan tranporasi online. Seperti saya, misalnya.

Tentu kita ketahui bersama, bahwa perkara ini dilatarbelakangi oleh sebagaian oknum angkutan umum konvensional yang tidak terima 'rezeki' mereka diambil.

Benar kah tidak, bahwa rezeki mereka diambil orang lain?

Menyusul pernyataan di atas, tak sedikti dari netizen mengecam tindak kriminal oleh oknum supir angkutan konvensional dan memberikan simpati kepada para driver transporatsi online dengan kata-kata, 'Kenapa sih mesti pakai kekerasan? Mereka lupa kalau rezeki sudah ada yang mengatur?'

Benar kah tidah, bahwa rezeki sudah diatur?

Mari kita sama-sama menyoal permasalahan ini.

Baik kita mulai dari Hadits Riwayat Muslim No. 2653

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Dan ulama mengatakan, rezeki sebagaimana lahir, mati dan jodoh, merupakan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa jalla. Ialah ketetapan yang tidak dapat diganggu gugat. Maka dapat disimpulkan bahwa, betul, rezeki sudah ada yang mengatur. Bahkan telah ditetapkan 50.000 tahun, sebelum langit dan bumi berdiri kokoh seperti sekarang.

Timbul pertanyaan lagi. 'Kalau begitu, untuk apa bekerja? Toh rezeki sudah ditentukan.'

Sekilas, pernyataan tersebut di atas benar. Seseorang tidak akan mendapatkan lebih dari apa yang telah ditentukan, meski pun sudah banting tulang setengah mati. Tetapi, bukan berarti hanya duduk manis saja, lalu ada duit jatuh dari langit. Mari kita simak;

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu."(QS. Az-Zariyat: 22)

Lalu,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah:29)

Menyimak dua ayat yang mulia di atas, dapat kita ketahui bahwa rezeki asalnya berada di langit. Kemudian dengan hikmahnya, Allah Azza wa jalla menurunkannya ke bumi. Ke tempat dimana manusia hidup. Agar semua yang ada di bumi, mulai dari hewan, tumbuhan, buah-buahan, minyak, pertambangan logam dan lain-lain, semua dijadikan sebagai rezeki bagi hambanya. Kecuali yang diharamkan, sebagaimana firmanNya;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah:168)

Sejauh ini kita sudah paham konsep dasar rezeki. Berasal dari langit, di turunkan ke bumi dan boleh ambil apa saja, kecuali yang diharamkan.

Permasalahannya adalah bumi ini luas, teman-teman sekalian. Indonesia saja, luasnya hampir 2 juta km dengan tak kurang dari 13.000 pulau. Allah sebutkan bahwa rezeki diturunkan ke bumi, bukan diturunkan ke bawah telapak kaki kita. Bisa saja, ada orang Jawa yang rezekinya di Sumatera, atau sebaliknya. Atau bahkan orang Indonesia, rezekinya di luar negeri.

Sama halnya dengan tukang ojek atau supir angkot. Mereka mulai dari rumah atau terminal-terminal, tetapi mungkin, rezeki mereka ada di pasar, di pinggir jalan, di sekolah-sekolah dan lain sebagainya. Nah jarak antara tempat kita berdiri ke tempat rezeki diturunkan inilah yang perlu ikhtiar. Usaha, agar bias kita dapatkan. Maka jika ada yang mengatakan, 'Santai saja, rezeki gak kemana'. Ya betul, rezeki gak kemana, tapi kita yang harus ke sana.

Dalam ikhtiar kita boleh lakukan apa saja, selama tidak melawan koridor-koridor agama.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah." (QS. Al-Baqarah:172)

Allah Azza wa jalla perintahkan kita mengambil rezeki yang baik-baik. Dan rezeki yang baik, ialah rezeki yang didapatkan dari cara yang baik. Bukan dengan jalan yang haram seperti, syirik, mencuri, menipu atau menyakiti orang lain, dengan harapkan rezeki orang tersebut berpindah ke kita. Sebagaimana di awal sudah saya sebutkan, marak sekali terjadi kriminalisasi terhadap driver transportasi online, dengan motif menyakiti karena merasa rezekinya di ambil.

Wahai saudaraku, saya bukan ustadz atau alim ulama yang pandai berkhutbah di mimbar-mimbar masjid. Tulisan ini pun adalah apa yang saya simpulkan dari ada kajian-kajian tentang rezeki yang banyak beredar baik di taman-taman surga, maupun media online.

Izinkanlah saya mengingatkan kepada sesama bahwa, carilah rezeki, berusahalah apa yang kau mau, asal tak melanggar koridor syar'i. Ketika waktunya ibadah, tinggalkan ikhtiar rezekimu. Karena sungguh, engkau tinggalkan ibadahmu pun, rezekimu tetap segitu saja. Siapa yang bisa menjamin seorang pegawai berkerja dari pukul 07:30 s.d 16.00 yang meninggalkan sholat Dzuhur dan Ashar berjamaahnya dimasjid, akan lebih banyak rezekinya dari pegawai yang meninggalkan pekerjaannya karena sholat berjamaah di masjid?

Apakah dengan kau menyakiti saudaramu sesama pencari nafkah, rezekimu akan bertambah? Tidak saudaraku. Rezekimu milikmu dan rezekinya miliknya.

Ada satu kalimat sederhana yang ketika saya mengingatnya, perasaan akan menjadi lebih tenang. Jauh dari perasaan Su'udzon kepada Allah Azza wa jalla, dengki atau bahkan sampai menyakiti orang lain. Ingatlah,

"Manusia hidup dengan bagiannya masing-masing"

Sehingga engkau akan tau, kapan kau harus berhenti ikhtiar, jika kau akan terjerumus dalam keburukan.

Saya pun sadar, menasihati adalah perkara yang mudah. Karena saya tidak berada di posisi orang-orang yang menjari rezeki dengan jalan 'kejar setoran'. Tapi inilah tugas sesama;

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. " (QS. Al-Ashr: 3)

Dan kalimat yang dibenci oleh Allah Azza wa jalla adalah;

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.

”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.”
(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598).


*nb: Artikel berkaitan dengan takdir lainnya pernah saya tulis di sini.

Sumber gambar terkait:
http://khazanahahlulbait.com/wp-content/uploads/2016/12/rezeki.jpg?w=640

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!