Rabu, 27 Juni 2018

Harapan untuk Pemimpin dan Diriku (Rakyat)

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji hambanya, siapa yang paling bagus dalam beramal. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang telah Dia berikan sehingga kita mampu mengerjakan amal-amal Sholeh. Semoga Allah terima amal kita dan diganti dengan pahala dari sisi-Nya.

Sholawat dan Taslim semoga selalu tercurahkan untuk hamba kekasih kita. Nabi yang agung Muhammad -Shallahu 'alaihi wa salam-. Karena berkat wahyu yang Allah titipkan kepada beliau sebagai mukjizat terbesar, kita mampu berhijrah dari alam Jahiliyyah menuju kemulian Al-Islam. Semoga Sholawat itu bersambung kepada keluarga beliau dan para sahabat -Ridwahullahu 'alaihim ajma'in-.

اللهم صل و سلم على نبينا محمد وعلى اله والصحابه أجمعين

Jagat sosial media tentulah ramai dengan foto-foto jari kelingking sebagian dari saudara kita yang baru saja menyalurkan hak suara mereka pada Pilkada serentak hari ini, 27 Juni 2018.

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, tentang houum mengikuti demokrasi. Ada yang mengatakan haram secara mutlak -karena tidak berasal dari islam- dan ada yang membolehkan untuk menghindari Mudhorat yang lebih besar. Sebagaimana yang difatwakan oleh Dewan Perhimpunan Fatwa Al-Irsyad pimpinan Dr. Firanda Andirja, MA, bolehnya menyalurkan hak suara dengan syarat-syarat yang dibenarkan.

Untuk lebih jelasnya silahkan teman-teman seklian baca disini.

Kami pun cenderung mengikuti fatwa tersebut karena kefakiran dalam berilmu. Tetapi jika dalam kondisi kami tidak mengenal calon yang ada, kami lebih cenderung untuk tidak menggunakan hak suara. Baik, itu semua adalah pilihan Anda sendiri, untuk mengikuti fatwa yang lebih menenangkan hati. Ndak usah ribut-ribut ya.

Apa yang hendak kami sampaikan ialah, sebuah harapan dari rakyat biasa yang fakir ilmu kepada Allah yang maha luas ilmu-Nya, untuk pemimpin kami.

Semoga Allah jadikan dari Pilkada serentak tahun ini, pemimpin-pemimpin yang bertakwa, amanah dan mengindahkan syariat islam. Serta Allah lahirkan saat ini dan seterusnya, pemimpin-pemimpin terbaik dari kalangan Mukminin. Sehingga Allah jadikan Indonesia Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur (negeri yang baik dengan Rabb yang maha pengampun).

Kemudian sebuah ajakan kepada saudara-saudariku di seluruh penjuru Indonesia, mari kita doakan pemimpin kita. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Fudhail bin Iyadh, "Jika aku mempunyai satu doa yang mustajab, maka akan digunakan untuk mendoakan pemimpin."
Sesorang bertanya, "Kenapa begitu, wahai imam?"
Beliau -Rahimahullah- menjawab, "Karena jika kugunakan untukku, maka kebaikan itu hanya untuk diriku. Tetapi jika kugunakan untuk pemimpinku, maka kebaikan itu untuk seluruh rakyat dan negeri." MasyaAllah, sebuah nasihat emas dari Salaf kita.

Maka hendaknya, saudaraku, janganlah menyibukkan diri kita dengan membuka aib-aib pemimpin. Menjelek-jelekkannya baik di dunia nyata maupun di media sosial. Sadarkan kita bahwa itu sudah termasuk Ghibah? Dosa yang begitu menjijikkan seperti memakan bangkai saudara sendiri? Maka kami berlindung kepada Allah dari perbuatan ini.

Al-Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair mencantumkan berkhianat kepada pemimpin sebagai dosa besar ke-40. Beliau menyampaikan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Fitan, Bab Qoul An-Nabi,

"من كره من اميره شئا فليسبر, فإنه من خرج من السلطان شبرا مات ميتة جاهليه"

"Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar. Karena barangsiapa yang keluar dari keataan kepada pemimpin (sejauh sejengkal sekalipun, lalu dia mati), maka dia mati dalam keadaan Jahiliyah."

Kami bukan ingin menghukumi orang-orang yang menghina pemimpin mati dalam keadaan Jahiliyyah karena ini perkara yang perlu cabang-cabang pendalilan lain. Adapun yang hendak kami sampaikan ialah, hendaknya kita bersabar.

Tentu banyak sekali ayat Al-Quran yang mengatakan "Taatilah Allah & Rasul-Nya serta pemimpin diantara kalian..." begitu juga dengan Hadits nabi, "Barangsiapa menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya." (Riwayat At-Tirmizi)

Biarlahkan ulama yang faqih tentang agama ini untuk menasihati pemimpin. Itu pun dengan cara yang hikmah untuk menjaga kerhormatannya. Bagaimana dengan kita yang tidak berilmu? Lantas menghujat, menghina dan bergampang-gampangan dalam menekan tombol Share dari laman-laman media yang tidak bertanggung jawab akan diri kita kelak dihadapan Allah. Perkara Ghibah ini berat, saudaraku.

Kami pun mungkin bukan orang yang suci dari Ghibah. Tetapi sebaiknya mulailah kita berlepas dari dari perkara ini.

Ingatkan dengan Hadits Nabi yang mengatakan tentang orang yang bangkrut? Orang yang begitu banyak amal kebajikannya, tetapi habis karena diberikan kepada orang yang telah di-Ghibah, kemudian ia dilemparkan kepada neraka? Wa Naudzubillah.

Kami memang bukan orang yang suci. Kami hanya peduli kepada saudara-saudari kami yang sering sekali bermusuhan, berdebat di media sosial dengan melemparkan hinaan demi hinaan.

Sadarilah, pemimpin kita itu punya tuhan sebagaimana kita punya tuhan yang sama. Jika mereka Dzalim, mereka akan dihukum. Sebagaimana jika kita Dzalim terhadapnya kita juga akan dihukum. Tunaikan hak kita sebagai rakyat, maka kita akan mendapat pahala sekalipun mereka (pemimpin) tidak menunaikan kewajibannya terhadap kita. Dan tentu mereka akan dihukum. Allah maha adil saudaraku, dipundak para pemimpin kita sudah ada malaikat yang mencatat. Tidak terlewat satu huruf dari lisannya, kecuali akan termaktub dalam catatan amalnya.

Semoga kita semua dapat menjadi rakyat yang bijak.
Semoga Allah berikan kepada kita pemimpin yang terbaik dari kalangan umat ini.

اللهم صل و سلم على نبينا محمد

وألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
---




Footnote:
- Kami menyampaikan dalil dari yang pernah didengar dari guru kami. InsyaAllah Shahih. Silahkan dicek kembali kebenarannya dan ingatkan jika ada yang keliru.

Sumber Gambar:
https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjmkuORjPTbAhVXWX0KHSADC0cQjRx6BAgBEAU&url=http%3A%2F%2Fstyle.tribunnews.com%2F2016%2F11%2F03%2Fldii-larang-atributnya-dibawa-bawa-saat-demo-4-november-ini-alasannya%3Fpage%3D2&psig=AOvVaw3zLFsRcXlp-GAGvvGnwTkM&ust=1530197502486099

2 komentar:

  1. Asyik tulisannya. Runut banget. Maksih atas sharing nya. sukses untuk anda dan semoga bisa seproduktif abah DI dalam menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungan & doanya yang baik. Pasti lihat dr kolom komen disways ya. Hehe

      Hapus

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!