Sabtu, 18 November 2017

Mutiara Tetap Mutiara

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدَ ِللهِ, اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

Jagat Ghibah (acara gossip) tanah air belakangan dihebohkan dengan kabar dari seorang selebriti yang memutuskan untuk menanggalkan jilbab yang ia kenakan. Well, saya tidak akan membahas lebih lanjut akan masalah ini. Terlepas dari satu atau dua nama, kita mendoakan Allah Azza wa jalla mengembalikan hidayah ke hati-hati para saudari kita agar beristiqomah dalam menutup aurat mereka.

Tulisan ini berkenaan dengan kemuliaan seorang wanita. Bagaimana islam, agama yang penuh hikmah ini, menempatkan wanita pada posisi yang amat tinggi kedudukannya. Mari kita simak hadits mulia di bawah ini:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ،
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” [1]


Sebagian dari kita mungkin memandang bahwa perhiasan dunia berkonotasi kurang baik. Tapi sadarilah, apakah ada perhiasan yang diletakkan dengan semberono di pinggir-pinggir jalan? Apakah ada perhiasan yang dijual dengan harga yang murah? Ya, kalau itu imitasi. Tetapi kalian tidaklah imitasi, saudarimu. Bahkan derajatmu tiga kali lebih tinggi daripada kaum lelaki. Dalam hadits yang telah Masyhur di telinga kita:


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” [2]

Tidaklah kau tersanjung, saudariku?
Kalian laksana mutiara. Bagaimana itu mutiara? Mereka tertutup dan jauh di dasar laut. Bukannya tak eksis. Tapi karena ada harga yang mahal dari sesuatu yang bernilai.

Lalu apa balasan dari wanita yang memposisikan dirinya pada kedudukan yang seharusnya? Jawabannya kemuliaan di sisi Allah Azza wa jalla.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…” [Al-Hujuraat/49: 13].

Ingatlah! Wanita yang baik untuk lelaki yang baik pula. Maka jadilah sebab-sebab keberuntungan baik kaum lekaki, wahai saudariku.

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung." [3]

Tampak atau tidaknya engkau karena sebab kemuliaan, demi Allah tidak sedikit pun mengurangi kedudukanmu. Mutiara tetaplah mutiara, walau tersimpan di dasar laut. Biarlah penyelam yang handal untuk menemukanmu dengan cara yang baik.

Di awal musim hujan,
Surabaya, 18/11/2017 | 03:42
Ilham.



Note:
[1] HR. Muslim
[2] HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548
[3] HR. HR. Al-Bukhari (no. 5090) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1466) kitab ar-Radhaa’, Abu Dawud (no. 2046) kitab an-Nikaah, an-Nasa-i (no. 3230) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1858) kitab an-Nikaah, dan Ahmad (no. 9237)]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!