Selasa, 28 November 2017

Pemilik Mahar Paling Agung

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدَ ِللهِ, اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

Bahtera rumah tangga yang penuh dengan kasih sayang ialah sesuatu yang diidam-idamkan oleh setiap manusia. Penyatuan sepasang keturunan Adam 'alaihi salam, lewat akad mulia yang penuh cinta. Siapa yang tak menginginkannya?

Bahkan Al-Wadud telah menjadikan ritual agung ini sebagai sebuah ibadah, yaitu ketaatan yang mengalir di setiap detiknya pahala.

"Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari sejenismu agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan saying. Sungguh pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. At-Rum[30]:21)

Dan di antara salah satu cerita cinta terindah dalam bentangan peradaban dunia ialah kisah menikahnya seorang wanita yang mulia bernama Rumaysha atau lebih familir di telinga kita dengan sebutan Ummu Sulaim, ibunda dari pelayan Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam, Anas bin Malik Radhiyallahu anhum ajma'in. Merupakan potret bagaimana seharusnya wanita 'zaman now' menentukan kepada siapa ia melabuhkan hatinya. Kepada gemerlap harta, ketampanan dan kedudukan seorang pria atau lebih dari semuanya, keridhoan sang pencipta.

Ummu Sulaim mengawalli keislaman ketika suaminya Malik -ayah dari Anas- masih berada dalam kekafiran. Tetapi dengan hikmah Allah, Malik terbunuh ketika ia sedang keluar rumah karena marah kepada istrinya yang terus-menerus dengan tekad kuat dan iman baja meneriakkan 'Asyhadu allaa ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah'. Sungguh, kematian suami yang masih dalam kekufuran sangatlah memilukan.

Sembari mengharap pahala atas musibah tersebut, sejak itulah Rumaysha menjanda dan Anas kecil menjadi seorang yatim. Ummu Sulaim kemudian ber-azzam untuk tidak menyapih Anas hingga ia sendiri yang melepaskan susu ibunya dan tidak akan meletakkan hatinya kepada lelaki mana pun, hingga anak semata wayang itu menyetujuinya.

Anas kecil lalu beranjak, dan Ummu Sulaim menawarkannya kepada Nabi sebagai pelayan pribadi, sehingga beliau yang mulia menyetujui tawar tersebut. Gembiralah hati Ummu Sulaim karena anak yang ia cinta menjadi pelayan manusia terbaik  di muka bumi, Shallahu 'alaihi wa salam.

Rupanya Abu Thalhah Al-Anshori mendengar kisah hidup Anas bin Malik dan Ibundanya, sehingga suatu ketika Abu Thalhah yang saat itu masih dalam keadaan kafir mendatangi Ummu Sulaim untuk menikahinya dengan membawa mahar yang mewah. Jelas, Abu Thalha merupakan seorang yang bangsawan terpandang.

Abu Thalhah merupakan seorang pria yang mana jika mendatangi seorang wanita, maka mustahil bagi untuk ditolak. Tetapi kenyataan membuat Abu Thalhah harus tersentak dengan jawaban Ibunda Anas. Bersandar pada kemuliaan seorang wanita muslimah ia berkata, 'Sungguh, tidaklah patut aku dinikahi oleh seorang yang musyrik! Tidakkah kau tahu bahwa tuhan-tuhan kalian dipahat oleh keluarga Fulan? Dan jika kalian menyalakan api pada patung-patung itu, niscaya mereka akan terbakar!' [1]

Begitu menohok! Jawaban seorang wanita dengan kemurnian iman yang tidak sedikit pun silau mata hatinya oleh kilau emas dan permata. Kecutlah hati Abu Thalhah karena harus menelan kenyataan pahit. Kemudian ia berlalu.

Rupanya penolakkan tersebut begitu berbekas di hati Abu Thalhah. Matahari boleh berganti, tetapi hati sang bangsawan tepandang tetap pada kecut yang sama. Karena merasa tak puas, Abu Thalha kembali mendatangi Ibunda Anas dengan membawa mahar yang lebih banyak dan menawarkan kehidupan yang begitu megah. Berharap Ummu Sulaim akan luluh hatinya dan bersedia menerima pinangan tersebut.

'Demi Allah kau tidak pantas untuk ditolak, hai Abu Thalhah. Hanya saja kau seorang kafir sedangkan aku wanita muslimah; dan tidak halal bagiku menikah denganmu.' [2] Maka seketika tak berhargalah mengkilapnya emas dan kilau berlian-berlian itu, 'Adapun jika engkau bersedia masuk islam. Maka keislamanmu menjadi maharku dan aku tidak meminta apa-apa lagi.' [3] Ummu Sulaim melanjutkan.

Abu Thalhah terkejut akan kalimat yang begitu menggema di telinganya, bergaung disetiap relung dan menusuk perlahan namun tajam, untuk kemudian menjamah setiap sudut-sudut hatinya dengan hidayah illahi. Perkataan yang membuat Abu Thalhah tertawan dan semakin terpaut dengan kemulian islam. Bagaimana kalimat Laa ilaha illallah tak bisa ditawar dengan harta apapun. Sehingga dengan izin Allah Subhanahu wa ta'ala, Ummu Sulaimlah yang menjadi sebab masuk islamnya seorang sahabat yang mulia bernama, Abu Thalha Al-Ansori. Radhiallahu anhum.

Sampai-sampai Nabi Shallahu 'alaihi wa salam bersabda ketika melihat kedatangan Abu Thalha, 'Abu Thalha mendatangi kalian dengan cahaya islam yang terpancar di antara kedua matanya.' [4]

Tsabit -perawi hadits Anas- mengungkapkan: 'Kami tidak pernah mendengar ada mahar seorang wanita yang lebih agung dari mahar Ummu Sulaim...' [5]

Kemudian Abu Thalhah dan Ummu Sulaim mengarungi taman-taman kehidupan mereka bersama dengan kemuliaan agama yang Rahmatan lil 'alamin. Tidak ada kemuliaan kecuali dengan islam. Hikayat cinta yang menjadi saksi bagaimana kalimat Laa ilaha illallah sungguh lebih lebih berat daripada dunia berikut semua isinya.

Peristiwa yang menjadi titik awal dan mengantarkan Abu Thalhah menjadi seorang sahabat yang mulia. Pria yang terlumuri segenap hatinya dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kami hanyalah menghadirkan sepenggal dari sekian banyak kisah cinta sepasang manusia mulia yang patut untuk disimak dan dijadikan pelajaran bagi umat akhir zaman. Dimana begitu banyak wanita-wanita kita di masa kini, tak lagi menimbang siapa laki-laki yang telah mendatanginya. Begitu pula para pria yang mudah tergoda akan kecantikan seorang wanita, tanpa berpikir apakah wanita tersebut bisa kemudian menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya kelak.

Semoga kita diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala pasangan hidup yang mampu membawa surga ke dalam rumah-rumah kita.

Separuh di Makassar
Separuh di Surabaya, 28.11.2017 | 05:02
Ilham
---
Note:
[1] Dikutip dari Buku Ash-habur Rasul karya Syaikh Mahmud Al-Mishri [dinukil dari Ath-Thabaqat karya Ibu Sa'ad (VIII/416) dan Al-Ishabah karya Ibnu Hajar (VIII/343)]
[2];[3] Dikutip dari Buku Ash-habur Rasul karya Syaikh Mahmud Al-Mishri [Dikutip dari Al-Ishabah karya Ibnu Hajar (VIII/243) dan Al-Hilyah (II/59-60)]
[4] HR. Ath-Thalayisi dalam Musnad-nya (II/159,160)
[5] Dikutip dari Kibat Ash-habur Rasul karya Syaikh Mahmud Al-Mishri (II/XXI/58; Buku Terjemah Pustaka Imam Asy-Syafi'i)

Sumber Gambar:
http://www.seputarpernikahan.com/wp-content/uploads/2017/01/11111426_455532494602380_2031579749_n-e1484123635420.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!