Sabtu, 24 Februari 2018

Kenapa Harus Bertauhid?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُالِلَّهِ رَبِّالعَالَمِيْن, الصَّلَاةُ والسَّلامُ على نَبِيِّ الكَرِيْم

Telah berfirman Allah تبارك وتعالي dalam QS. An-Nisa: 36

...وَأعْبُدُ وأللهَ وَلَا تُشْرِكُوواْ بِهِ، شَيْإً

"Sembahlah Allah saja dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun."

Maka adakah kalimat yang lebih berat dan lebih agung dari  لا إله إلاالله ? Inilah kalimat yang seluruh muslimin ingin hidup dan mati diatasnya. Kalimat yang kesempurnaannya menjamin salah seorang anak adam terbebas dari hisab yang menegangkan dan azab yang amat pedih.

Sebagaimana sabda Nabi kita yang mulia صَلَى اللهُ عَلىْهِ وسَلَم ketika menjelaskan tentang tujuh puluh ribu orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan azab,

[الَّذِىْنَ لا ىَسْتَرْقُوْنَ ولا ىَكْتَوُوْنَ ولا ىَتَطَىَّرُوْنَ وعلى رَبِّهِمْ يَتَوَكِّلُوْنَ]

"... orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempelkan dengan besi yang dipanaskan (kay), tidak melakukan tathayyur dan mereka pun bertakwa kepada tuhan mereka..."[1]

Hadits yang mulia ini menunjukkan diantara sebab-sebab seseorang masuk surga tnapa hisab & azab ialah menyerahkan atau menggantungkan segala urusan kepada Allah  saja yang merupakan esensi dari tauhid.

Ahabbati fillah, inilah kemurnian agama yang tidak akan didapatkan kecuali dengan belajar dari para ulama yang sudah lebih jauh dan lebih dulu mengupas seluk-beluk At-Tauhid.

Pada kesempatan kali ini, -dengan segala keterbatasan ilmu- kami akan coba membagikan kepada saudara-saudari sekalian tentang 4 urgensi At-Tauhid yang mana di antaranya:

1. Tauhid adalah Seagung-Agungnya Ibadah

Hal ini berdasarkan firman Allah تبارك وتعالي dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 - 57:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنِّ وَ الْ اِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُ وْنِ 56 مَآاُرِيْدُمِنْهُم مِّنرِّزْقٍ وَاُرِيْدُاَنْ ىُطْعِمُوْنِ57

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.(56) Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan.(57)"


Berkata Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, "Makna ayat di atas adalah bahwa Allah menciptakan para hamba-Nya untuk beribadah kepada Allah saja, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka barangsiapa yang menaati-Nya ia akan diberi balasan yang sempurna. Dan barangsiapa yang mendurhakai-Nya maka ia akan disiksa dengan seberat-berat."[2]

Hal ini sesuai dengan yang pernah disabdakan Nabi صَلَى اللهُ عَلىْهِ وسَلَم  kepada Mu'Adz bin Jabal:

[(اتَدْرِىْ مَا حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟) قَالَ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمُ. قَالَ (أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْبِهِ شَيْأً) ثُمَّ قَالَ: (اَتَدْرَيْ مَا حَقُّ الْعِبَادِعَلَي اللهِ إِذَا [فَعَلُوْا ذَلِكَ؟أَنْ لا يُعَذِّبُهُمْ

"Tahukah engkau, apa hak Allah yang harus ditunaikan hamba-hamban-Nya?" Mu'adz menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Yaitu mereka harus beribadah kepada-Nya dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun." Kemudian beliau bertanya lagi: "Tahukah engkau, apa hak hamba atas Allah, jika mereka melakukannya? Yaitu Allah tidak akan menyiksa mereka."[3]

2. Menjadikan Takut kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Sebagaimana Allah telah berfirman pada QS. Al-Fathir:28,

... اِنَّمَايَخْشِى اللهَ مِنْ عِبَا دِهِ الْعُلَمَآؤُ ...

"...Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadanya, hanyalah para ulama (orang yang berilmu)..."

Berkata Ibnu Abbas tentang ayat ini, "Syarat bagi seorang untuk dikatakan 'alim tentang Allah yang Maha Pengasih di antara hamba-hamba-Nya, adalah (1) tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, (2) Menghalalkan apa yang Dia halalkan. (3) Mengharamkan apa yang Dia haramkan. (4) Menjaga dan memelihara tuntunan dan wasiat-Nya, dan (5) Menyakini bahwa Dia akan menjumpai dan menghisab amalnya."[4]

Juga sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, "Sebab, setiap kali bertambah pengetahuannya tentang Dia yang Maha Agung, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, maka makin bertambah pula rasa takutnya. Setiap kali pengetahuan dan pemahamannya tentang Allah -Yang disifati dengan sifat yang sempurna dan diiringi dengan Nama-Nama yang baik (Asmaul Husna)- lebih sempurna, maka rasa takut mereka kepada-Nya pun lebih agung dan lebih sempurna pula.[4]

Maka dengan mempelajari tauhid untuk mendapatkan kemurniannya, oleh sebab itulah kita dapat menjadi takut dengan sebenar-benarnya takut kepada Allah. Sebagaimana Allah perintahkan kita untuk takut pada QS. Al-Maidah: 44,

... فَلَا تَخْشَوُالنَّاسَ وَاخْشَوْنِ ...

"... maka janganlah kalian takut kepada manusia, takutlah kepadaku..."

3. Mencintai dan Dicintai Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Suatu ketika, Nabi pernah memerintahkan salah seorang sahabat untuk berperang. Kemudian ketika mengimami sholat, ia selalu menutup bacaan Al-Quran dalam sholatnya dengan QS. Al-Ikhlas. Karena kejadian tersebut berulang-ulang, sahabat yang lain pun menjadi bingung. Sehingga ketika kembali, mereka menceritakan hal tersebut kepada Nabi صَلَى اللهُ عَلىْهِ وسَلَم, kemudian beliau berkata, "Tanyakan kepadanya kenapa dia melakukan hal itu?" Para sahabat mendatangi orang tersebut untuk bertanya, kemudian ia berkata,

[لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا أُحِبُّ اَنْ أقْرَأَ بِهَا]
"Karena di dalamnya berdapat sifat Ar-Rahman (sifat Allah). Sehingga aku pun cinta membaca surat tersebut."

Kemudian Nabi bersabda,

[أخْبِرُوْهُ أنَّ اللهَ يُحِّبُّهُ]
"Kabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya." [5]

Para ulama mengatakan, bahwa tidak mungkin dicapai derajat cinta seperti ini, melainkan dengan memurnikan tauhid, terutama dalam hal Asma wa sifatullah. Sehingga penting kiranya bagi kita untuk mengenal Allah dengan sekenal-kenalnya, guna mendapatkan Fadillah dari kemurnian At-Tauhid. Kemurnian لا إله إلاالله .

4. Diampuni Segala Dosa


Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi dalam Hadits Hasan, Dari Anas bin Malik, Aku mendengar Rasulullah bersada,


قَالَاللهُ تَعَالَى: {يَاابْنَ آدَمَ, لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِىْتَنِىْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْءًا, لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً}

"Allah تعالي berfirman, 'Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa sepunuh jagad, sedangkan kamu ketika mati berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan kepadamu ampunan sepenuh jagad pula'."


Maka apalagi yang dibutuhkan oleh seorang hamba ketika ia sudah dicintai dan mendapat jaminan ampunan dari Rabbnya karena memurnikan Laa ilaha illallah?

Tentu masih sangat banyak keutamaan lain dari kemurnian At-Tauhid. Namun karena sangat sedikitnya ilmu penulis, tak bias dirangkum satu per satu dalam tulisan ini. Sehingga kami berharap yang sedikit ini dapat menjadi motivasi bagi penulis sendiri dan saudara/i yang membaca, untuk senantiasa memurnikan keagungan kalimat Laa ilaha illallah. Kalimat yang lebih berat bobotnya dari tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.

Demikian

اللهم صل علي نبينا محمد و على أله وصحبه اجمعين 
اسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Surabaya, 9 Jumadil Akhir 1439 H/24 Februari 2018


Footnote:
[1] HR. Al-Bukhari & Muslim
[2] Kitab Terjemahan Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8/Hal. 553
[3] HR. Al-Bukhari No. 2856 & Muslim No. 30
[4] Kitab Terjemahan Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 7/Hal. 485
[5] HR. Muslim No. 1547

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!