Senin, 24 Agustus 2020

Risalah Nubuwah #2: Bersabar di atas Ujian

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada hamba-Nya yang ia kehendaki. Sehingga ketika kami menulis ini sebagai wasilah menyampaikan kebaikan, ialah karena taufik-Nya semata.

Delapan bulan sejak tulisan terakhir sebelum ini, telah begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kami. Dan semoga apa yang akan kami tulis ini dapat memberikan manfaat bagi diri kami pribadi secara khusus dan umumnya kepada para pembaca.

Qoddarallah wa maa sya'a' fa'ala

Hingga detik ini pandemic Covid-19 belum juga pergi dari bumi yang kita cintai. Bahkan atas takdirnya jualah tren kasus Covid-19 terus bertambah. Nas'alulllaha assalamah wal'afiyah. Semoga Allah menjaga kita semua dari keburukan makhluk yang ia ciptakan.

Setiap yang Dia kerjakan, pasti mengandung hikmah, baik kita mengetahuinya maupun tidak kita ketahui.

Mulai dari malam-malam Ramadhan yang telah lalu berbeda dari biasanya, sampai pelaksanaan ibadah haji yang begitu sepi. Kajian-kajian ilmiah virtual, hingga sholat berjam'ah dengan shaf-shaf yang renggang.

Ternyata semua itu adalah nikmat.

I'tikaf di malam Ramadhan adalah nikmat, sholat berjama'ah adalah nikmat, menghadiri kajian ilmu dan berkumpul dengan orang-orang sholeh adalah nikmat.

Beberapa nikmat yang Allah hendak beri tahu kepada hamba-Nya yang mungkin selama ini sudah pudar kepekaan dalam menyadari semua itu adalah nikmat. Masyaallah.

Sekian muqaddimah dari tulisan ini.

 

Walhamdulillah pada  Sabtu, 8 Agustus 2020 yang lalu kami menghadiri kajian ilmiah yang disampaikan oleh guru kami Ustadz Nur Cholis Hafidzahullah yang diambil dari kitab Syarh Tsalatsatill Ushul buah karya Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh Hafidzahullah.

Kami mendengar suatu hikmah dari potongan kajian tersebut berkaitan dengan Bersabar di atas gangguan.

Syaikh menulis,

  

Permasalahan Keempat: (Sabar terhadap gangguan dalam berdakwah). Setelah dakwah, datang kewajiban keempat yaitu sabar. Maka yang telah mengetahui (agama) kemudian mengamalkan kemudian berdakwah, wajib baginya bersabar atas gangguan. Karena sunnatullah 'azza wajalla yang menjadikan para nabi dan para rasul -yang mana mereka adalah sebaik-baik ciptaan dan memiliki derajat yang tinggai- merupakan manusia yang paling sulit dan berhadapan dengan ujiannya. Mereka bersabar untuk berpaling dari orang-orang kafir dan bersabar terhadap gangguan. Maka mereka mendapat apa yang telah mereka dapatkan (dari kebaikan). Maka para da'i perlu untuk bersabar sebagaimana sabarnya para rasul. Bahkan Nabi Shallahu 'alaihi wasalam diperintah untuk mengikuti orang-orang yang bersabar (dari kalangan Rasul) dengan firman Allah, "Maka bersabarlah sebagainya mana terlah bersabat Ulul Azmi dari kalangan Rasul dan janganlah kamu tergesa-gesa untuk disegerakan (azab) bagi mereka (orang-orang kafir)" [Al-Ahqof:35]

Maka sabar sangat penting bagi yang telah mengetahui (agama), kemudian mengamalkan dan berdakwah. Jika dia tidak bersabar, maka dia akan menjadi gelisah karena orang-orang yang tidak yakin (orang kafir). Allah 'Azza wajalla berfirman, "Bersabarlah! Sesungguhnya janji Allah ada pasti. Dan janganlah orang-orang yang tidak yakin (terhadap kebenaran ayat-ayat Allah) membuatmu gelisah." [Ar-Rum:60] Dan Nabi Shallahu 'alaihi wasalam mewanti-wanti kepada sahabatnya yang tegesa-gesa, "Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang tergesa-gesa".

Pembaca sekalian, setelah mempelajari agama Allah, mengerjakannya dan mendakwahkan kepada manusia, kesabaran menjadi menyempurna bagi kita untuk teguh di atas aqidah yang mulia ini. Sabar adalah ibadah yang agung. Sebagaimana Allah mengatakan bahwa Dia menyertai orang-orang yang sabar.

Maka diantara hikmah yang dapat kita ambil, ialah kesabaran dapat menjadikan orang yang melakukannya mendapatkan derajat dan balasan yang tinggi di sisi Allah. Sebagaimana para nabi dan rasul ialah manusia yang paling diberikan ujian oleh Allah dan mereka bersabar di atasnya.

---

Kemudian Ustadz Nur Cholis menukil dari kitab Syarh Tsalatsatil Ushul yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-'Utsaimin Rahimahullah. Sabar dalam berdakwah itu ada 3 jenis:

1. Sabar terhadap gangguan

Sudah menjadi sunnatullah barangsiapa yang berada dalam kebeneran, niscaya Allah akan mengujinya. Ahlul Haq akan diganggu oleh Ahlul Bathil. Ahlu Tauhid akan ditentang oleh Ahlu Syirik. Pengikut sunnah akan selalu berseberangan dengan pengekor hawa nafsu yang berkarat dengan bid'ah mereka.

Allah berfirman,

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan 'kami beriman' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut:2)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

Referensi: https://tafsirweb.com/7228-quran-surat-al-ankabut-ayat-2.html

2. Sabar di jalan dakwah

Seseorang yang berada di jalan dakwah sudah pasti akan merasakan keletihan, rasa bosan hingga keputusasaan. Maka tidak boleh seorang da'i meninggalkan jalan dakwahnya karena godaan syaiton tersebut.

Jika karena keterbatasan ilmu seorang tidak bisa menyampaikan kepada khalayak umum, maka ia tetap wajib berdakwah kepada orang-orang terdekatnya. Orang tua, istri/suami, keturunan dan sanak kerabat merupakan objek-objek dakwah yang kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.

Sungguh menyelamatkan sanak kerabat kita dari jurang kesyirikan dan bid'ah, lebih utama dari meninggalkan harta waris yang banyak.

Jangan sampai kelak ketika datang di hari kiamat, kita bermusuh-musuhan dengan orang-orang yang kita berkasih sayang dengan mereka selama di dunia. Karena kasih sayang yang tidak didasari takwa kepada Allah.

Wal'iyadzubillah.

3. Sabar terhadap topik dakwah

Seluruh nabi dan para rasul tidak diutus kecuali untuk menyeru kepada umat agar menyembah Allah. 

"Dan sungguh kami telah mengurus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyeru): "Sembahlah Allah saja dan jauhilah Thogut" (QS. An-Nahl:36)

Inilah inti dari dakwah. Pondasi dalam mensyiarkan agama Allah. Bukan membahas apa yang disenangi umat. Apakah dakwah dengan adab dulu? Ahsan. Adab yang tertinggi adalah adab kita kepada rabbul 'alamin, yakni bagaimana kita mengesakan tanpa menyekutukannya dengan suatu apapun.

Bukan tidak boleh seorang membahas fiqh, birul walidain, rumah tangga, tazkiyatun nafs dan lain sebagainya. Tetapi sisipkanlah pesan kepada umat bahwa semua seruan ini ialah dalam rangka menyembah Allah saja.

Dakwah tauhid memang memecah belah. Memecah belah antara ahlul haq dengan keimananya kepada Allah dan ahlul bathil bersama persekutuannya.

---

Kemudian beliau menambahkan faidah lainnya, bahwa tidak mesti bagi seorang da'i untuk melihat buah dari dakwahnya ketika dia masih hidup. Dan ini sebab pentingnya sabar dalam dakwah. Karena bisa jadi buah dari dakwahnya baru berdampak ketika seorang dari itu telah meninggal.

Dan beliau memberikan nasihat kepada kami untuk menjadi orang tua yang bersabar dalam mendidik anak. Cari sebab-sebab yang baik untuk mendidik anak tapi jangan bergantung dengan sebab tersebut. Jangan berpasrah pada ma'had yang mahal dengan fasilitas lengkap, jangan merasa lega dengan pondok pesantren yang akan mencetak anak-anak islami.

Jadikan ma'had sebagai wasilah dan bertawakal, bergantunglah hanya kepada Allah dan bersabar. Karena Allah yang menggenggam dan membolak-balik hati.

Kemudian beliau bercerita tentang seorang perjalanan hidup seorang da'i yang telah kita ketahui dan dirujuk pendapat-pendapatnya. Seorang anak masa kecilnya menempuh pendidikan umum dan datang jauh-jauh dari Sorong Papua untuk belajar teknik di salah satu Universitas di Yogyakarta, kemudian memutar stirnya untuk belajar agama sehingga beliau menjadi lulusan S3 Universitas Islam Madinah yang kita kenal dengan Dr. Firanda Andirja As-Soronji.

Itu adalah bagaimana Allah membolak-balik hati hamba-Nya.

Wabillahi waufik walhamdulillah.


Surabaya, 4 Muharrom 1442H

Abu Fatimah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak "nyasar", maka tak kenal. Ayo tinggalkan kesan!